Gembira ini hanya sekedar euforia. Bagai hembusan angin, yang berlalu cepat pergi meninggalkanku. Tak ada tangis, tak ada lagi air mata. Karena aku sudah terbiasa dengan penolakan-penolakan seperti ini.

Aku tetap kukuh dengan caraku menyampaikan rasa suka kepada seseorang. Karena aku tak ingin terjebak pada dilema fitnah pacaran, yang bisa membutakan hati dan perasaan.

Jika tak peduli, buat apa menanti. Jika tak ada uluran tangan menerima, buat apa pula berduka. Hidup terus berjalan, meskipun cinta yang kujalani berakhir dengan tepukan sebelah tangan. Masih banyak hal yang harus kulakukan selain memikirkan soal cinta-cintaan.

Aku yakin Tuhan tidak akan menghukumku karena aku melupakan sementara keinginan untuk menikah. Karena Tuhan tahu kapan waktu yang tepat bagiku untuk menunaikan sunnah Nabi itu.

Aku punya jalan hidupku sendiri. Yang mungkin tak dipahami oleh banyak orang. Tapi aku percaya, suatu saat aku benar-benar akan menemukan Bidadari hatiku. Jika tak di dunia, di surga-pun tak mengapa.

Tan Malaka mengajarkanku akan makna sebuah cinta. Jangan mengikat wanita, kita tak sanggup memberikan kebahagiaan karena diri yang terus diburu oleh derita.

Selalu kusampaikan bait ini kepada gadis yang sedang kudekati:

Bila dikau berikan harapan, izinkan aku ntuk mempersiapkan diri agar pantas menjadi sosok spesial dalam hidupmu…

Karena aku tak ingin menyengsarakan dia di tengah himpitan hidup yang bisa membuat gila. Kalau tak ada sambutan, akupun akan menerima semua dengan lapang dada.

Satu hal yang membuatku kuat adalah sms Pak Iwan beberapa hari lalu yang masih tersimpan di handphoneku:

Jan risau lai. Katibo juo wakatunyo. Anggun ka dicari urang. Basilang carano ka datang. Apolai kalau lah “baisi”. Balam kawanyo Balam. Sairiang sajalan.

(Jangan merasa risau. Akan tiba waktunya. Anggun akan dicari orang. Bersilang carano yang akan datang. Apalagi kalau sudah jadi orang berilmu. Burung Balam jodohnya burung Balam. Seiring sejalan.)