Sampai saat ini, telah berdiri ratusan organisasi/komunitas mahasiswa Minang di berbagai daerah dan mancanegara, baik di ranah maupun di rantau. Sebutlah, Unit Kegiatan Mahasiswa Institute Teknologi Bandung (UKM ITB), Ikatan Mahasiswa Minang Universitas Indonesia (IMAMI UI), Forum Komunikasi Mahasiswa Minang Universitas Gadjah Mada (FORKOMMI UGM), Ikatan Mahasiswa Minang Amikom Yogyakarta, Ikatan Pelajar Mahasiswa Minang (IPMM) Bogor, Asrama Mahasiswa Sumatera Barat “Merapi Singgalang” dan “Bundo Kanduang” Yogyakarta, Keluarga Mahasiswa Minang (KMM UNJ), Ikatan Mahasiswa Minang (IKAMMI) Semarang, Forum Mahasiswa Minang ISI Yogyakarta (FORMMISI-Yk), BKMM (Badan Kesatuan Mahasiswa Minang) Bandung, IMIB USU, Ikatan Pelajar Mahasiswa NAD,  Bengkel Seni Tradisional Minangkabau FAKULTAS SASTRA UNAND, IKATAN MAHASISWA PADANG PARIAMAN (IMAPPAR) KOTA PADANG, PERMATO (Persatuan Mahasiswa Tuah Sakato) Sumatera Selatan, FORMATO (Forum Mahasiswa Tuah Sakato) Surakarta, Badan Kesatuan Mahasiswa Minang (BKMM) Jawa Barat,  Keluarga Mahasiswa Minang Jakarta Jaya (KMM Jaya), Ikatan Generasi Muda Minang Yogyakarta (IGMMY), Ikatan Keluarga Mahasiswa Minang Universiti Kebangsaan Malaysia (IKMM-UKM), Keluarga Mahasiswa Minang Mesir. Deretan nama-nama  di atas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak organisasi mahasiswa Minang lainnya  yang sampai saat ini tetap eksis baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Namun, ada satu kondisi “miris”, dimana tidak ada satu forum komunikasi formal yang menyatukan di antara sekian banyak organisasi mahasiswa Minang yang ada. Padahal tersimpan potensi besar, jika intelektual muda Minang itu bersinergi dalam sebuah forum yang lebih besar, yakni Forum Komunikasi Mahasiswa Minang Se-Dunia.

Sebenarnya hal ini bukanlah ide baru. Pada tahun 2003-2004, telah ada upaya ke arah unifikasi intelektual Minang melalui milis Aktivis Minang. Tapi sampai sekarang gerakan ini hanyalah sebatas forum diskusi. Bahkan sejak tahun 2005 gaungnya mulai meredup seiring kelulusan punggawa yang mengurusi milis ini dari bangku kuliah. Sangat dimungkinkan juga sebelum kehadiran Aktivis Minang, ada upaya-upaya untuk mendirikan organisasi mahasiswa Minang bertaraf nasional. Tapi, semua itu menguap begitu saja seiring kesibukan dan beralihnya para pengusungnya, dari status mahasiswa menjadi pekerja/pengusaha.

Berawal dari pertemuan di Kantor Gubenur pada momen lebaran 2010 yang lalu, beberapa mahasiswa Minang dari Jakarta, Jogjakarta, dan Padang terus mengulirkan wacana pendirian Ikatan Mahasiswa Minang se-Indonesia. Komunikasi intensif terus dilakukan oleh para inisiator dengan beberapa pejabat Pemprov Sumatera Barat. Prof. Dr. Irwan Prayitno, selaku Gubenur Sumatera Barat, telah menyatakan kesediaan lisan sebagai Ketua Penasehat. Nadiar. SH, Kepala Kantor Penghubung Sumbar di Jakarta, juga telah memberikan sinyalemen positif dan akan memberikan ruangan khusus di Kantor Penghubung untuk dijadikan sekretariat organisasi ini.

“Bola telah bergulir, tak bisa lagi dihentikan”, ungkap Rifki (Alumni Poltek UI Jakarta – Mahasiswa Universitas Jayabaya Jakarta), salah satu inisiator pendirian Ikatan Mahasiswa Minang se-Indonesia pada pertemuan Ahad 4 Desember 2010. Pertemuan yang dihadiri oleh mahasiswa Minang se-Jabodetabek (UI, UNJ, UIN Sahid, Universitas Jayabaya) plus mahasiswa dari Jogjakarta ini merupakan rangkaian penyatuan visi sebelum soft launching dan grand launching Forum Silaturahmi dan komunikasi Mahasiswa Minangkabau se- Indonesia dan luar negeri.

