Selalu gagal ketika memulai ta’aruf dengan seorang akhwat membuatku berpikir keras, apa yang salah dengan diriku. Dilema yang membuatku linglung, hingga kuputuskan bertanya pada seorang adek sesama aktivis IMM, burukkah akhlakku – kurang sholehkah aku – tidak pintarkah aku sehingga semua menjauh ketika kudekati?

Jawaban adek itu, jauh dari nada negatif. “Baik n baik” begitu ucapnya. Jika dianggap baik, kenapa aku harus menemui kenyataan pahit menjadi  pemuda sunyi hingga umurku hampir memasuki 26 tahun? Apalagi mencoba melirik kepada teman-teman lain dengan kualifikasi yang mungkin lebih rendah dariku, berhasil menjalin hubungan dengan gadis dambaan hatinya. Timbul rasa iri, yang berhujung pada kebencian terhadap diri sendiri.

“Jika Mas adalah laki-laki baik dan calon suami yang baik, tapi kenapa semuanya menghindar Dek?”, tanyaku lagi kepada adek itu. “Cinta tu perlu chemistry Mas, bukan sekedar baik/tidak baik.”

Ya, akhirnya aku menemukan jalan keluar dari misteri cinta. CHEMISTRY, ya chemistry. Cinta itu masalah perasaan. Rasa suka itu bermuara di hati. Mungkin pikiran bisa membuat parameter-parameter logis. Tapi tetap saja tak mampu mengalahkan gejolak aneh yang ada di jiwa.

Jika sudah demikian dinamikanya, maka tak salah ungkapan yang menyatakan, “Jodoh adalah rahasia Ilahi yang akan indah pada waktunya…”. So, buat teman-teman yang masih jomblo, bersabarlah menunggu keputusan Allah. Seraya terus berusaha memperbaiki dan memanjatkan do’a agar dikaruniai belahan hati dunia yang kehadiran menentramkan jiwa.

Tetap semangat, tetap optimis. Karena Allah tak pernah mengecewakan hamba-hambaNya yang serius berjuang meraih cinta dengan niat menjaga kesucian diri…