Konflik yang terjadi hampir 3 minggu ini memang sudah dingin. Tapi bukan berarti semua ikhlas untuk saling memaafkan. Sebanyak yang bisa menerima dengan lapang dada, sebanyak itu pula yang masih menyimpan dendam. Seperti kata Buya Hamka, “Kalau sobek kain, maka tak mungkin bisa seperti semula lagi. Meskipun sudah ditambah dan dijahit pasti tetap menyisakan cela…”. Begitu pula halnya dengan hati. Luka hati tak akan begitu saja hilang meski sudah tertutupi dengan maaf dari lisan.

Sejak kemarin aku sudah memutuskan tidak akan lagi ikut campur dengan urusan asrama. Sudah cukup rasanya. Peranku selama ini seringkali membuat situasi tidak menjadi lebih baik. Bukan aku tak peduli, tapi itulah jalan terbaik kelanjutan pengkaderan. Makanya sejak kemarin sampai tadi sore, aku sibuk sendiri, mengurus surat-surat untuk keperluan lamaran pekerjaan. SKCK dan Kartu Kuning yang menjadi syarat wajib buat para jobseeker sepertiku.

Gagal di Neutron, memang membuatku sangat kecewa. Bukan karena tidak diterima, tapi lebih dikarenakan tak tahu salahku dimana. Namun, aku tak ingin larut dalam sedih yang berujung pada keputusasaan. Beberapa hari ini aku menemukan semangat lagi. Kembali mencoba peruntungan sebagai Reporter Republika, mengisi formulir online LIPI dan BKKBN meskipun tidak tercantum formasi untuk lulusan Filsafat. Mudah-mudahan percobaan kedua di Republika akan lebih baik dari tes  di Jakarta dulu. Mudah-mudahan pula gambling di LIPI dan BKKBN memberikan hasil yang kuharapkan.

Sementara lamaran kerja dimasukkan, plan ke Pare Kediri tetap harus direalisasikan. Barusan Bapak menelponku, menanyakan kepastian kapan berangkat. Kubilang mungkin sekitar hari Sabtu dan Ahad ini. Karena besok aku harus melewati check up rutin di RS. Sardjito, ngirim surat pindah Mudar yang tadi sudah selesai, ambil SKCK di Poltabes Jogja, dan mengembalikan flash disk Pak Iwan sekaligus minta maaf karena tidak bisa menconvert disertasi beliau menjadi naskah buku. Aku masih ragu berangkat hari Sabtu. Ada 2 halal bi halal yang rasanya sayang untuk dilewatkan. Pagi, halal bi halal teman-teman IMM BSKM yang menghadirkan Pak Amien Rais. Malam, halal bi halal Keluarga Besar Minang Yogyakarta yang terakhir kuikuti tahun 2006.

Tadi sudah sempat sih nelpon ke Elfast dan Webster, 2 tempat kursus yang kutuju di Pare. Kata CS-nya kelas akan dimulai hari Senin. Kalaupun sampai hari Minggu, kupikir masih bisa masuk kelas hari Senin meskipun tak ada kesempatan untuk istirahat. Tapi lihat situasi aja. Tergantung tiket kereta api yang besok juga harus kucari di Stasiun Tugu. Yang pasti aku tidak akan membatalkan keberangkatan ke Pare dalam minggu ini. Dorongan semangat dari Bapak telah membuat tekadku bulat. Kalau harus menunda-nunda lagi, alamat waktuku akan terbuang percuma. Sementara beasiswa S2 ke luar negeri telah dibuka bulan Desember dan Januari. Paling tidak aku butuh waktu 3 bulan untuk mencapai TOEFL di atas 550. Memulai kursus di awal Oktober ini, tentu targetku bisa tercapai di awal Januari nanti. Persis ketika beasiswa India dan Fullbright dibuka.

Tadi pagi, pas menghadiri kajian Kamis Pagi di PP. Muhammadiyah, aku ketemu lagi dengan Ustadz Faturrahman Kamal, Lc. M.Ag. Ustadz hebat lulusan Gontor dan Fakultas Aqidah-Dakwah Universitas Al Madinah Saudi Arabia. Satu cerita menarik, ternyata beliau belum menonton Film Sang Pencerah. Bukan karena apa-apa. Film tentang Kiyai Ahmad Dahlan itu diputar di bioskop 21 dan XXI. Ustadz bilang, “Kalau saya menjejakkan kaki di Twenty One, saya tidak punya alasan lagi untuk melarang anak saya kalau mereka besar nanti untuk datang ke bioskop…. Ini pilihan pribadi… Dan saya tidak akan memaksa jama’ah untuk mengikuti jejak saya…“.

Dalam hati aku berpikir, memang berat menjadi Ustadz. Ada muru’ah diri yang mesti dijaga agar tak terjadi fitnah. Tauladan Ustadz Faturrahman membuatku tersadarkan untuk kembali melakukan instropeksi diri akan kesalahan-kesalahan yang terlanjur dilakukan selama ini. Bukan sekedar pencitraan ataupun ingin dikatakan sebagai orang baik-sholeh. Tapi demi sebuah perjuangan menyelamatkan diri dari siksa api neraka.

Mudah-mudahan perjalanan Pare esok lusa menjadi awal bagiku untuk berubah menuju kebaikan. Memulai hidup baru demi masa depan yang lebih cerah dari hari ini. Ya Allah, redhailah kepergianku…