Sehabis sholat Ashar kemarin sore, aku dikejutkan oleh teman-teman yang ribut-ribut di luar. Aku segera keluar dari kamar, mencari tahu apa gerangan yang terjadi. Beberapa saat kemudian telpon asrama berdering. “Mas, ini dari rumah sakit Panti Rapih. Mas ***** dan Mas ***** sekarang ada di ruang IGD. Mohon segera ke sini ya…” Sontak saja aku kaget, karena selang beberapa menit yang lalu, dua teman yang sedang dirawat instalasi gawat darurat itu meminjam motorku.

Dengan meminjam motor tetangga kamar, aku segera meluncur ke rumah sakit sendirian. Langsung menuju IGD. Tahu kedua teman yang meminjam motorku itu tidak menderita luka parah, akupun bisa bernafas lega. Soal motor, itu soal belakangan. Yang penting teman-temanku selamat.

Beberapa saat kemudian, polisi-pun datang.  Mengurusi sengketa kecelakaan, sambil menyerahkan surat penyitaan. Insya Allah, besok administrasi dengan pihak kepolisian akan diurus. Mudah-mudahan motor bisa keluar, dan tidak mengalami kerusakan berarti. Amien…

Setiap menemui kejadian kecelakaan, memori lamaku tiba-tiba hadir kembali. Sebuah musibah yang terjadi belasan tahun yang lalu, persisnya saat aku masih menginjak kelas 2 SMP. Mobil yang dikendarai Bapak, ketika kami akan berangkat ke Danau Singkarak untuk “Balimau” sehari menjelang puasa Ramadhan tahun itu, bertabrakan dengan Bis APD jurusan Bukittinggi – Jakarta. Masih segar dalam ingatanku, darah yang berceceran dari kepada Bapak. Masih jelas dalam ingatan, Husnul, adikku yang nomor 4, tak sadarkan diri dengan sekujur tubuh yang memar karena benturan hebat. Aku sendiri yang juga ikut dalam mobil, hanya menderita sedikit luka di hidung. Sementara 2 adikku yang lain tidak apa-apa, dan 2 tetangga yang ikut bersama rombongan kami mengalami luka di kepala.

Aku tak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Ibu kala itu. Harus mengurus suami yang luka parah di sekujur tubuh dan anak yang baru berumur 4 tahun dalam keadaan koma berhari-hari. Belum lagi pihak Bis APD yang ingin melepas tanggung jawab atas kecelakaan yang terjadi.

Aku bisa melihat wajah keletihan,  bercampur dengan marah dan sedih di raut wajah ibu kala itu.  Tapi, Ibuku memang sosok wanita yang kuat. Ia masih saja mampu bertahan berjaga di rumah sakit,  menyabangi Adik dan Bapak yang berbeda ruangan. Belum lagi berhadapan dengan manajer Bis APD yang bicara seenak hatinya.

Kecelakaan kemarin sore, memang tak separah kecelakaan yang dulu pernah dialami keluargaku. Tapi, paling tidak mengajarkanku banyak hal. Mulai dari menenangkan teman yang kecelakaan, berkompromi dengan pihak keluarga yang bertabrakan dengan temanku, sampai mengurus administrasi rumah sakit.

Meskipun ada suara sinis yang mencapku sebagai pahlawan kesiangan, tidaklah membuatku marah. Terserah mau dianggap sebagai cari muka atau apalah. Hatiku hanya Tuhan dan diriku saja yang tahu.

Semoga kejadian ini membuatku semakin dewasa. Menjadi pelajaran berharga buatku ke depan jika menghadapi kasus yang sama. Terima kasih Ya Allah atas pelajaran yang Engkau berikan beberapa hari ini. Karena lewat teguran inilah, aku bisa kembali sadar akan makna persahabatan, menerima musibah dengan ikhlas, dan mengingatkanku akan maut yang bisa merenggut nyaawa seseorang sekilat mata memandang.

So, jalanilah hidup sebagai dengan sabar dan kemarahan. Karena lewat sikap baiklah Allah akan memudahkan urusan kita dan simpati serta pertolongan orang lain  akan berdatangan. Buat dua temanku yang saat ini sedang sakit, mudah-mudahan segera sembuh ya. Soal motor, ngak usah dipikirkan. Karena tinggal service, bisa dipakai lagi. Kalaupun rusak parah, insya Allah akan memberikan rizki dari jalan yang tidak disangka-sangak.

Tetap temui pagi dengan senyuman, karena lewat duka dan laralah hanya sementara. Sedangkan kebahagiaan lebih sering menaungi kehidupan kita. Jangan lupa Allah… Jangan durhakai Allah. Karena hidup di dunia ini fana dan kita harus mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan di pengadilan akhirat nanti. Btw, tetap semangat Gun….:)