Polemik pelaksanaan Kongres Kebudayaan Minangkabau (KKM) masih saja terjadi. Dua kubu yang saling bersitegang masih sama-sama istiqomah dengan pendirian masing-masing. Gebu Minang sebagai inisiator tetap melakukan manufer untuk meng-gol-kan pelaksanaan KMM. Sementara LKAAM Sumbar, Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) dan ninik-mamak, anak-kemenakan urang Minang yang tergabung Gerakan Menolak Kongres Kebudayaan Minangkabau (GM-KKM) tetap mengadakan perlawanan.

Tercatat sudah 4 kali pelaksanaan KKM mengalami penundaan. Dimulai dari 10-11 Juli 2010,  7-8 Agustus menjadi 23-24 September, 30-31 Oktober, dan reschedule terakhir pertengahan November 2010. Artinya, ketidaksepahaman dan konflik  antara pengusung dan penolak KKM telah terjadi berbulan-bulan. Meskipun bagi orang Minang perdebatan merupakan suatu kewajaran sebagaimana pepatah “iduik api dek silang kayu di tungku”, tapi perang urat syaraf baik itu di media ataupun dalam forum-forum konsilidasi saling bertatap muka tetap saja meninggalkan bekas di hati. Sebagaimana kata Buya Hamka, “Kalaulah robek kain, walaupun dijahit dan disulam, tetap saja tak mulus seperti semula…”.

Sesuatu yang dimulai dengan sengketa jika tetap dipaksakan akan menimbulkan ekses tidak baik ke depan. Taruhlah Gebu Minang lewat pendekatan birokratis akhirnya bisa menyelenggarakan KKM. Namun, apakah hasil dari Kongres 2 atau 3 hari itu bisa terealisasi apabila di lapangan dendam dari pihak-pihak yang kontra datang menghadang??? Alih-alih membawa perubahan berarti bagi masyarakat, clash kepentingan akan semakin memassifkan polarisasi akibat egoisme segelintir elit.

Rilis resmi yang disampaikan oleh DR. Saafroedin Bahar Ketua SC KKM 2010 menyebutkan ada 4 agenda besar KKM: 1.  Pengamalan ABS SBK secara sungguh-sungguh (yang selama ini baru bagaikan pemanis bibir saja); 2. Pembangunan nagari dan kesejahteraan petani (khusus untuk nagari-nagai di ‘Darek’); 3. Pembangunan potensi maritim dan kesejahteraan masyarakat pesisir (untuk lima daerah tingkat dua di pesisir serta masyarakat nelayan), dan; 4. masalah kebencanaan, untuk seluruh Sumatera Barat.

Tersurat bahwa keinginan Gebu Minang mengadakan KKM berorientasi pada kemajuan Minangkabau ke depan. Namun, GM-KKM melihat makna tersirat dari semua ini. Pertama, ada ketidakpercayaan kepada elemen-elemen di Ranah untuk mendayung biduk ABS-SBK. Kedua, Wali Nagari beserta perangkatnya serta pemerintah daerah belum mampu mengangkat harkat hidup masyarakat secara progresif. Ketiga, ada stigmatisasi bahwa akademisi, niniak mamak, dan alim ulama di Ranah membiarkan kemunduran terus terjadi. Kemudian prasangka tersirat itu menjadi pembakar kemarahan mereka hingga terus bersikukuh pada posisi penolakan.

Pengagas KKM yang notabene banyak menghabiskan waktunya di Rantau, menurut hemat penulis agaknya harus merubah mindset. Memang posisi strategis mereka di Rantau telah mendapatkan penghargaan dari banyak kalangan. Tapi kembali ke Ranah dengan pendekatan “titik dari ateh” lewat jalur birokratis tidak selama efektif. Pertanyaan penting yang harus dijawab oleh penggagas KKM adalah apakah pembaharuan harus melalui kongres? Kemudian setelah kongres cuma melihat-lihat jauh sambil menghabiskan hari tua tetap di rantau? Kemudian setelah berhasil mengirimkan rekomendasi kepada Gubenur, membiarkan orang kampung merealisasikan pokok-pokok pikiran yang telah mereka rumuskan?

“Kamadang rantau di ulu, Babuah babunggo balun. Marantau bujang dahulu, di kampung panguno balun.” Pernahkan kita serius memikirkan makna dari peribahasa yang selalu didengung-dengungkan sebagai justifikasi adat orang Minang pergi merantau itu? Kata “panguno balun” mengindikasi sebuah proses. Dorongan merantau tentu sangat terkait dengan perjuangan merubah keadaan, baik itu dari segi pengetahuan maupun dari segi finansial. Artinya, kalau sudah “menjadi orang”, janganlah terlena di rantau, atau lebih memilih menghabiskan hari tua dan menghembuskan nafas terakhir di rantau dengan argumentasi, “urang kampung ndak sabaun jo kami lai”.

