Kembali menuju Jakarta ntuk memenuhi panggilan interview kerja Kompas Dot Com. Berangkat dari Jogja bersama kereta Fajar Utama pada Kamis pagi, 2 Desember 2010. Sebenarnya Bapak telah memberikan 2 nomor handphone keluarga dekat, karena khawatir aku “mengelandang” lagi seperti kedatangan sebelumnya saat menghadiri tes Kemenakertrans. Tapi aku lebih memilih menghubungi Doni, teman satu SMA yang sama-sama lulusan UGM. Syukurlah Doni sudah kembali dari Singapore.

Doni adalah sosok pemuda idaman para wanita. Dengan wajah ganteng, smart, periang, necis, rapi, dan  posisi penting di sebuah Bank Swasta Asing terkenal, temanku satu ini telah menjadi bagian eksekutif muda baru di Jakarta. Plesiran ke luar negeri sudah menjadi hal biasa. Namun, semua itu tak membuatnya berubah. Doni tetap low profile, ramah, dan baik hati seperti yang kukenal saat SMA dulu.

Jum’at pagi, di tengah derasnya hujan yang menguyur Jakarta, aku memulai perjuangan merubah nasib. Menumpang Metro Mini 640, berangkat dari Setiabudi menuju kantor Kompas Gramedia di Palmerah. Jauh lebih besar dan megah dari kantor Republika di Warung Buncit, gedung Kompas Gramedia benar-benar membuatku takjub. Tidak hanya itu, setiap melewati pintu masuk/keluar, setiap orang harus menempelkan card khusus agar pintu terbuka.

Setelah menunggu satu jam, akhirnya aku dipanggil ke dalam ruangan interview. Jam 10.10 wib wawancara-pun dimulai. Kucuba menarik perhatian Mbak Evi, sang interviewer Kompas, dengan memberikan buku “Messianik Yahudi”. Beliau cukup suprise dan kemudian mulai mengajukan rentetan pertanyaan seputar kemampuan dan pengalamanku menulis. Persis 30 menit, interviewpun diakhiri. Karena masih ada kandidat lain yang mesti diuji oleh Mbak Evi.

Suara tadarusan Al Qur’an mulai mengalun, memanggil kaummuslimin untuk segera menghadiri Sholat Jum’at. Satu masjid besar di seberang jalan kantor Kompas Gramedia begitu menarik perhatianku. Hingga kuputuskan untuk sholat Jum’at di sana saja. Ketika takmir masjid menyampaikan beberapa pengumuman sebelum khatib naik mimbar, aku terperangah. Ternyata masjid yang sedang kududuki saat itu adalah Masjid MPR/DPR-RI.

Hari kedua di Jakarta adalah momen yang begitu kunanti-nantikan. Apalagi kalau bukan menyaksikan pertandingan live Indonesia vs Laos di Istora Senayan. Persis setelah sholat Dzuhur, aku berangkat ke Senayan dengan Busway Trans Jakarta. Hanya melewati beberapa halte, akhirnya aku sampai.

Tiket kelas 1 seharga Rp. 100.000 sudah di tangan. Tapi jam masih menunjukkan pukul 1 siang. Masih 4 jam dari kick off pertandingan pertama Malaysia vs Thailand.

Adzan Ashar-pun berkumandang. Membangunkanku dari tidur siang di dalam masjid Istora Senayan. Hujan mulai mereda. Jam 4 sore, akupun mulai bergerak menuju stadion. Setelah melewati pemeriksaan di gate 8, akupun sudah berada di barisan kursi penonton. Serasa bagaikan mimpi. Tak terbayangkan sebelumnya, aku sudah berada di dalam stadion nomor satu di Indonesia, Gelora Bung Karno.

Lagu “Indonesia Raya” mengalun keras dinyanyikan oleh pemain timnas dan seluruh suporter yang memadati stadion. Semakin bergemuruh, ketika wasit mulai meniup peliut tanda pertandingan dimulai. Benar-benar pengalaman luar biasa, bisa menjadi bagian puluhan ribu suporter yang mendukung Timnas berlaga. Tiap kali bola mengalir di pertahanan Laos,  penonton yang semula duduk manis, langsung berdiri sambil berteriak histeris. Gol demi gol tercipta. “Garuda di Dadaku”, “Kita Harus Menang”, terus mengalun keras bersamaan tabuhan drum. 6-0, skor akhir yang membuat suporter tersenyum riang berjalan pulang.

Selepas sholat Dzuhur di hari Minggu (4 Desember 2010), aku pamitan kepada Doni. Sudah saatnya aku kembali ke Jogja, setelah melewati hari-hari menyenangkan di Jakarta. Namun, sebelum menuju stasiun Senen, masih ada satu agenda lagi yang mesti diikuti, pertemuan awal  pendirian Organisasi Mahasiswa Minang se Indonesia di kantor Biro Penghubung Provinsi Sumbar di Matraman. Tidak saja berkesempatan bertemu dengan teman-teman dari UI, UIN Sahid, dan UNJ, untuk pertama kalinya, akupun bisa bertatap muka dengan Dendi Pratama (pemenang Eagle Award 2010), sosok yang pernah kuangkat dalam sebuah tulisan di Padang Media.

Lengkap sudah perjalanan 3 hari di Jakarta. Pengalaman yang tak akan kulupakan. Di atas kereta Senja Utama, akupun mulai terlelap. Bersama sebuah do’a, “Tuhan, izinkah aku menjadi bagian dari hiruk-pikuk kota Jakarta…”

Kereta Senja Utama bergerak meninggalkan Jakarta, di tengah rintik-rintik gerimis malam. Hit jadul Pance, yang dialunkan seorang pengamen jalanan, membuat anganku kembali mengingatmu.  Kucuba pejamkan mata.  Paling tidak bisa meredam kesedihan atas diammu selama beberapa hari ini.

Saat kegelisahan jiwa makin tak menentu, handphone-ku berbunyi. Ternyata sebuah pesan singkat darimu. “Hati-hati ya Gun”.

Ya Tuhan, sekuel apalagi ini? tanyaku dalam hati. Setelah 3 hari dia mendiamku, kemudian ia kirimkan sebuah pesan spesial, persis ketika aku kembali pulang ke Jogja. Ingin rasanya aku menangis, dalam kelindah gundah sedih dan gembira.

Sayang, tak mampu lagi aku mengalirkan kata untuk mengekspresikan semua. Hanya lewat lagu, “Betapa Ku Cinta Padamu” yang dibawakan Kak Siti Nurhaliza, kusampaikan suara hati, “Aku kan menantimu… Walaupun seribu tahun lagi harus menunggu…”.

Aku tak ingin menambah deretan panjang kisah cinta. Meskipun aku sempat terlena dengan beberapa gadis, namun mulai detik ini hingga nafas berhenti, cukuplah engkau  yang bertahta di hati ini. Karena engkaulah cinta pertama, dan (kuberdo’a) jadi cinta terakhirku.