Sulit membangun peradaban, tanpa budaya tulis dan baca.”

TS Eliot – Penyair Inggris (1888-1965)

 

Beberapa bulan belakangan ini, penulis intens menyebarkan ide “Menerbitkan Buku itu Mudah”. Tidak hanya membuat tulisan yang memberikan gambaran bagaimana simple-nya menerbitkan buku, dan mengompori adik-adik di kampus , penulis juga aktif membantu akademisi dan eksekutif muda untuk mengkonversi naskah yang mereka miliki menjadi buku.

Mengapa penulis begitu terobsesi dengan gagasan ini? Paling tidak ada beberapa alasan yang melatarbelakangi. Pertama, penulis begitu miris dengan kondisi penerbitan di Indonesia. Berita yang dirilis oleh Kompas pada bulan April 2010 yang lalu, mengungkapkan bahwa,

“Tercatat, dari 476 penerbit yang ada di Indonesia, buku-buku yang baru terbit per tahun hanya 12.000 eksemplar. Sementara itu, jumlah penduduk Indonesia 220 juta jiwa.”

Raihan itu bisa masih kalah dengan India yang mampu menerbitkan 25.000 eksemplar. Apalagi kalau hendak diperbandingkan dengan Amerika Serikat (AS) yang mampu menerbitkan buku baru setiap tahun hingga 75.000 eksemplar.

Dari 12.000 eksemplar itupun kebanyakan merupakan buku-buku terjemahan, terutama dari bahasa Arab dan Inggris. Artinya, produktivitas penulisan di Indonesia masih sangat rendah.

Sekarang, mari kita mencoba untuk berangan-angan menghitung angka statistik apabila setiap mahasiswa yang lulus kuliah mampu menerbitkan satu buku. Pada tahun 2008 tercatat 4,3 juta mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi di berbagai perguruan tinggi baik di dalam maupun diluar negeri. Jika 100.000 ribu dari mahasiswa yang wisuda setiap tahunnya menerbitkan satu buku saja, maka lahirlah 100.000 judul buku baru. Apabila kemudian masing-masing judul dicetak 100 buah, maka telah akan beredar 10 juta buku di pasar.

Penelitian UNESCO memperlihatkan kondisi minat baca bangsa Indonesia yang menyedihkan:

“Mahasiswa di negara industri maju ternyata memiliki rata-rata membaca selama delapan jam per hari, sedangkan di negara berkembang, termasuk Indonesia, hanya dua jam setiap hari. Kurangnya minat baca dibuktikan dengan indeks membaca masyarakat Indonesia saat ini yang baru sekitar 0,001, artinya dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Angka ini masih sangat jauh dibandingkan dengan angka minat baca di Singapura. Indeks membaca di negara itu mencapai 0,45. Selain itu berdasarkan survei UNESCO, budaya baca masyarakat Indonesia berada di urutan ke-38 dari 39 negara dan merupakan yang paling rendah di kawasan ASEAN”

Semuanya bisa kita rubah dengan gagasan “Ayo Terbitkan Buku Kamu”. Kenapa penulis begitu yakin menerbitkan buku bisa menaikkan minat baca bangsa ini? Banyak ahli yang mengatakan, menulis dan membaca adalah 2 sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Orang tak akan mampu menulis apabila tidak punya bacaan dan orang tak bisa membca apabila tidak ada buku yang diterbitkan. Maka, gerakan menerbitkan buku merupakan solusi efektif untuk memperbaiki minat baca sekaligus menggerakkan antusias orang untuk menulis karena buku laku di pasaran.

