Dalam beberapa kesempatan mempromosikan “Print On Demand” (POD) kepada beberapa dosen dan beberapa kenalan di milis, mereka terkejut dan sangat antusias. Betapa tidak, dalam bayangan mereka menerbitkan buku adalah proses yang rumit. Mulai dari menyiapkan naskah, melego ke penerbit, sampai proses editing menjelang diputuskan layak cetak yang memakan waktu berbulan-bulan. Belum lagi ketidakpastian apakah naskah yang dikirim diterima dan persoalan royalti yang lebih menguntungkan penerbit daripada penulis.

Kebanyakan mereka adalah orang-orang yang suka menulis. Bahkan sudah punya sederetan naskah yang siap diterbitkan. Namun, karena keder duluan berhubungan dengan penerbit akhirnya mereka mengurungkan niat mengonversi naskah menjadi buku.

Awalnya mereka tidak percaya ketika saya menyampaikan sistem POD dalam menerbitkan buku. Setelah saya buktikan dengan meminta naskah mereka, kemudian saya buatkan cover dan  edit selama semingguan, barulah mereka percaya dan tersenyum lebar. “Impian lama akhirnya terwujud hari ini”, begitu ujar salah seorang dari pemilik naskah yang saya bantu beberapa waktu lalu.

Melihat peluang bisnis dari penerbitan dengan sistem POD ini, beberapa orang mencoba untuk menawarkan jasa penerbitan buku dengan sistem “cetak buku sesuka hatimu”. Sebutlah nama Gre Publishing, Leutika, Indie Book Corner, dan Nulisbuku, sebagai contoh dari dinamika baru dalam dunia penerbitan di Indonesia itu. Masing-masing memberikan jasa menarik, mulai editing, layout, pembuatan cover, pengurusan percetakan, pengurusan ISBN, sampai pemasaran. Yang membedakan penerbitan gaya baru ini dari “penerbit konvensial” adalah terkait biaya yang ditanggung oleh penulis. Hal ini tentu tidak terlalu memberatkan karena penulis bisa menjual bukunya dengan harga yang pantas, tanpa harus ribet memikirkan pembagian persenan dengan penerbit. Keuntungan murni untuk sang penulis.

Selain dilirik oleh “penulis-penulis pemula” dan “penulis berpengalaman tapi belum berhasil menembus penerbitan konvensional”, ternyata jasa POD ini menjadi angin segar bagi para dosen. Bayangkan saja, menerbitkan satu buku dihargai 40 kredit point (kum). Jauh lebih tinggi dibandingkan menulis di jurnal yang dinilai 18 kredit point.

Belum lagi berita baik ini massif beredar di kalangan dosen, terdengar kabar akan ada kebijakan tidak mengakui keberadaan buku-buku hasil self publishing ini sebagai kredit point. Saya pribadi berharap, semoga hal ini tidak terjadi. Karena hanya melanggengkan situasi kebekuan suasana akademis. Sudah menjadi rahasia umum, para dosen di Indonesia miskin karya. Beban mengajar lebih banyak daripada research. Kalaupun ada yang melakukan reseach, kebanyakan hanya disebarkan dalam bentuk laporan penelitian. Karena tema yang diangkat tidak marketable, tentu saja penerbit-penerbit konvensional malas menerbitkan.

Kalau pertimbangan tidak mengakui buku-buku cetakan self publishing adalah demi penjaminan mutu, rasanya seperti menepuk air di dulang. Omong kosong dengan kualitas, kalau misalnya insentif research dan jam mengajar lebih padat daripada penelitian. Dosen saya yang pernah kuliah di AS, bercerita dosen-dosen di sana mengajar satu semester kemudian satu semester berikutnya diberikan waktu luang untuk penelitian. Di Indonesia, boro-boro mau memberlakukan kebijakan itu, malah banyak dosen semakin memadatkan jam mengajar  dengan mencari sabetan di luar kampus utamanya.

Jika geliat penulisan buku yang dikobarkan oleh Self Publishing ini juga diberangus, sungguh sangat disayangkan. Kualitas memang penting. Tapi kualitas juga membutuhkan proses. Mungkin kualitas buku-buku self publishing masih dinilai kurang layak. Tapi seiring waktu dan dinamika pasar, tentu para penulis dari kalangan dosen ini akan terus memperbaiki diri. Sehingga mereka bisa menghasilkan karya-karya yang diminati oleh khalayak dan dengan mutu yang mumpuni. Kalau geliat ini sudah dibunuh sebelum berkembang, kapan lagi dosen-dosen Indonesia akan berkarya???

Jasa layanan penerbitan telah menjadi lahan bisnis baru. Mungkin sekarang baru beberapa yang eksis. Tapi, tidak mungkin beberapa bulan lagi hadir puluhan penyedia layanan penerbitan POD, yang pada titik tertentu akan melahirkan persaingan. Kita tentu tidak ingin persaingan ini menjadi tidak sehat sebagaimana yang kita saksikan pada penerbitan konvensional. Self publishing bermula dari  keinginan untuk bebas dari belenggu penerbit konvensional. Oleh karena itu, ia harus kita bangun dengan semangat kemerdekaan juga.

Jasa penerbitan self publishing bukan semata-mata dibangun atas dasar nilai-nilai bisnis. Tapi ada capaian yang lebih jauh yang hendaknya dijunjung bersama, yaitu bagaimana setiap orang di negeri ini bisa membuat dan menikmati buku tanpa harus dibebani “berhala-berhala” penerbitan yang menghambat kemajuan. So, teruslah berjaya self publishing…:)