Antrian 2 jam di Poliklinik Mata RS. Sardjito sudah menjadi hal biasa bagiku. Memang teramat membosankan dan membuang waktu. Tapi begitulah rintangan yang mesti dilalui oleh pasien di rumah sakit umum di Indonesia. Jika rumah sakit sekelas Sardjito saja sudah seperti itu, apalagi rumah sakit-rumah sakit yang tidak dikelola oleh akademisi kampus sekelas UGM.

Meskipun sedikit sebel karena harus menunggu berjam-jam, tapi ketika bertemu dengan dokter yang tersenyum manis, seketika perasaan bosan hilang. Sebenarnya tadi pasien tidak terlalu banyak. Tapi untuk Sub Refraks tempat pasien katarak diperiksa dan konsultasi hanya digawangi oleh Dokter Cut. Padahal biasanya ada 3 dokter yang stand by.

Melihat Dr. Arsi datang sekitar jam 10.30, aku sedikit tersenyum lega. Karena antrian akan berlangsung lebih cepat. Meski akhirnya aku baru dipanggil sekitar pukul 11.40. Sangat mepet dengan waktu Jum’atan. Untung saja pemeriksaan berlangsung cepat. Padahal harus periksa USG, periksa tekanan mata, periksa kondisi mata, sama diperiksa secara dekat dengan senter spesial. Saat diperiksa di ruang USG, Dr. Ima yang kebetulan membawa pasien lain, menyapa namaku.

Ah, aku tentu akan merindukan suasana menyejukkan dan sapaan ramah dari dokter-dokter cerdas di Polimata Sardjito. Apalagi tadi Dr. Arsi bilang, kedepan aku cukup check up sekali 2 minggu saja. Keputusan yang di satu sisi menentramkanku karena akan berangkat ke Pare, tapi di sisi lain membuatku sedih. Sungguh berkenalan dengan Dokter Arsi, Dokter, Daru, Dokter Ima, Dokter Anton, Dokter Eva, Dokter Haryo dan Dokter-Dokter lainnya, plus dokter-dokter muda di Polimata Sardjito memberikan warna yang berbeda pada hari-hariku hampir 2 bulan ini.

Sedikit aku paham betapa beratnya menjadi seorang dokter. Sisi material yang selama ini dilekatkan kepada mereka, agaknya terlalu berlebihan dibandingan pengorbanan yang mereka berikan. Salah-salah mengdiagnosis, kesehatan bahkan jiwa pasien menjadi taruhan. Makanya aku sering mendapati dokter-dokter di Polimata Sardjito wara-wiri mencari rekan atau dokter senior untuk mengkonsultasikan gejala-gejala unik yang dialami seorang pasien. Bukan karena tak tahu, tapi hanya untuk memastikan apakah pengamatan subjektifnya benar.

Ah, aku jadi teringat dengan kebenaran inter-subjektif yang sering diceramahkan oleh dosen-dosenku saat kuliah dulu. Jadi bukan kebenaran objektif yang dicari oleh ilmuan atau praktisi eksakta, tapi kebenaran inter-subjektiflah yang mendominasi ketika mereka melakukan medical check up dan diagnosis penyakit.

Spesial buat Dr. Arsi yang telah menemani sejak awal masuk bangsal menjelang dioperasi, Buat Dr. Daru yang menerimaku pertama kali di Sardjito, Buat Dr. Ima yang bergantian memeriksaku bersama dokter Daru dan selalu memberikan nasehat-nasehat berharga untuk kesembuhanku, ingin kuucapkan terima kasih tak terhingga. Entah bagaimana aku membalas kebaikan dokter. Hanya do’a yang bisa kupanjatkan, semoga Allah memberikan limpahan pahala atas kebaikan dokter selama ini.

Waktuku untuk meninggalkan Jogja semakin dekat. Aku tentu akan merindukan dokter semua. Rindu dengan senyum dan sapaan ramah, rindu diperiksa dengan sayang oleh dokter…. Dokter Arsi, Dokter Daru, Dokter Ima makasi buat semuanya ya…:)

Iklan