Beberapa hari ini aku tak sempat menuliskan sesuatu di blog ini. Bukan karena tak ada ide ataupun cerita yang bisa ku-sharingkan, tapi memang aku ingin menyingkir sejenak dari hiruk-pikuk dunia maya yang seringkali mendatangkan musuh-musuh  baru, terutama di facebook. Sebenarnya aku ngak akan kehabisan kata berperang di facebook. Tapi rasanya buang-buang energi saja meladeni orang-orang yang tiada kukenal, apalagi dengan tema-tema pembicaraan yang tak substansial.

Ketika aku sudah menemukan ketenangan, ada saja yang mencoba mengusik. Aku bisa saja melakukan perlawanan karena pengalaman berdiskusi dengan banyak kalangan di Jogja sudah membuatku cukup kuat untuk meladeni sentimenitas dan arus negatif meskipun berhadapan dengan sosok yang lebih tua lebih 10 tahun. Tapi saat ini aku ngak mau lagi terjebak dalam perdebatan tak bermanfaat yang hanya menghabiskan waktu. Lebih baik aku menyingkir karena lawan “Harimau bukanlah Kambing”.

Soal status sebagai alumni asrama atau bukan, tiada pula menjadi persoalan bagiku. Kalaupun ada alumni yang sentimen dengan status abu-abu-ku yang masih menumpang di asrama karena hingga kini masih bernasib tak mujur, akupun rela untuk didelete dari daftar alumni asrama di sebuah group facebook yang katanya hanya untuk alumni itu. Toh, aku tak pernah meminta untuk dimasukkan dan akupun tak pernah punya hutang budi dengan sosok sentimen bersangkutan.

Pantang bagiku untuk meminta tolong kepada orang-orang seperti itu. Aku bisa memperjuangkan nasibku sendiri. Bahkan aku tak kecewa ketika ada letupan dari seorang alumni yang telah bekerja di Neutron, “Kenapa dia ngak minta tolong kepada saya?”, ketika aku mengalami gagal di tes kerja Neutron beberapa waktu yang lalu. Karena aku yakin dengan kemampuanku sendiri untuk mencari kerja. Pertolongan dari “orang dalam” meskipun dulu pernah kenal tidak akan kumanfaatkan karena idealisme sebagai mahasiswa Gadjah Mada telah membuatku kuat untuk memperjuangkan nasibku sendiri.

Sejak hari Rabu kemarin, aku tak lagi stay di Pare Kediri. Pengumuman seleksi CPNS BKKBN tahap 1 yang menerakan namaku dan panggilan wawancara di Republika membuatku harus kembali ke Jogja. Ada berkas-berkas yang mesti dikirimkan dan ada job interview yang harus didatangi. Praktis hanya seminggu aku belajar di Pare. Waktu yang singkat dan dengan konsukuensi harus merelakan uang kos dan uang kursus yang sudah dibayar selama sebulan.

Mungkin secara finansial aku rugi, tapi ada hal-hal berharga yang kudapatkan selama satu minggu di Kediri. Mendapatkan teman-teman baru, merasakan secara langsung suasana kursusan di Pare yang selama ini hanya kudengar cerita-ceritanya saja, kenalan dengan teacher-teacher keren dan baik hati serta yang paling penting adalah bisa melepaskanku dari zona aman yang perlahan membunuhku secara menyakitkan. Buat para punggawa Webster Mr. Farhan, Mr. Dedi, Mr. Aming, Ms. Meirly; dan seluruh teman-teman di Zeal Boy and Zeal Girl, ingin kuucapkan terima kasih tak terhingga atas kedekatan yang tak mungkin terlupakan selama seminggu aku di Pare.

Sambil menunggu hasil tes BKKBN dan Republika, akan kulanjutkan perjuanganku belajar bahasa Inggris di Jogja. Sampai rangkaian penerimaan PNS tahun ini berakhir. Karena capek juga harus bolak-balik Jogja-Kediri. Tambah lagi ongkos wira-wiri yang tak sedikit. Minggu depan giliran memasukin lamaran ke Depnakertrans.  Sebenarnya bisa aja sih kirim lamaran minggu ini, tapi berhubung harus melampirkan sertifikat TOEFL dengan score minimal 500, mau tak mau aku harus melakoni tes TOEFL lagi.

Mudah-mudahan Allah memberikan jalan terbaik untukku sehingga sebelum dentuman kembang api di malam tahun baru nanti, belitan status pengangguran ini sudah lepas dari pundakku…. Amien…