Kekalahan Timnas 0-3 dari Malaysia di stadion Bukit Jalil tadi malam memang sangat menyakitkan. Laser yang ditembakkan oleh suporter ke wajah pemain Indonesia menjadi isi sumpah serapah dan dijadikan alasan penyebab kekalahan. Ada juga yang menyalahkan banyaknya kegiatan-kegiatan tak penting yang disetting oleh PSSI, sehingga pemain lebih banyak bersafari. Termasuk menyalahkan media yang terlalu lebay menyiarkan hasil sempurna Timnas dalam 5 pertandingan sebelum final.

Sikap suporter terbelah, paling tidak dalam 3 tipelogi. Pertama, suporter fanatik: yang tetap optimis timnas bisa menang di atas 3-0  pada pertemuan leg kedua hari Rabu besok. Kita membutuhkan suporter-suporter optimistik seperti ini sehingga GBK tetap penuh dan riuh sehingga membangkitkan semangat pemain Timnas untuk membalikkan keadaan. Namun satu hal yang harus dihindari  adalah aksi balas dendam dengan melakukan teror yang lebih parah dari sekedar tembakan laser, dan aksi penistaan simbol negara lain  lewat suara riuh ketika lagu kebangsaan Malaysia dikumandangkan sebelum  kick off dimulai.

Kedua, suporter periodik: karena kecewa dengan hasil yang diraih oleh Timnas, suporter jenis ini malah berbalik mendukung malaysia dan putus asa dengan laga kedua karena gol yang mesti dikejar cukup banyak. Mereka malah ketawa-ketawa ketika bola mengoyak jala Markus Maulana Horison. Sambil mencemooh orang-orang di sekitarnya yang sedang larut dalam duka kekalahan. Sikap mereka menunjukkan sikap mental keropos, yang tak bisa menerima cela pada Timnas sendiri kemudian menjadi gila dengan mengelu-elukan tim lawan.

Ketiga, suporter realistik: yang tetap meletakkan sepakbola pada proporsi yang seharusnya. Bahwa sepakbola hanyalah sebuah permainan yang tak bisa dilepaskan dari menang dan kalah. Mereka tetap memuji permainan Firman Utina dkk dan memaklumi tekanan mental yang membebani pundak mereka atas ekspektasi yang berlebihan-tekanan bermain di kandang lawan.

Meletakkan nasionalisme pada tim sepakbola rasanya terlalu berlebihan. Karena sangat riskan meletakkan sesuatu yang sangat berharga pada sebuah permainan yang seharusnya diletakkan sekedar hiburan. Jangan salahkan Maman yang melakukan blunder hingga lahirlah gol pertama Malaysia, sehingga mental pemain langsung down seketika. Sebagaimana yang dikatakan Riedl, “Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan pemain setelah gol pertama, tetapi itu titik baliknya.” Karena baru segitu kemampuan Maman yang memang seringkali melakukan blunder.  Jangan salahkan 2 gol Bambang Pamungkas di gawang Thailand yang meloloskan Malaysia dari fase grup. Jangan pecat Riedl hanya karena kegagalan meraih juara. Sebagaimana yang dilakukan PSSI terhadap Peter White pada Piala Asia 2007.

So, apapun yang terjadi, TETAPLAH DUKUNG SEPAKBOLA INDONESIA. Karena kita bisa maju apabila terus belajar dari kesalahan dan tetap meningkatkan perhatian. Jangan terjebak dengan semangat euforia, saat menang dielu-elukan tapi ketika kalah dicaci-maki terus-terusan. Yang pasti, masih ada leg kedua di kandang sendiri. Harapan untuk melakukan revans masih terbuka lebar.

TERUSLAH BERJUANG  GARUDAKU. KARENA LANGIT BELUMLAH KELABU. BERLATIHKAN DENGAN KERAS, KARENA 2 HARI LAGI LAGA PEMBALASAN SUDAH MENUNGGU… INDONESIA.. INDONESIA.. INDONESIA..