Marilah kita melihat perjuangan Nabi Muhammad SAW, sebagai suri tauladan paling sempurna bagi umat Islam (konon orang Minang mengaku sebagai etnis yang Islami di negeri ini). Beliau ketika melakukan revolusi, hadir di tengah-tengah masyarakat Arab. Tak perlu mendahului dakwah lewat berbagai kongres. Berawal dari pendekatan orang-orang terdekat, kemudian terus bergulir hingga akhirnya meluas menjangkau seantero jazirah Arab. Kenapa perubahan yang diusung Nabi berhasil? Karena beliau hadir di tengah-tengah masyarakat bukan sekedar show di mimbar-mimbar mewah. Bukan sekedar berkoar-koar, kemudian pergi begitu saja. Namun, beliau rela berletih-letih, bahkan sama-sama menumpahkan darah di medan perang bersama umat.

Grand design, road map, garis haluan kerja, atau apalah namanya, tak perlu digembar-gemborkan lewat kongres yang memakan dana puluhan atau mungkin ratusan juta. Belum lagi ongkos dan akomodasi peserta yang kalau kita totalkan dengan biaya administrasi penyelenggaraan akan mencapai angka miliaran rupiah. Bukankah akan lebih baik jika dana itu dialihkan untuk peningkatan pelayanan puskesmas-puskesmas, pemberian beasiswa, ataupun dijadikan modal buat petani, nelayan dan pedagang-pedagang kecil di kampung?

Kalaulah memang Gebu Minang miris melihat pergaulan anak muda di kampung yang sudah menerjang norma agama dan nilai-nilai adat, ayo pulang kampung. Paling tidak bisa memberikan wejangan dan tauladan kepada kemenakan. Jika melihat masjid-masjid megah lenggang dan hanya diramaikan oleh orang-orang tua para camat (calon mati), ayo pulang kampung, gerakan masjid dengan kegiatan-kegiatan menarik minat para kaum muda sehingga bangga menjadi “anak surau”. Jika sedih melihat orang kampung sulit mencari sesuap nasi, ayo pulang kampung, berikan modal dan keterampilan agar derajat mereka terangkat.

Ya, menurut hemat penulis gerakan efektif untuk merubah kampung adalah PULANG KAMPUNG. Juallah rumah di rantau, beli tiket pesawat, dan berniatlah mulai detik ini untuk mengabdi di kampung halaman. Sedikit apapun kerja yang dilakukan tentu akan bermanfaat. Apalagi yang pulang itu adalah para pensiunan Jendral, para pengusaha, dan akademisi yang telah sukses di rantau. Tentu kehadiran mereka bisa menjadi spirit bagi orang-orang di kampung. Tak mungkin orang kampung akan mengusir orang nagarinya sendiri.  Kalaupun para migran yang balik kampung ini cuma duduk santai di rumah, uang yang mereka belanjakan di warung-warung tetangga sudah menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Apalagi kalau mereka berkontribusi lebih dari sekedar menghabiskan hari tua di kampung halaman.

Untuk mengakhiri tulisan ini, ada sebuah  kisah tentang kenalan penulis yang merupakan lulusan S1 di sebuah Universitas di Austria dan S2 di Magister Ekonomi Universitas Indonesia. Seorang gadis Aceh yang tinggal di Jakarta bersama sang Ayah. Beliau sejak beberapa tahun lalu aktif dalam kegiatan pemberdayaan anak-anak jalanan. Sekitar sebulan yang lalu, gadis lajang yang belum berumur 30 tahun ini, melebarkan sayap dengan menjangkau daerah-daerah pedalaman. Saat ini program yang beliau kerjakan adalah  membangun masjid, perpustakaan, dan puskesmas di ujung Sungai Kampar Riau, sebuah perkampungan miskin yang tak tersentuh bantuan pemerintah. Puskesmas dijalankan oleh dokter-dokter kenalannya dan dana pembangunan didapatkan dari teman-teman dekat yang simpati dengan perjuangannya.

Untuk gadis muda yang hidup di tengah gemerlap Jakarta, kegiatan sosial yang dia lakukan sungguh luar biasa. Tidak mesti menunggu terselenggaranya kongres ataupun seminar. Tidak harus melalui tangan pemerintah. Niat baik bisa segera dilaksanakan kalau kita memang benar-benar serius. Kenalan penulis itu mengatakan, “Mas tahu setiap 30 menit 3 orang ibu meninggal karena melahirkan… Nah, masa kita sebagai anak muda yang punya ibu masak kita diam saja… Nunggu lembaga zakat, lama keluarnya. Keburu mati si Ibu…“.

So, buat Bapak-Bapak terhormat  penggagas event spektakuler bernama “Kongres Kebudayaan Minang”, apakah masih menunggu terselenggaranya kongres, baru kemudian berbuat untuk ranah Minang??? Apakah sebenarnya kita memang benar-benar peduli dengan kampung halaman, ataukah hanya sekedar simpati sesaat tanpa mau terjun langsung menyelesaikan masalah yang ada? Kalau memang serius, mari tinggalkan rumah mewah di rantau – kembali ke kampung halaman…

 

 

 

 

Iklan