Setelah 3 hari stay di Pare, baru malam ini aku bisa makan murah. Bakso yang mangkal di depan Camp Zeal tempat aku menginap seharga 3000 rupiah satu mangkok. Lumayan enak and lumayan banyak. Cukuplah menganjal perut sampai besok pagi. Demi menghemat pengeluaran selama di Pare, agaknya besok aku harus mulai hunting rumah makan murah. Maklumlah, 3 hari ini aku menghabiskan minimal Rp. 5000 untuk satu kali makan. Konon kata teman satu kelas di Elfast, ada tempat makan seharga Rp. 2000.

Hari ini lumayan capek dari kemarin. Karena kelas Ground Vocab di Webster dan Grammar di Elfast sudah dimulai. Dimulai jam 05.30 dengan Ground Vocab yang diasuh oleh instructor cantik dari Klaten. Aku lupa siapa nama Miss yang pernah kuliah di UNY itu. Beliau datang ke Pare tahun 2009 selepas kecewa karena wisuda tanpa menguasai bahasa Inggris. Sekarang, beliau sudah jadi teacher hebat dengan pronunciation yang bagus. Satu hari 50 words dalam waktu satu setengah jam. Lumayan membuat otakku bekerja keras setelah membeku selama beberapa bulan pasca wisuda. Selepas kelas Miss yang cantik itu, tanpa sengaja aku berkenalan dengan urang awak. Dunsanak Yengki, mahasiswa LIPIA Jakarta yang berasal dari Pasaman.

Jam 08.30 kelas pertama Grammar di Elfast dimulai. Lagi-lagi aku ketemu urang sekampung. Alumni Elektro Politeknik Unand yang pas SMA-nya mondok di Pesantren As Salam Solo. Kelas lumayan padat, karena ada 30 peserta. Dimulai dengan perkenalan dari Mr. Runi, sang teacher yang berasal dari Jakarta, kelaspun berlanjut dengan pre test pemanasan terkaiat tenses dan kalimat aktif-pasif.

Selepas satu setengah jam, aku langsung balik ke Camp karena jam 10.30 ada kelas Pronunciation bersama Mr. Aming. Yang ikut lumayan banyak. Tidak hanya teman-teman di Zeal Boy, tapi penghuni Zeal Girl pun nimbrung. Ini benar-benar kelas yang membuat mulutku kram. Maklumlah pelafadzan kata demi kata bahasa Inggris kayak gini baru sekarang kudapatkan. Ada huruf yang ditekan, ada yang di tenggorokan, ada yang bunyinya seperti suara kambing, dan banyak lagi. Kata Mr. Aming kalau sudah lulus kelasnya, kami harus bisa bicara seperti aksen Cinta Laura.

Lima menit sebelum Mr. Aming menutup kelas, akupun harus buru-buru ke Elfast lagi. Ada kelas Grammar sesi 2, yang baru berakhir jam 12.50. Sholat Dzuhur, makan gado-gado, akupun terlelap di kamar di tengah cuaca Pare yang teramat panas. Menjelang jam 4 persis ketika adzan Ashar dikumandangkan, baru aku terbangun. Segera ke kamar mandi.

Sebenarnya jam 4 sore tadi kelas Grammar 2 di Camp, tapi aku putuskan ngak ikut. Mencari ATM BNI lebih mendesak karena uang di tangan sudah menipis. Untunglah ada yang mau meminjamkan Sepeda. Lewat ancar-ancar yang diberikan oleh Mr. Farhan (Direktur Webster), ternyata ngak terlalu sulit menemukan mesin uang canggih itu.

Magribpun datang. Sehabis Sholat, satu program pamungkas hari ini mesti di hadang. Setoran hafalan vocab yang diberikan tadi pagi dan kelas speakingpun berjalan sampai jam 19.00 tadi.

Sehabis dari warnet ini, masih ada 100 vocab yang mesti dihafal. Biar besok pagi ngak benggong di kelas Miss Klaten…:) Ya, apapun yang terjadi, aku harus tetap menjaga semangat. Meski letih, terasa berat, tapi semua harus ku lakoni. Hanya demi sebuah pencapaian. Selepas dari Pare aku harus menjadi sosok yang berbeda… Mudah-mudahan Allah meringankan jalan dan perjuanganku.. Amien…:)