Sudah lewat jam 12 malam. Tapi, mataku belum jua mau dipejamkan. Padahal, biasanya jam 9-an aku sudah terbang menikmati malam dengan mimpi-mimpi indah hingga baru terbangun di kala pagi.

Barusan aku habiskan waktu di ruang tv. Nonton sebuah FTV untuk hilangan gundah di hati, setelah tadi sore editan naskah buku pesanan dari Jakarta hilang – tak bisa dibuka, gara-gara komputerku mati tiba-tiba. Kerja di depan komputer, siang malam selama dua hari, raib begitu saja. Ingin rasanya aku marah. Tapi harus marah sama siapa? Karena yang mati itu bikin ulah itu komputerku sendiri. Mau dilempar? Ngetik sama apalagi aku nanti?

Malam ini, kembali aku merenungkan akan perjalanan hidup. Sudah 4 tahun lebih aku tak pulang kampung. Sebenarnya bukan persoalan serius. Sebab aku masih kuat untuk bertahan di Jogja sampai memperoleh pekerjaan tetap.  Tapi, keinginan untuk melangkah kaki di kampung halaman sungguh sangat sangat kuat, meskipun saat ini hanya bisa kupendam. Keramahan Jogja, dan kemilau Jakarta memang telah membuat jatuh cinta dengan pulau Jawa. Namun, Ranah Minang tetap menjadi tanah kelahiran yang takkan mampu mengalahkan semua negeri di dunia ini.

Dulu, aku sempat berpikir untuk menikah dengan orang Jawa saja. Aku kagum dengan keramahan mereka dan terpesona dengan gurat lembut pada wajah mereka. Namun, itu hanyalah keterpukauan sesaat saja. Hari ini, tiada lagi terbesit di hatiku untuk menikahi wanita Jawa. Aku tak bisa melepaskan identitasku. Hanya gadis Minang saja yang kuinginkan untuk kujadikan sebagai pendamping hidupku.

Dingin ini semakin kuat menembus tubuh ini. Ada rindu yang tak mampu kutahan. Ada rasa yang ingin kucurahkan. Selamat tidur Sayang. Hanya do’a saja yang mau kuiringkan, saat engkau beristirahat sejenak, hingga pagi kembali membuatmu sibuk dengan berbagai aktivitas… I Love U Honey…