Mendung pagi ini makin membelit diri dalam rindu tak menentu. Beberapa hari yang lalu telah kucuba untuk menghilangkan bayangmu dari pikiran. Menyakinkan diri bahwa aku bisa menemukan penganti yang melebihi pesonamu.

Tapi apa yang terjadi? Sungguh aku tak mampu. Aku kembali berbalik kepadamu. Setiap aku berjumpa dengan gadis ayu di sini, hanya sebentar aku bertahan. Setelah itu, alam bawahku hadirkan dirimu lagi.

Sms-ku masih engkau jawab dengan diam. Telponku masih saja engkau biarkan. Tapi entah mengapa semua tidak membuatku surut untuk menantimu. Meski kutahu tidak ada harapan atas penantian ini.

Aku hanya akan menentukan pilihan setelah engkau mengirimkan surat undangan pernikahan.  Aku masih kuat untuk bertahan, sambil menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas penerbitan dan persiapan bahasa untuk mencari beasiswa ke luar negeri.

Hanya engkau yang bisa merubah pendirianku untuk menikah setelah mendapatkan gelar master. Jika engkau masih bersedia membuka hatimu untukku, tahun inipun akupun akan melamarmu. Tapi jika memang engkau benar-benar telah menutup harapan, aku hanya bisa membujuk hati dengan mengalihkannya dari lamunan yang mengingatkanku kepadamu.

Mendung semakin kelam. Pagi yang seperti menjelang malam. Mungkin sebentar lagi hujan badai akan menerjang.  Aku semakin larut dalam galau…

Iklan