Izinkan aku ntuk menangis lagi. Bukan karena sedih, tapi karena kebahagiaan yang engkau berikan sore ini. Keputusanmu memang tak berubah, tapi sekarang aku lebih ikhlas menerima semuanya.

Tadi siang adalah puncak dari kegelisahan yang menderaku sejak Ahad siang lalu. Aku kehilangan arah. Tak tahu apa yang mesti dikerjakan. Terbesit untuk mencoba mengalihkan pandangan, mencari pengantimu, biar aku kembali bersemangat menjalani hidup. Tapi aku tak bisa. Tak mungkin kulakukan.

Cinta bukanlah bola yang bisa ditendang kesana-kemari. Cinta itu anugerah Ilahi. Yang hadir dari hati. Mungkin aku bisa kembali berpetualang, mendekati gadis-gadis lain. Tapi itu hanyalah pelarian, sebuah kedustaan akan perasaan terdalam.

Suara lembutmu, lewat handphone menjelang sholat Magrib tadi telah membuatku kembali merasakan kehangatan cinta. Meski engkau akan pergi, tapi aku akan setia mengabadikanmu di dalam hati ini. Sebagaimana yang kukatakan padamu,

“E***, Gun pingin seperti Kahlil Gibran. Meski Gibran tak bisa melabuhkan cintanya, tapi ia bisa menjadi penyair hebat. Karena ia mencintai dengan tulus, bukan sekedar ingin memiliki. Lewat inspirasi dari gadis pujaannya itulah, Gibran bisa menghasilkan karya-karya yang mendunia.”

Kemudian, kupinta ntuk izinkan aku terus mengingatmu. Menjadikanmu sebagai inspirasi dalam liku hidup yang kujalani. Meski hanya dalam bayang, meski hanya dalam angan. Karena senyummu menghangatkan, suaramu menentramkan, dan wajahmu hadirkan kebahagiaan.

Tak akan kucari lagi pengantimu. Biarkanlah maut yang akhirnya menjadi bukti ketulusan dan mengabadikan cintaku kepadamu. Sayang, I Really Love You…