Para pejabat Rektorat UGM tak pernah kehabisan ide untuk mendatangkan uang. Mulai dari menyewakan gedung-gedung berkapasitas besar untuk resepsi pernikahan (sehingga UGM dijuluki Universitas Gedung Manten) sampai mematok sumbangan pendidikan hingga ratusan juta rupiah (sehingga UGM dikenal dengan Universitas Gede Mbayare). Berbagai divisi bisnis seperti Hotel University Club, Wisma MM UGM, Gama Techno, Swara Gama, Apotek UGM, dan Gama Logistik-pun telah menjadi lumbung pemasukan.

Tapi kenapa para pejabat itu belum juga merasa puas dengan raupan miliaran rupiah dari berbagai bisnis yang telah dikelola, sehingga mulai hari ini (1/2/2011), diberlakukan tagihan buat para pengendara yang melewati kampus UGM. Portal-portal didirikan di beberapa tempat sekitar kampus. Di pintu masuk pengendara diberi karcis, dan di pintu keluar  uang ditagih (Rp. 1.000,- untuk sepeda motor dan rp. 2.000,- untuk mobil).

Sebenarnya, buat yang punya kartu parkiran (KIK), tagihan ini tidak diberlakukan. Tapi KIK hanya diberikan kepada civitas akademika aktif seperti dosen, pegawai, dan mahasiswa. Sementara buat masyarakat umum, termasuk juga alumni siap-siaplah merogeh kocek uang ribuan.

Trik yang dilakukan oleh UGM-pun sangat jitu. Portal mulai dipasang pada awal tahun 2010. Mendekati bulan Ramadhan (Juli – Agustus 2010), pemberian karcis diujicobakan. Memasuki semester baru 2010/2011,  Satpam  mulai agresif memberikan karcis masuk hingga antrian semakin panjang ketika jam-jam padat kuliah.

Riak-riak penolakan mulai terdengar. Tapi masih sebatas wacana mau aksi. Sementara itu, para aktivis mulai sibuk dengan PEMIRA pada akhir tahun 2010. Hingga akhirnya tanggal 1 Februari 2011 ini, kebijakan tarif mulai diterapkan. Tadi memang terlihat aksi beberapa aktivis kampus di Bunderan UGM. Tapi tak terlalu massif, karena sekarang lagi liburan semester. Para mahasiswa banyak yang pulang kampung. Jadinya, peraturan ini berjalan tanpa perlawanan berarti.

Terasa aneh, masak lewat  saja harus bayar? Bukankah pajak rakyat yang dipakai buat membangun UGM hingga jadi semegah sekarang. Terus, apa alasan logis untuk memungut tagihan liar yang dilegalkan ini???

Apakah tidak cukup keuntungan dari berbagai bisnis yang dijalankan oleh universitas dan dana APBN yang diberikan pemerintah, hingga UGM terpaksa mengumpulkan uang receh seribu – dua ribu rupiah untuk menutupi biaya operasionalnya?

Tidak menjadi masalah ingin menjadi Entepreneurship University. Tapi memakai cara-cara tradisional, dengan trik memunggut bayaran dari kendaraan yang lewat di UGM, sungguh memalukan. Apalagi UGM dihuni oleh orang-orang hebat, ratusan Professor Doktor dari berbagai bidang keilmuan. Apakah tidak ada cara yang lebih cerdas daripada memberlakukan peraturan lucu ini???

Kalau sekarang masuk UGM aja dipunggut biaya, bisa jadi nanti kalau pakai toilet UGM juga dimintain restribusi. Ayo bergerak kawan-kawan UGM. Bagi yang lagi di kampung, ayo segera ke Jogja. Biar ngak berketerusan kebijakan-kebijakan aneh di UGM.

Iklan