Terus terang aku tak tahu harus memulai postingan ini darimana. Matapun sebenarnya sudah pingin diistirahatkan. Tapi demi sebuah tekad membuat diary harian selama di Pare, akupun memutuskan kembali menyabangi warnet untuk membuat beberapa kalimat terkait kisahku selama satu hari ini.

Dua hari melewati hari-hari padat dari pagi sampai malam, ternyata membuatku lumayan capek. Apalagi panas Pare yang mengalahkan Jogja membuat tidur siang seperti berada di samping tungku pembakaran batu bata. Kebalikannya, malam hari begitu dingin menusuk tulang. Untunglah, tubuhku masih bisa beradaptasi dan tidak ngedrop karena sakit.

Aku merasa beruntung pernah kursus di Jogja English Dormitory selepas wisuda bulan Februari yang lalu. Meskipun tidak berhasil mengantarkanku meraih score TOEFL tinggi dan tidak berhasil mengantarkanku mendapatkan pekerjaan, namun apa yang diajarkan oleh Miss Vika, Miss Fita, Miss Roro, Mr. Ahwy, Mr. Erwin, dan Mr. Ardit sedikit membantuku memahami program-program yang kuambil kali ini di Pare. Sehingga tidak menjadi student bloon yang bisa termanggu ketika instructor menerangan materi di depan kelas.

Kelas Ground Vocab bersama Ms. Nancy di Webster masih bisa kuikuti dengan baik meskipun kemampuan memorizingku sudah mulai melambat. Kelas Grammar bersama Mr. Runi di Elfast masih kupahami berkat lintasan-lintasan penjelasan yang disampaikan oleh para insrtructor sewaktu di JED dulu. Cuma kelas Pronunciation bersama Mr. Aming di Camp Zeal-lah yang cukup merepotkanku. Tidak saja harus mengenal tanda-tanda baru, tapi harus berolahraga lidah ketika menirukan Mr. Aming mengucapakan beberapa kata yang sama.

Sebenarnya aku masih belum bisa melepas rasa sunyi dan kesendirianku di Pare. Selain impian bisa meraih beasiswa S2, keakraban yang mulai terjalin bersama teman-teman satu Camp membuatku sedikit bisa mengobati homesick Jogja. Kalau selama 3 hari ini aku hanya makan sendirian saja, mulai breakfast sampai dinner barusan sudah barengan. Masih dalam rangka searching tempat makan murah. Nasi sayur, dua goreng, plus teh hangat hanya 4000 rupiah. Lumayan buat penghematan.

Sms-smsku kepada E*** dan E** tiada ditanggapi. Mungkin mereka sudah bosan dengan sms-smsku yang selalu bernada sama.Tapi pilihan pergi ke Pare, ternyata tidak mengantarkanku menjadi orang asing yang dilupakan oleh teman-teman di Jogja.  Masih ada teman-teman IMM yang menanyakan kesedianku untuk mengisi materi pas LID IMM BSKM tanggal 15-17 Oktober besok. Masih ada Uda Febri, mahasiswa S3 Filsafat UGM, yang telah 2 kali menelponku selama di Pare. Pertama memberitahukan tentang artikelku di Padang Media dot com. Kedua, terkait link tokoh Minang Jogja yang experd dengan petatah-petitih Minangkabau.

Mulai dekat dengan beberapa instructor di kursusan, mulai sering bercerita dengan beberapa teman, mulai menemukan rumah makan murah, dan mulai merasakan suasana ala mahasiswa, menjadikanku mulai menikmati hari-hari di Pare. Mudah-mudahan target 3 bulan stay di sini bisa kupenuhi seiring pencapaian meraih TOEFL 550. Tentu, kedatangan teman-teman asrama yang saat berpamitan menyampaikan keinginannya untuk study di Pare sangat kuharapkan.

Segitu dulu ya dari saya. Karena hari semakin malam. Sementara masih ada hafalan vocab dan PR yang mesti dikerjakan. Biar besok ngak malu-maluin pas di kelas. Terima kasih buat teman-teman yang telah membaca artikel keempatku ini. Artikel yang kubuat live dari Pare Kediri. Mat malam semua… Mat istirahat aja ya…:)