Ayo semangat…saya juga lagi berusaha untuk bisa kuliah di luar negeri..kadang masa lalu akan cinta memang menyakitkan tetapi tenang aja..cinta yang lain pasti akan datang hehehe (Asni – Sekretaris Negara RI)

Komentar di atas singgah di blog ini kemarin sore. Kucuba mencari siapakah gerangan sosok yang mengirimkan? Setelah searching sebentar di facebook, akhirnya aku tahu  siapa “bidadari baik hati” itu.

Ketika menghadapi kesedihan dan kepahitan di dunia nyata, blog inilah yang menjadi tempat menumpahkan semua. Seringkali simpati hadir. Memberikan semangat baru dan membuatku bangkit lagi dari keterpurukan.

Itulah kenapa aku sering mengompori teman-teman untuk membuat blog. Tak usah memuat artikel-artikel serius yang sudah membuat kepala pusing sebelum mengetikkannya. Tulis saja pengalaman pribadi dan kejadian sehari-hari. Karena apa yang kita alami tentu akan lebih mudah dituangkan dalam tulisan daripada membuat sebuah artikel dengan sederet catatan kaki.

Mungkin akan datang cemoohan dan cibiran. “Ah, tulisan kek gitu kok diupload di blog. Lebay… Cenggeng…” Tapi biarkanlah komentar-komentar negatif itu datang. Karena begitulah hidup yang dibelit antara senang dan benci.

Namun yakinlah, di dunia ini banyak orang-orang baik yang bersimpati dengan apa yang kita alami. Ada sosok seperti Mbak Asni yang mau peduli dan meninggalkan sebuah pesan yang membuat dunia ini cerah kembali.

Dan percayalah, ketika membawa pengalaman pribadi yang semula hanya berkelindan di pikiran dalam sebuah tulisan, sesungguhnya kita telah menjadi “sejarawan”, yang mengabadikan realita dalam berita. Dari catatan harianlah pak Habibie bisa membuat sebuah novel fenomenal, “Habibie dan Ainun”. Dari hal-hal yang remeh-temehlah JK Rowling bisa melahirkan “Harry Potter” yang akhirnya menjadi novel best seller dunia.

Ngeblog bagiku adalah terapi jiwa atas gundah yang menyelimuti jiwa. Bisa berkenalan dengan orang-orang hebat dari belahan bumi lain yang tiba-tiba datang sebagai pemberi inspirasi dalam hidup ini adalah sesuatu yang teramat berharga. Itulah yang membuat aku bertahan ngeblog sampai hari ini. Meskipun terpaan kepraktisan facebook dan twitter menghadirkan keasyikan tersendiri, tapi tak cukup bagiku untuk menumpahkan pikiran dan gelisah hati. Aku butuh puluhan kalimat untuk menyampaikan sesuatu. Yang tak mungkin tercover lewat 450 karakter facebook dan 150 karakter twitter.

So, buat Mbak Asni, makasi ya atas kunjungannya di blog ini. Sungguh kata-kata mutiara yang Mbak tinggalkan bangunkan aku dari keterlenaan dan tarikan kepasrahan untuk kembali mengejar mimpi-mimpiku kembali. Makasi Mbak…