Faktor yang membuatku berat meninggalkan Jogja adalah suasana intelektual dan kajian-kajian keislamannya. Tadi pagi, aku kembali berkesempatan menghadiri kajian Kamis Pagi oleh Prof. Dr. Yunahar Ilyas Lc di Kantor PP. Muhammadiyah Cik Di Tiro, setelah 2 minggu absen karena harus mengikuti tes kerja di Jakarta. Sejak satu bulan yang lalu ceramah Ustadz Yunahar Ilyas disiarkan oleh Adi TV, TV yang dirintis oleh teman-teman Universitas Ahmad Dahlan sejak launching logo dan hyme Muktamar Satu Abad Muhammadiyah tahun 2009 lalu. Adi TV, hanyalah sebuah TV lokal yang baru menjangkau wilayah DIY dan sebagian Jawa Tengah.

Selepas sholat Shubuh, beberapa kali aku menyaksikan acara Siraman Qalbu di MNC TV. Kadang disampaikan oleh Ustadz Yusuf Mansur, kadang dibawakan oleh Ustadz Arifin Ilham. Tapi kalaulah mau membandingkan kualitas ceramah Prof. Yunahar Ilyas yang notabene hanya disiarkan oleh sebuah TV Lokal dengan ceramah Ustadz Yusuf Mansur dan Ustadz Arifin Ilham yang disiarkan oleh TV Nasional, jujur aku menempatkan ceramah Prof. Yunahar lebih berkualitas. Pandangan ini aku rujukkan pada kekuatan dalil, pemberian contoh  kasus fenomena sosial keagamaan di masyarakat, dan kemampuan retorika yang dimiliki oleh masing-masing ustadz itu.

Sebenarnya, agak kurang etis juga sih membandingkan kemampuan antara para ustadz. Apalagi masing-masing ustadz punya style khas tersendiri. Tapi, aku hanya mencoba untuk membuka mata masyarakat, bahwa masih banyak ustadz yang berkualitas tapi tidak dilirik oleh media. Padahal dari segi ilmu yang mereka miliki, seharusnya ceramah “ustadz pinggiran” itu dapat dinikmati oleh kaummuslimin dari berbagai wilayah.

Tak hanya bisa menikmati sejuknya siraman rohani yang disampaikan oleh Ustadz Yunahar, hari inipun aku diberikan kesempatan oleh Allah untuk kembali ke kampus Filsafat tercinta. Sebenarnya hanya ketemuan dengan Pak Iwan sekaligus memberikan draf akhir editan buku beliau yang kukerjakan hampir 3 minggu. Rencanaku besok, kalau ISBN sudah jadi, draf ini langsung dicetak di Kanisius.

Saat aku sampai di kampus, ternyata Pak Iwan baru memulai kelas Metode-Metode Filsafat. Mata kuliah yang paling menakutkan bagi mahasiswa Filsafat. Bukan karena sulitnya materi yang diberikan, tapi lebih kepada dosen yang mengampu mata kuliah itu (Pak Iwan dan Pak Jokpit). Maka tak salah, banyak yang berguguran saat kuliah mulai berlangsung, karena setiap minggu tak tahan kena shock therapy dari Pak Iwan atau Pak Jokpit.

Dilanjutin ya ceritanya…. He2.. he2.. Saat menonggolkan kepala di pintu kelas, akupun surut memundurkan langkah. Tapi, terdengar suara Pak Iwan dari dalam. “Oiuh Gun, masuaklah…”. Malu juga rasanya masuk ke dalam kelas di saat perkuliahan sedang berlangsung. Apalagi hanya memakai sandal jepit. Kalau ketemu sama Bu Sartini (Wakil Dekan Filsafat UGM), pasti deh aku dah dinasehatin. Namun berhubung yang memanggi Pak Iwan, tiada beliau pedulikan penampilan awut-awutanku.

Akupun duduk di kursi depan. Tempat yang seharusnya khusus untuk dosen. Beberapa mahasiswa-mahasiswi yang sedang mengikuti kuliah Pak Iwan, familiar wajahnya bagiku. Maklumlah, aku kan dulu mahasiswa tua yang senang kuliah bareng dengan angkatan bawah (2005,2006,2007, dan 2008). Menyaksikan Pak Iwan membawakan kuliah, terlintas dalam pikiranku, “Ah, enak rasanya bisa jadi Dosen…”.

Di akhir perkuliahan, Pak Iwan malah memperkenalkanku kepada para mahasiswa Metode-Metode Filsafat. Dengan sedikit promosi Pak Iwan berujar, “Disertasi saya sebentar lagi akan terbit. Ini berkat bantuan dari Pak Anggun… Saya sengaja menghadirkan Pak Anggun di depan kalian, karena saya tidak main-main dengan tugas-tugas yang telah saya berikan. Kalau nanti kalian meraih nilai A, maka tugas makalah akhir yang kalian buat akan diedit oleh Pak Anggun, untuk kemudian dibukukan….” Aku cuma bisa ketawa-tawa geli menyaksikan Pak Iwan memberikan semangat kepada mahasiswa-mahasiswanya.

Ya, mudah-mudahan dua pengalaman berharga yang kudapatkan pagi tadi bisa menjadi penyemangat atas kondisi tak menentu yang kuhadapi saat ini. Tak lulus CPNS Kemenakertrans, dan masih belum ada kabar dari Kompas. Karena aku tak ingin terbalut dalam keputusasaan atas kegagalan yang ada. Meskipun seribu deret kegagalan yang membelitku, tapi aku tak menyerah dengan semua itu. Karena kuyakin, Tuhan tidak akan menelantarkan nasibku terus seperti ini… TETAP SEMANGAT GUN…:) HE2..