Penulis secara pribadi tentu sangat mendukung gerakan silaturahim ini. Karena lewat semangat kebersamaan-lah kita mampu berbuat lebih banyak. Kondisi dimana, “setiap lini dari pengembangan potensi yang ada di Sumbar tentu memerlukan SDM yang berkualitas dan mempunyai keahlian di bidangnya”, tidak bisa dilepaskan dari peran anak-anak muda kreatif lulusan perguruan tinggi. Namun, kepedulian terhadap kampung halaman tidak mesti menunggu menjadi sarjana. Saat menjadi mahasiswa kontribusi nyata bagi Sumbar dapat dilakukan. Sedikit apapun itu, tentu akan sangat berharga bagi masyarakat Sumatera Barat.

Paling tidak, status mentereng sebagai mahasiswa tidak hanya sebuah klise tanpa makna. Sebuah sarana pembuktian, bahwa mahasiswa tidak hanya berteriak di jalanan dan bentrok dengan petugas  keamanan. Mahasiswa tidak menjadi komunitas elite di atas menara gading yang wacana-wacana digulirkannya jauh dari realitas masyarakat. Harus ada perubahan paradigma mahasiswa dari sekedar berwacana, mengkritik, dan berseminar menjadi mahasiswa yang berkarya, turun memberdayakan masyarakat, dan berbuat nyata.

Kita tentu bisa membayangkan kemajuan apa yang akan dicapai , apabila seluruh  mahasiswa Minang dari seluruh dunia bersinergi dan berkontribusi demi kemajuan Sumatera Barat. Mungkin, pada titik tertentu tidak lagi melulu memikirkan Sumatera Barat, tapi mampu menghadirkan perubahan nyata bagi Indonesia sebagaimana yang telah berhasil dilakukan oleh elite intelektual Minang pada masa perjuangan kemerdekaan.

Ini adalah sebuah mimpi besar yang berhadapan dengan tantangan yang besar pula. Sangat mudah mengumpulkan orang Minang dalam perayaan-perayaan bersifat seremonial dan hiburan. Apalagi menginvite mereka dalam sebuah grup facebook yang mengatasnamakan Forum Mahasiswa Minang Se-Dunia. Namun, menyatukan orang Minang dalam gerakan organis, terstruktur dan profesional sungguh pekerjaan amat sulit. Telah terpampang dihadapan kita, bagaimana Gebu Minang yang terdiri dari para tokoh-tokoh Minang yang telah berkibar secara nasional dan menglanglang buana ke mancanegara disindir tak mampu berbuat banyak untuk kemajuan Sumatera Barat. Bahkan rencana Kongres Kebudayaan Minang yang digagas oleh organisasi pada zaman Pak Harto itu mendapat perlawanan hebat dari tokoh-tokoh Minang yang ada di Sumatera Barat. Kitapun telah mendengar keluhan beberapa pejabat yang mengkritisi keberadaan Silaturahim Saudagar Minang tak lebih dari show up para pebisnis yang berhasil di perantauan. Kitapun telah menyaksikan tidak berjalannya kegiatan dan konflik-konflik kepentingan yang menaungi organisasi mahasiswa Minang ber-skala regional.

Mendirikan sebuah perkumpulan besar yang dihuni oleh organisasi-organisasi mahasiswa Minang yang telah dulu berkiprah di pentas regional, nasional, bahkan internasional bukanlah pekerjaan mudah. Impian boleh tinggi tapi haruslah diiringi konsep yang cerdas dan brilian. Karena yang dituju oleh para inisiator adalah bergabungnya seluruh utusan organisasi mahasiswa Minang dari daerah-daerah dan luar negeri dalam satu payung baru yang rencananya akan dinamakan Keluarga Besar Mahasiswa Minang. Para inisiator memang menyadari sepenuhnya akan dinamika perdebatan yang akan terjadi jika suatu hari nanti organisasi ini berdiri. Namun, apakah para inisiator sudah mengantisipasi kemungkinan perdebatan panjang tanpa ujung karena orang Minang dikenal sebagai orang yang pintar ngomong, serta konflik kepentingan terkait jabatan dan donasi yang akan diterima?

Sejarah memang telah membuktikan keberhasilan orang Minang menjadi orang terpandang tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Tapi pencapaian itu baru sebatas capaian pribadi tanpa didukung sebuah komunitas Minang. Baru kemudian setelah menduduki posisi prestise mereka ditarik-tarik untuk terlibat dalam kegiatan organisasi Minang. Bahkan Buya Syafi’i Ma’arif  dan Prof. Yunahar Ilyas, dua tokoh Muhammadiyah yang telah berkibar namanya di tingkat internasional, acapkali dicibir oleh masyarakat Minang Jogja karena minimnya sumbangsih yang mereka berikan pada Keluarga Besar Minangkabau Yogyakarta.

