Pertemuan yang tak diduga…. Renunganmu mempesona… Memukau hati dan minda… Menerbitkan suatu rasa di jiwa… Gemuruh tiba-tiba jiwaku… Gentar menyambut salam darimu… Tidak terlahir kata-kata… Senyuman pengganti bicara… Hadirnya kau dalam hidupku… Membawakan sinar baru… Dan kini rindumu… Sering datang untuk bertemu… (Gelora Asmara – Siti Nurhaliza)

Kemarin siang aku ditelpon oleh Qusthan, adik  kelas di Filsafat UGM yang saat ini bekerja di Jakarta, untuk urusan penerjemahan Buku “Manusia Minangkabau” Pak Iwan ke dalam Bahasa Inggris. Di sela-sela pembicaraan serius, aku kaget atas pengakuan Qusthan bahwa dia sudah menikah. Tak ada angin, tak ada hujan. Undangan di facebook-pun tidak ada.

Beberapa minggu yang lalu, akupun tersentak melihat foto wedding temanku satu angkatan di UGM, Oce Madril. Padahal setahu-ku Oce sedang menyelesaikan S2 di Jepang. Tapi tiba-tiba saja foto-foto kerennya dengan pakaian adat Minang terpampang gagah di  facebook.

Ya, satu per satu temanku telah melepas masa lajang. Mereka adalah teman-teman hebat yang pernah kukenal. Qusthan adalah aktivis HMI yang pas mahasiswa dulu sempat ke Jerman atas kemenangannya dalam lomba karya tulis ilmiah tingkat internasional. Oce adalah aktivis KAMMI yang beberapa tahun belakangan ini tulisan-tulisannya sering muncul di berbagai media nasional.

Sementara aku masih saja berjuang di kamar sepi ini. Bergulat dengan seabrek naskah buku demi mencari sesuap nasi. Sambil belajar bahasa Inggris demi harapan bisa kuliah di luar negeri. Sungguh tak ada yang kubanggakan. Hanya pertemuan dengan orang-orang hebat seperti Prof. Mestika Zed (Sejarawan UNP) beberapa waktu lalu di UC UGM ataupun dengan Prof. Yunahar Ilyas yang selalu menyalamiku setiap selesai memberikan ceramah Kamis Pagi di PP. Muhammadiyah yang membuatku terus optimis menjalani hidup.

Malam ini aku kembali mengantungkan sebuah harapan lewat perkenalan dengan seorang gadis baik sesama orang Sumatera. Perkenalan tak terduga karena bantuan dari Mbak Alfina Dewi, sang penulis “Aura Cinta Naura“. Memang ini baru perkenalan awal, tapi aku merasa tentram setiap chat dengannya. Meski aku tak tahu apa ujung dari cerita ini. Semuanya telah kuserahkan kepada Allah.

Alunan “Gelora Asrama” yang dibawakan Kak Siti Nurhaliza, semakin menghayutkanku bersama malam nan syahdu.

Aku sadar, masih tersisa luka di masa lalu. Namun, aku telah menguatkan jiwa untuk melupakan semua. Karena aku ingin datang kepadanya membawa hati yang baru. Tiada yang kusembunyikan, aku hadir dengan apa adanya diriku. Tak ingin aku bertopeng dan bersandiwara di hadapannya, karena kuyakin lewat kejujuranlah cinta akan menjadi abadi.

Aku hanya berharap dan menunggu jawabannya. Semenjak malam ini aku ingin menjadikan dirinya sebagai inspirasi baru dalam hidupku, sampai detik dia bersedia untuk menemaniku…

Makasi buat keindahan yang dikau hantarkan di malam ini, duhai Bidadari…