Satu minggu ini aku lebih banyak duduk di depan komputer. Bukan sekedar bercuap-cuap ria di wall facebook, tapi mengedit beberapa naskah buku. Kegiatan yang cukup melelahkan, apalagi mataku belum sembuh benar pasca 3 bulan operasi katarak. Seringkali aku berehat, berbaring di kasur setiap 3 jam duduk di depan komputer.

Aku menikmati setiap rangkaian kata naskah buku yang sedang kuedit. Tidak saja memberikan layout yang elegan, tapi mesti teliti memperhatikan kesalahan ketik dan koneksi antar kata-antar kalimat. Sambil mencoba menangkap isi yang hendak disampaikan oleh penulis.

Orderan dari Mas Willy, sudah kurampungkan tadi sore. Mudah-mudahan tidak ada koreksi berarti. Sementara, orderan dari Mamak Zulharbi masih menunggu testimoni dari beberapa tokoh Minang. Testimoni yang nantinya akan dipajang di cover belakang buku. Mudah-mudahan buku Mak Zulharbi sudah bisa naik cetak minggu depan.

Senin besok, insya Allah buku “Manusia Minangkabau” pak Iwan sudah bisa diambil di Kanisius. Tapi masih ada editan disertasi beliau yang mesti kuselesaikan dalam 5 hari ini.

Editan naskah buku Mas Willy, Mamak Zulharbi, dan Pak Iwan merupakan kepercayaan yang mesti kukerjakan dengan sungguh-sungguh. Rintisan penerbitan yang saat ini kujalani, cuma bermodal kepercayaan. Kalau kepercayaan sudah hilang, dan kerja tak maksimal, alamat nasib akan “mati sebelum berkembang”. Sesuatu yang tak kuinginkan terjadi. Namun, apabila kerja memuaskan dan dengan sepenuh hati, insya Allah akan banyak orderan baru yang datang.

Kemarin, selepas sholat Jum’at, Pak Iwan mengajakku makan soto di dekat hotel Vidi 3 Jalan Kaliurang. Sebuah rumah makan sederhana, yang kalau dilihat dari tempatnya saja, tak membangkitkan selera. Pak Iwan mengatakan kepadaku bahwa pemilik rumah makan ini adalah dosen Universitas Bengkulu yang saat ini sedang menempuh pendidikan Doktoral di Fakultas Teknik UGM. Pak Rizal namanya. Orangnya pendek, berpenampilan sederhana. Jika dilihat sekilas, tak jauh beda dengan pelayan rumah makan. Tapi begitulah Pak Rizal dengan gaya nyentriknya. Status dosen dan mahasiswa S3, tidak membuatnya malu untuk berpenampilan layaknya seperti pembantu dan membuka rumah makan. Tak seperti mahasiswa S3 lainnya yang parlente dan gengsi membuka usaha-usaha beginian.

Meski terkesan awut-awutan dan seadanya, tapi rumah makan Pak Rizal ramai dikunjungi orang. Bahkan, siang kemarin itu aku mendapati mahasiswa Malaysia-India asyik menyantap hidangan di rumah makan teramat sederhana itu. “Baa kok urang banyak kamari? (Kok orang banyak di sini?), ujar Pak Iwan kepadaku. “Mungkin masakan di siko lamak pak” (mungkin masakan di sini enak pak), jawabku sambil menikmati soto yang sudah dihidangkan oleh istri Pak Rizal. “Yo, batua tu” (Ya, benar), pungkas Pak Iwan mengamini pendapatku.

Tak sampai di situ, Pak Iwan kemudian mengajakku pergi ke kandang kuda miliknya. Dari senior-senior di asrama dan dosen-dosen di kampus, aku sudah mendengar “kegilaan” Pak Iwan sama hewan satu ini. Bahkan dulu beliau kemana-kemana naik kuda yang sudah dipasangi bendi (andong). Tapi beberapa tahun belakangan ini, kebiasaan itu beliau tinggalkan. Entah kenapa, akupun tak tahu persis.

Pak Iwan berjanji akan mengajarkanku menungguang kuda. Tapi sebelumnya, aku harus belajar ngasih makan kuda dulu. Kalau sudah “sabaun” (satu chemistry), barulah aku menjadi joki. Besok, berhubung Pak Iwan mau ke Jakarta, beliau mempercayakanku untuk memberikan makan 2 ekor kudanya. Ya, sebuah pengalaman baru, meskipun pas di kampung dulu aku punya teman kecil yang pintar mengembalakan kuda pacu.

Puas menatap kuda, Pak Iwan mengajakku ke rumahnya yang persis di depan rumah Rektor UGM, Pak Soejarwadi. Aku kaget melihat ikan lele yang mengelepar menyambut roti yang dilempar Pak Iwan ke kolam. Lelenya gede banget. Lama aku tercenung di pinggir kolam tak berukuran 2,5 x 2.5 meter itu. Akupun kemudian dibawa masuk. Giliran ayam bangkok dan ayam hitam yang diperlihatkan Pak Iwan kepadaku. Saat mengeber motor ntuk pulang, aku hanya bisa tersenyum-senyum atas pengalaman yang barusan kualami.

Berkenalan dengan Pak Iwan, membuatku kembali teringat dengan masa kecil. Saat Bapak mengajakku ke ladang, mengembalakan itik dan ayam di samping rumah, berbasah-basahan di dalam kolam ikan saat panen datang, dan mencari keong mas setiap liburan. Lama sudah aku tak merasakan hiruk-pikuk sebagai anak desa. 8 tahun kuliah, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan dinamika intelektual.

Ya, aku kembali merasa hidup. Kembali menjadi anak desa yang bergelut dengan sawah, ladang, ayam, ikan, itik, dan sungai tanpa takut kotor karena lumpur, ataupun basah karena hujan.

Hujan deras tiba-tiba datang ketika aku hampir selesai merampungkan postingan ini. Malam minggu yang indah. Malam minggu yang enak untuk istirahat setelah padatnya aktivitas selama seminggu ini. Mumpung ada waktu luang, sebelum besok pagi menghadang LPJ Asrama, yang mungkin baru berakhir sampai sore.

Aku memang kehilangan waktu ntuk merenung. Tapi, saat ini aku mulai belajar akan artinya hidup yang sebenarnya. Mudah-mudahan ini adalah bagian dari proses bagiku untuk menjadi orang sebenar orang. Amien…