Program speaking malam ini diawali oleh sesuatu yang spesial. Yasinan yang kemudian diteruskan dengan do’a bersama. Bukan soal Yasinan itu bid’ah atau tidak yang mengugah pikiranku. Tapi melihat teman-teman di samping dan di depan begitu lancar melafadzkan surat yang familiar satu ini tanpa membuka Al Qur’an. Artinya, mereka di luar kepala 83 ayat dalam surat yang “lumayan angker” ini.

Flu yang menyerangku sejak tadi pagi belum juga hilang. Hanya tisu yang menjadi pamungkas menyeka hidung yang terus mengeluarkan cairan. Untung saja belum merembet ke tenggorok. Kalau sudah alamat ujian vocab esok hari akan berantakkan. Apalagi persiapan hafalan 100 kata dalam 4 menit belum kulakoni.

Tadi pas kelas sore Grammar di Elfast, Ibu tiba-tiba menelponku. Kabar bahwa uang sudah ditransfer tentu membuatku sedikit tersenyum. Tidak hanya itu, Ibu juga menanyakan kapan aku akan menikah? Beliau meminta agar aku segera mencari calon hingga sebelum Bapak pensiun di awal tahun depan perhelatan sudah bisa dilakukan. Ah, bukannya aku hendak menolak permintaan Ibu. Tapi aku paham betul bagaimana tabiat orang yang akan menikah. Bukankah calon suami harus memiliki pekerjaan? Sementara aku masih luntang-lantung dengan status pengangguran. Mana ada perempuan yang mau menerima lamaran jika melihat kondisiku yang memprihatinkan seperti sekarang.

Kepergian ke Pare, tidak saja ingin belajar Bahasa Inggris, tapi lebih dari itu ada misi perenungan diri yang hendak kucapai. Lama bertahan di Jogja telah menjerumuskanku pada zona aman. Menjadi senior di asrama telah membuatku seringkali teledor mengambil langkah. Egoisme diri dengan berbagai tameng justifikasi telah membuatku menjadi semakin tinggi hati.

Menjadi orang bodoh di Pare, menjadi junior di Camp Zeal hadirkan nuansa baru, bahwa aku bukan siapa-siapa. Semakin tahu arti sebuah persahabatan setelah jauh dari masalah-masalah yang terjadi di asrama. Terus terang aku sangat rindu dengan suasana asrama yang riuh. Tapi entah mengapa seringkali rasa kangen itu hadir setelah perpisahan.

Besok, selepas menyelesaikan kelas siang di Elfast aku berencana pulang ke Jogja. Selain menjemput buku, dan beberapa pakaian yang sempat tinggal, ingin kulepaskan rindu bersama teman-teman di asrama.

Ya, di sini aku mulai banyak belajar akan arti sebuah persahabatan dan keterasingan… Btw, selamat malam buat pengunjung semua… Rasanya postingan kali ini cukup segini dulu ya… Mudah-mudahan besok bisa dilanjutkan lagi… Amien…

Iklan