Anggun!!! Saya bangga anda suka menulis. Sudah dua kali secara tidak sengaja saya buka tulisan anda, yaitu mengenai Natsir dan komentar atas dialog saya dengan Bang Yusril di TVOne. Doa saya menyertai, semoga anda selalu sukses… (Hamdan Zoelva – 28 Juli 2008 pukul 09:54)

Teruslah menulis, anda punya potensi… (Yusril Ihza Mahendra – 29 Juli 2008 pukul 13:12)

Kembali kubuka dua komentar dari dua tokoh petinggi Partai Bulan Bintang yang singgah di blog ini pada bulan Juli 2008 yang lalu. Terasa spesial karena waktu itu adalah masa-masa menentukan bagi kuliahku yang sempat terbengkalai beberapa tahun lamanya. Teman-teman tentu bisa membayangkan kebahagiaan yang luar biasa karena dikunjungi oleh orang hebat seperti Pak Yusril (Pakar Hukum Brilian) dan Pak Hamdan (Hakim Mahkamah Konstitusi).

Sore ini dihiasi oleh momen-momen spesial. Menjelang sholat Ashar, deringan nomor tak dikenal membuatku terbangun dari tidur siang. Eh, ternyata telpon dari Mbak Septi (alumni Fisipol UGM) yang beberapa bulan lalu barengan di kelas Advance Jogja English Dormitory. Katanya dia barusan nemu tulisanku tentang bagaimana mengurus ISBN ke Perpustakaan Nasional. Kebetulan kantornya (Copy Center Buana Jogja) lagi dapat order nyetak buku dari mahasiswa Tehnik UGM. Terus ada kendala untuk mendapatkan ISBN. Akhirnya beliau minta aku datang ke kantornya untuk membantu pengurusan ISBN.

Di sela-sela ngobrol dengan Mbak Septi, handphoneku berdering. Nomor baru lagi, dengan kode area Jakarta. “Selamat Sore… Benar ini dengan Mas Anggun Gunawan? Begini Mas, kami dari Kompas Dot Com mengundang Mas untuk mengikuti interview hari Jum’at besok tanggal 3 Desember jam 8.30 di kantor Kompas Jakarta. Kira-kira Mas bisa datang?…”

Telpon tak terduga itu, benar-benar membuatku girang. Karena sudah beberapa kali memasukkan lamaran ke Kompas, tapi belum ada panggilan. Dan sore ini, harapan itu muncul kembali. Meski baru dalam tahap tes, tapi diberikan kesempatan untuk mengikuti interview di Kompas, tentu sesuatu yang istimewa bagiku. Entah apa hasil yang kuterima nanti, yang jelas aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk melewati tes ini. Karena ekspetasi terbesarku adalah menjadi penulis hebat. Dan menjadi journalist adalah jalan terbaik untuk mewujudkannya.

Menjelang keberangkatan ke Jakarta, aku harus ngebut mengerjakan editing buku Pak Nusyirwan dan menyelesaikan ISBN pesanan Mbak Septi. Paling tidak semua bisa selesai pada Rabu siang. Sehingga aku bisa berangkat Rabu malam dengan kereta Begawan Solo dari Jogja. Itupun kalau ada teman yang mau ngasih tumpangan nginap. Jika tak ada, mungkin aku berangkat Kamis Sore aja dengan kereta Progo Jogja. Sampai di Jakarta Jum’at dinihari dan langsung ngebis ke Palmerah.

Meski ini baru langkah awal, tapi aku akan laluinya dengan optimis. Yang penting berusaha dulu. Endingnya, biarlah takdir yang menentukan. Karena hanya Tuhan yang tahu jalan terbaik buat kita. Jangan pernah putus asa. Selama Tuhan memberikan hirupan nafas, selama itu pula semangat mesti dikobarkan. Walaupun terkadang kegagalan membuat jiwa merasa lelah dan hati bersedih, tapi jangan pernah berputus asa atas harapan indah yang telah dipersiapkan Tuhan.

Jakarta, aku datang lagi menginjakkan kaki di tengah hiruk-pikukmu yang jauh berbeda dengan Jogja. Aku merasakan spiritmu. Aku merasa lebih bergairah ketika mengunjungimu. Ku berharap bisa menjadi bagian dari kerasnya hidup yang engkau berikan.

Tidak hanya melewati tes kerja dengan baik, akupun berharap bisa menemuimu lagi di Jakarta. Setelah minggu lalu mengikuti tes Kemenakertrans tak bisa bersua denganmu. Moga engkau punya waktu ntuk bersua denganku pada kedatangan kali ini. Karena benar-benar aku rindu menatap wajahmu lagi. Rindu mendengar suara lembutmu lagi. Mudah-mudahan Tuhan mengabulkan permintaanku ini… Amien…

Iklan