Orang Minang bisa menjadi pemuncak ketika berada dalam sebuah organisasi yang dihuni oleh berbagai macam etnis. Tapi, apakah ada sosok yang mampu menjadi tokoh lahir dari sebuah organisasi Minang? Malahan kita menemukan konflik-konflik kepentingan dari berbagai tokoh Minang. Sentimen Bung Hatta terhadap Tan Malaka, telah gamblang dipaparkan oleh sejarah. Persaingan Tan Malaka dan Sjahrir telah memecah suara kaum proletar pada dua kubu Murba dan PSI. Okeylah, itu hanya sejarah. Sekarang penulis akan memberikan contoh paling simple dari “perpecahan” orang Minang. Tentu pembaca mengetahui terbelahnya suporter klub Sepakbola Semen Padang, Khmers dan Spartak. Padahal sama-sama barisan pendukung Semen Padang? Sebuah lontaran dari seorang teman, membuat penulis tertawa geli, “Ini masalah idealisme Bang. Makanya kami berpisah”.

Tulisan ini tidak hendak membawa arus negatif dan menghambat pendirian organisasi mahasiswa Minang se-Dunia. Namun, mencoba memberikan beberapa pertimbangan, sehingga gerakan ini tidak hanya sekedar ambisius. pribadi dari beberapa orang inisiator. Memang para inisiator memiliki berbagai pengalaman mengurusi berbagai organisasi mahasiswa. Tapi pernahkah para inisiator mengurusi organisasi mahasiswa Minang tingkat regional. Bahkan (mohon maaf), ada di antara para inisiator termasuk orang yang acuh tak acuh dengan organisasi mahasiswa Minang kampus saat menjadi mahasiswa. Pertanyaan besarnya adalah jika pengalaman mengurusi organisasi mahasiswa Minang tingkat regional tidak ada dan lebih parah lagi tak pernah terlibat organisasi mahasiswa Minang kampus pada saat kuliah, bagaimana pula hendak menyatukan mahasiswa Minang se-Nusantara, bahkan se-dunia???

Lagi-lagi, penulis hendak menegaskan bahwa ekspektasi tulisan bukanlah hendak mengulirkan gelombang apatis. Namun, mencoba memberikan gambaran real atas situasi yang ada sejauh pengalaman dan pengamatan penulis berkecimpung dalam berbagai forum diskusi dan organisasi Minang.

Jika para inisiator benar-benar serius mendirikan bangunan mercusuar ini, maka dialog dengan para pakar sejarah dan budaya Minang perlu dilakukan. Agar didapatkan gambaran yang utuh dan jelas tentang gambaran utuh tentang manusia minangkabau. Diskusi dengan pengurus Gebu Minang dan SSM juga perlu dilakukan, agar didapatkan penjelasan tentang manajerial dan pengalaman mereka mengurusi orang Minang.

Penulis pribadi berpendapat, lebih baik pendirian organiasi, forum ataupun apalah namanya berangkat dari jaringan personal, bukan perwakilan organisasi masing-masing organisasi mahasiswa Minang yang telah lama eksis. Barulah kemudian dibuat perwakilan-perwakilan daerah yang dipimpin oleh personal-personal yang ada. Pendekatan ini, tidak saja melebur sentimen dan ego masing-masing mahasiswa yang berlainan universitas serta konflik internal organisasi, tapi juga bisa menarik mahasiswa-mahasiswi Minang yang tak aktif di organisasi mahasiswa Minang yang telah eksis di kampus. Tentu saja, apabila organisasi mahasiswa Minang di daerah-daerah menyatakan kesediaan bergabung secara organisatoris, menjadi kekuatan positif bagi kekuatan organisasi berskala internasional ini nantinya.

Kedua, fokus kegiatan yang akan dilakukan hendaknya lebih berorientasi pada kerja-kerja nyata. Karena masyarakat sudah bosan dengan wacana-wacana melangit tanpa realisasi. Kalaupun ada acara-acara semacam seminar, ataupun workshop, itupun harus diletakkan sebagai konsep aplikatif yang nantinya bisa panduan atas proyek-proyek di lapangan. Tak perlu berorientasi pada hal-hal yang besar. Tapi mulailah dari hal-hal yang kecil.

Mudah-mudahan kita tidak terjebak pada sebuah adagium terkenal tentang penyesalan orang tua. “Pada masa muda, aku ingin mengenggam dunia. Tapi seiring berjalannya waktu, tiada aku mampu melakukannya. Akupun kemudian kemudian berpikir, untuk mengurus negaraku saja. Namun, setelah kucuba tiada pula aku mampu mengurusnya. Umurkupun semakin tua, hingga akupun berpikir lebih baik mengurus keluargaku saja…”.

Sesuatu yang besar biasanya dimulai dari hal-hal yang kecil. Langsung menuju pada ledakan besar, hanyalah berujung pada euforia sesaat yang kemudian tenggelam digilas masa. Kita memang harus memulai dari mimpi. Tapi aksi menjadi jalan yang mesti ditempuh untuk realisasi. Kesalahan kita, bukanlah terlalu tinggi mengantungkan mimpi. Tetapi terlalu cepat ingin terbang. Sehingga, karena sayap tak punya terhempas juga akhirnya.

Btw, salam semangat untuk pendirian Organisasi Mahasiswa Minangkabau Se-Dunia…