Tak lengkap rasanya, apabila argumentasi di atas tidak penulis dukung dengan informasi, “Bagaimana sih cara menerbitkan buku?”  Kalau pe-de dengan hasil karya sendiri, teman-teman bisa mengirimkan naskah kepada penerbit yang sudah eksis dan punya nama. Namun, untuk penerbit-penerbit besar mereka sangat selektif dalam menerima naskah. Tidak saja melihat kualitas tulisan, dan prospek marketingnya, tapi mereka juga mempertimbangkan kecocokan idealisme/warna penerbit mereka dengan tulisan kita. Terkadang, hal ini cukup menjengkelkan, karena seringkali penerbit besar menolak naskah-naskah penulis pemula.

Kalau gagal menembus penerbit besar, masih ada jalan lain yaitu mencoba ke penerbit kecil. Tapi lagi-lagi aspek marketable menjadi prioritas pertimbangan mereka. Belum lagi, kenyataan tidak adanya pembagian royalti kecuali hanya pembelian naskah di awal transaksi.

Eiittt, jangan putus asa dulu. Ditolak oleh penerbit besar ataupun penerbit kecil tidak akan memupus harapan teman-teman untuk menerbitkan buku. Apa solusinya? BIKINLAH PENERBIT SENDIRI. Ya, BIKINLAH PENERBIT SENDIRI atau Privat Publishing. Pasti dalam pikiran teman-teman, ini semakin memperumit masalah? He2… Tenang dulu. Mari ikuti penjelasan saya

Bikin penerbitan sendiri itu mudah. Hanya tinggal cari nama yang bagus, alamat, logo, dan penanggungjawab. Maka jadilah sebuah penerbitan yang telah bisa mendapatkan akses ISBN ke Perpustakaan Nasional agar buku yang telah kita buat punya legitimasi hukum.

Persoalan berikutnya yang akan muncul adalah, terus bagaimana menyetaknya? Tenang teman-teman, saat ini sudah banyak percetakan yang menerima orderan buku. Bahkan ada yang menerima orderan penyetakan SATU BUKU SAJA.

Nah, sekarang menuju masalah yang paling esensial. Berapa sih uang yang mesti dikeluarkan menyetak satu buku? Berdasarkan pengalaman saya, menyetak satu buku setebal 140 halaman dengan ukuran A5 hanya Rp. 18.500 – Rp. 20.500. Jadi kalau teman-teman punya naskah setebal 200 halaman paling ngak mesti mengeluarkan uang sebesar Rp. 25.000- an. Kalau nyetak 100 eksemplar mengeluarkan dana sekitar Rp. 2.500.000. Semisalnya menyetak sebanyak itu terlalu berat, teman-teman bisa menyetak 10 atau 20 eksemplar dulu aja (hanya butuh modal Rp. 250.000 – Rp. Rp.500.000), sambil menunggu dijual sehingga didapatkan modal lagi untuk menyetak buku. Biasanya buku 200 halaman dijual Rp. 40.000 sampai Rp. 50.000. Jadi, dengan sirkulasi nyetak-jual-nyetak-jual, teman-teman tidak perlu dana yang besar.

Terus, bagaimana untuk distribusinya? Tenang, setiap persoalan pasti ada jalan keluar. Teman-teman bisa mempromosikannya lewat penulisan resensi di surat kabar dan publikasi online, baik itu lewat jejaring sosial (Facebook, Twitter, atau mailinglist), blog, dan forum jual beli Kaskus. Kalau seandainya punya modal menyetak banyak, teman-teman bisa menitipkan di toko-toko buku tempat teman-teman berdomisili. Cukup mudah bukan???

Gerakan “Ayo Terbitkan Buku Kamu” ini tentu akan mengelinding bak bola salju apabila pemerintah tidak hanya sekedar berteriak tentang minimnya jumlah buku yang terbit dan rendahnya minat baca masyarakat. Tak perlu dengan kebijakan yang rumit. Cukup mengratiskan pengurusan ISBN dan menurunkan harga kertas, saya yakin dunia literasi di Indonesia akan jauh melejit dari kenyataan yang terjadi sekarang.

SO, SELAMAT MENERBITKAN BUKU-MU…:)

 

Iklan