Seks adalah kebutuhan alamiah manusia. Sesuatu yang tak bisa dipungkiri, karena  lewat sekslah manusia melanjutkan eksistensinya di muka bumi ini. Dalam batas tertentu, kita dapat membenarkan ungkapkan Sigmund Freud, dimana libido digambarkan sebagai kekuatan pendorong perilaku.

Pertarungan antara agama dan nafsu telah menarik manusia pada dilema, antara meletakkan seks sebagai wilayah privasi dan memposisikan seks sebagai komoditi. Pada titik ekstrem, agama bahkan melihat seks sebagai bencana sebagaimana yang dipahami dalam sistem kependetaan/sufisme/kerahiban. Di sisi lain, kaum hedonis memandang seks sebagai puncak dari segala kenikmatan sehingga rela mengorbankan apapun untuk menyicipinya.

Wanita seringkali diposisikan sebagai objek pemuas nafsu lelaki, baik dalam bentuk pelacuran, pornografi ataupun pornoaksi. Sisi sensualitas wanita memang menjadi magnet tersendiri, sekaligus potensi ekonomi. Lihatlah kesuksesan, Hugh Hefner, CEO Majalah Playboy yang berhasil meramu sensualitas tubuh wanita menjadi bisnis beromzet jutaan dollar US.

Besarnya potensi pasar eksploitasi seks, membuat orang gelap mata untuk terjun dalam bisnis ini. Baik dalam bentuk profesional maupun amatiran. Dari film porno sampai novel-novel mesum.

Novel mesum yang berisi tema sekitar selangkangan, menjadi tren baru di Indonesia setelah Ayu Utami meluncurkan Saman dan Djenar Maesa Ayu merilis Jangan Main-main (dengan Kelaminmu. Sampai saat inipun Ayu dan Djenar masih konsen dengan garapan novel-novel bertema seks, yang dianggap sebagai bentuk perlawanan terhadap kemunafikan agama.

Ternyata kiprah Ayu dan Djenar, mendapat tempat di hati beberapa gadis-gadis muda di negeri ini. Salah satunya adalah penulis yang menamakan diri  “Vira Cla”. Lewat novel pertamanya, Lajang Jalang, mencoba meraih popularitas. Banyak netter yang memberikan apresiasi terhadap novel yang banyak membubuhi istilah-istilah organ seksual ini. Seorang pengagum Vira mengatakan,

“Vira Cla seorang perempuan lajang berjilbab kelahiran Padang, yang tentu di kampung kelahirannya, sex masih dianggap tabu oleh sebagian besar orang. Seperti di kampungku. Jadilah buku ini, sex dipotret dari sorot seorang perempuan.”

Seks yang  dipotret oleh seorang perempuan menghadirkan ekstase tersendiri. Berbeda dengan kupasan ala maskulin sebagaimana Jakarta Undercover Moammar Emka. Begitu puji sang penggemar.

Saya tidak menemukan uraian, kenapa Vira Cla tertarik dengan genre selangkangan mengikuti jejak Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu? Apakah faktor ekonomis menjadi alasan utama?

Meskipun ada pesan moral yang hendak disampaikan, tapi tetap saja tidak bisa meletakkan novel ini sebagai wahana pendidikan seks. Menurut hemat saya, bangsa ini tidak akan menjadi besar dengan tulisan-tulisan seputar bibir, dada, dan paha. Kepopuleran yang cuba diraih dengan mengekspos tema-tema seks hanya akan memperburuk mindset bangsa ini.

Bukan hendak memposisikan diri sok suci atau munafik, tapi cukuplah teladan yang ditunjukkan oleh Rohana Kudus, Rasuna Said, Rahmah El Yunusiah, Tan Malaka, Hatta, Agus Salim, dan Natsir  (jika memang Vira mengaku sebagai orang Minang) menjadi inspirasi dalam berkarya. Apakah mereka menjadi besar karena tulisan-tulisan mesum??? TIDAK.  Sekali-kali TIDAK. Tapi tulisan-tulisan inspiratif dengan tema-tema perjuangan menuju kebebasan yang membuat nama mereka ditulis dengan tinta emas dalam sejarah. Bukan kebebasan menceritakan aktivitas ranjang dua anak manusia. Tetapi kebebasan untuk menjadi manusia-manusia merdeka dari godaan nafsu durjana dan sekedar pemenuhan antara dada-paha.

Ya, menulis bukan sekedar pekerjaan merangkai kata. Namun, ada pesan dan ideologi yang hendak disampaikan kepada pembaca. Pilihan menjadi novelis selangkangan, novelis religius, atau novelis sosial, novelis kapitas, adalah hak masing-masing orang. Tapi sungguh sayang, mengeksplorasi seks hanya sebuah ketenaran…