Letih menyerang tubuhku selepas sholat Magrib tadi. Ngedit naskah buku dari pagi sampai menjelang Dzuhur, ngurus ISBN pesanan mbak Septi setelah sholat jama’ah di Masjid Asrama, plus nyetrika pakaian buat keberangkatan ke Jakarta besok sore, benar-benar membuat staminaku terkuras. Sehabis sholat ba’diyah Magrib akupun segera balik ke asrama. Singgah di ruang TV sebentar. Tapi berita di Metro TV tak begitu menarik perhatianku, hingga akupun kembali ke kamar. Langsung berbaring di atas kasur tua yang telah menemaniku selama 8 tahun lebih. Sudah tipis, menyusut setengah ukuran dari awal kubeli dulu.

Di saat tubuh yang tak mampu lagi digerakkan, alam sadarku masih mampu menyimak ceramah dari Ustadz Abu Abdirrahman dari toa masjid yang begitu jelas suaranya hingga sampai ke kamarku. Tema kematian dan sakratul maut semakin membuatku lemes. Bukan tak suka dengan ceramah itu, tapi karena kesadaran yang tersentak akan dosa dan nista yang telah terlakukan selama ini.

Adzan Isyapun berkumandang. Segera aku bangkit dari pembaringan. Ambil wudhu dan langsung melangkah ke masjid. Saat beranjak kembali ke asrama, aku sempat ngobrol sebentar dengan Ustadz Abu. Ya, aku sudah mengenal beliau seiring perkenalanku dengan Ustadz Ridwan Hamidi. Bahkan dulu sempat dekat, ketika aku menjadi santri Ma’had Masjid Pogung Raya. Seiring pelarianku dari Salafi, seiring itu pula kedekatan kami merenggang. Meski sejak dua tahun yang lalu Ustadz Abu rutin memberikan pengajian mingguan di Masjid Asramaku.

Dah selesai kuliah antum? Sudah ustadz… Ni lagi nyari-nyari kerja… Ngak lanjut S2? He2.. Belum Ustadz. Sekarang masih berjuang naikin score toefl… Oh, baguslah. Saya sekarang juga lagi ngejar toefl… Eh, ustadz lagi S2 ya? Dimana?… Ya, kemarin ambil di UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta) bareng sama ustadz-ustadz yang lain… Lha, terus S1-nya dimana? Ya, di UMS juga…”

Aku benar-benar terkejut. Tak nyangka Ustadz Abu dah s2 sekarang. Setahuku beliau cuma aktif belajar di Ma’had dan berdakwah setelah memutuskan berhenti kuliah dari Politeknik Bandung. Benar-benar suprise. Apalagi ustadz nanya-nanya tempat kursus toefl yang bagus. Terasa aneh, karena bahasa Inggris selama ini termasuk bahasa yang dihindari oleh ustadz-ustadz Salafi.

Ya, dunia bergulir begitu cepat. Kenalan-kenalan lama yang dulu masih biasa-biasa saja, sekarang bermetamorfosis menjadi sosok-sosok luar biasa, termasuk Ustadz Abu Abdirrahman. Di sisi lain, aku merasa tetap saja stagnan tanpa perubahan yang berarti. Aku masih termanggu di sini, di asrama yang telah kutempati sejak 8 tahun yang lalu. Meski sudah mampu merampungkan kuliah, tapi status baru sebagai pengangguran tak lebih baik dari saat-saat mengalami problema kuliah dulu.

Aku tak kecewa kepada Tuhan atas takdir yang kulalui. Hanya aku kecewa dengan diriku sendiri. Kenapa masih seperti ini, sementara teman-teman lain sudah menapaki karier dan menuju kemapanan. Tapi haruskan aku larut dalam kesedihan dan meratapi nasib yang tak sebaik orang lain?

Kucuba merenung lebih dalam. Sampai akhirnya ku menyadari bahwa betapa beruntungnya aku. Aku masih punya orang tua yang begitu menyanyangiku. Aku masih punya adik-adik yang menjadikanku sebagai tauladan. Aku masih bisa berkenalan dengan orang-orang hebat, tidak hanya berkaliber lokal tapi juga yang berkaliber nasional-internasional. Aku masih punya teman-teman yang selalu menguatkan ketika aku benar-benar rapuh. Aku masih punya sahabat-sahabat baik yang selalu ada ketika aku kesusahan. Masih ada sosok-sosok spesial yang begitu tulus memberikan cintanya kepadaku.

Maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan engkau dustakan? Penggallan ayat-ayat pendek pada surat Ar Rahman itu menyentakkan sanubariku. Sambil menampar diri, sampai kapankah aku menjadi hamba yang kufur. Kenapa nikmat yang begitu banyak selalu kubalas dengan kedurhakaan.

Besok sore, Insya Allah aku akan berangkat lagi ke Jakarta. Kembali mengadu peruntungan di ibukota. Menghadiri tes kerja di Kompas Gramedia. Gitra, teman satu SMA yang sekarang kerja di PT. Antam dan lagi ambil S2 di UI, telah mengizinkanku untuk menumpang di kos-annya. Tumpangan gratis yang begitu berharga, plus kesempatan bertemu lagi dengan Mas Jimmy, sosok kocak yang membuatku tidur larut malam saat numpang di kos-an Gitra beberapa bulan yang lalu saat tes Pelindo II karena keasyikkan ngobrol.

Aku begitu bersemangat datang lagi ke Jakarta. Tidak hanya karena panggilan Kompas yang begitu prestisius, tapi keinginan untuk bersua lagi dengan E***-lah yang membuatku antusias mendatangi Jakarta. Kerinduan menatap wajah ayunya, kerinduan mendengarkan suara merdunya berkelindan kuat dalam hatiku. Mudah-mudahan pengharapan perjumpaan ini bisa jadi kenyataan… Amien…

Btw, buat teman-teman pengunjung yang baik, mohon do’akan aku ya. Semoga bisa lulus tes kerja dan bisa bertemu lagi dengan dia, kekasih hati ini…