Selain hiruk pikuk pembahasan RUU Keistimewaan Yogyakarta yang salah satu tema sensitifnya adalah bagaimana Gubenur DIY akan dipilih, ada wacana hangat yang perlu dicermati oleh para pengamat politik di seluruh Indonesia. Apa itu? Tak lain dan tak bukan, majunya Achmad Hanafi Rais, S.IP. M.A sebagai Calon Walikota Yogyakarta pada Pilkada Jogja yang akan digelar tahun 2011 nanti.

Mengapa keterlibatan Hanafi Rais begitu menarik? Pertama, beliau adalah putra sulung Prof. Dr. Amien Rais, tokoh nasional sekaligus tokoh reformasi 1998. Dari sisi ini kita bisa melihat bagaimana Pak Amien sedang melanjutkan membangun Dinasti Politik Baru setelah berhasil mendudukkan Ahmad Mumtaz Rais sebagai anggota DPR RI pada Pileg 2009 yang lalu. Bagi pengamat politik, langkah taktis yang dilakukan oleh Pak Amien ini tentu menjadi kajian menarik jika melihat fenomena pembangunan dinasti politik juga dilakukan oleh tokoh-tokoh nasional yang lain seperti SBY dan Megawati.

Kedua, majunya Hanafi sebagai Calon Walikota akan menjadi inspirasi bagi banyak anak-anak muda di Indonesia untuk berani terjun langsung pada politik praktis untuk melakukan sebuah perubahan. Artinya, kesuksesan Hanafi nantinya bisa gelombang besar kemunculan anak-anak muda Indonesia untuk tampil sebagai pemimpin-pemimpin baru di negeri ini baik dalam scop daerah, regional maupun nasional. Karena potensi generasi baru Indonesia telah tampak lewat perhatian serius mereka pada persoalan-persoalan negara baik kiprah mereka di dunia akademis, NGO, ataupun dunia bisnis dan birokratis. Kita bisa menemukan tulisan-tulisan berbobot yang dipublikasi oleh media-media nasional dan kitapun pernah melihat mereka tampil di televisi-televisi nasional.

Hanafi adalah putra sulung yang sangat dinanti-nantikan oleh Pak Amien dan Ibu selama 10 tahun. Menurut cerita yang disampaikan oleh rekan-rekan saya yang dekat dengan Pak Amien, konon Istri Pak Amien sudah divonis tidak bisa punya anak oleh Dokter-Dokter di AS karena setelah melakukan pemeriksaan medis ditemukan kelainan reproduksi yang membuat beliau tidak bisa memiliki keturunan. Pak Amien yang terkenal sebagai santri saat itu marah besar. Tak percaya dengan ucapan par dokter itu, beliaupun memilih jalan spiritual. Maka setelah vonis menyakitkan itu Pak Amien berangkat ke Tanah Suci untuk umrah. Di Multazam beliau menangis kepada Allah. Manusia dengan kecanggihan ilmu pengetahuannya memang bisa menjudge seseorang tak bisa memiliki keturunan. Tapi kuasa Allah melebihi segalanya. Hingga selang beberapa bulan kemudian, Istri Pak Amien hamil dan melahirkan putra pertama di Chicago AS pada tahun 1979 yang diberinama Achmad Hanafi Rais.

Hanafi Rais masuk di UGM tahun 1998 dan lulus wisuda tanggal 19 Agustus 2003. Setelah itu beliau melanjutkan S2 di National University of Singapore dengan mengambil prodi Politik  Internasional. Pada saat menjadi mahasiswa Hanafi tidak terlalu menonjol sebagai aktivis meskipun beliau termasuk pengagas kembali eksistensi Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah di UGM setelah mati suri selama beberapa tahun. Tapi kemampuan akademis dan bahasa Inggris Hanafi boleh diacungi jempol. Beberapa kali mendengarkan beliau memberikan ceramah, penulis menilai beliau memiliki kemampuan intelektual yang mumpuni.

Dalam pengakuannya yang penulis dengar sendiri, Hanafi Rais benar-benar serius maju sebagai calon Walikota Jogja pada Pilkada Jogja 2010. “Saya ambil S3 untuk menjadi Walikota Jogja“. Bukan S3 pada program doktoral, tapi Sungguh Sangat Serius untuk mencalonkan diri. Dan salah satu bagian dari keseriusan itu adalah sudah mulainya beliau melakukan safari politik ke berbagai komunitas. Salah satu segmen potensial yang dilirik oleh Hanafi adalah komunitas orang Minang yang ada di Jogjakarta. Sampai-sampai Pak Amien Rais turut membersamai Hanafi dalam safari ini.

Banyak dugaan yang mengatakan Prof. Amien Rais berdarah Minang. Saya masih ingat ketika seorang teman, Qusthan Abqary (Direktur Lembaga Seni dan Budaya PB. HMI MPO) bercerita tentang curhatan Ibunda Pak Amien, persis ketika PRRI sedang bergejolak. “Kalau Natsir menang, kita sekeluarga akan pindah ke Sumatera Barat…”. Begitu ungkapan beliau kepada Pak Amien yang saat itu masih berusia belasan tahun. Dugaan Pak Amien punya darah keturunan Minang semakin kuat ketika melihat sikap keras, egaliter dan   demokratisnya yang berbeda dengan karakter umum orang Jawa. Bahkan kemarin (Ahad, 3 Oktober 2010) ketika menghadiri safari politik menghadiri acara syawalan Sulit Aia Sakato di Asrama Gunuang Merah, Pak Amien sempat bercerita bahwa dirinya dulu pernah bercita-cita menjadi Walikota Solok, sebuah kota kecil di Sumatera Barat yang dekat dengan kampung Mohammad Natsir (Alahan Panjang). Selain itu, Hanafi yang ternyata mempersunting gadis Minang, Astriani Karnaningrum (lulusan Kedokteran Gigi UGM), punya nilai lebih sebagai “Urang Sumando“.

Pilihan Hanafi untuk mendekatkan diri dengan Keluarga Besar Minang Yogyakarta memang strategi politik cerdas. Paling tidak ada 3 alasan yang bisa penulis kemukakan. Pertama, banyak orang Minang di Jogja memegang posisi-posisi penting terutama di sektor bisnis dan pendidikan. Kedua, jumlah orang Minang di Jogjakarta cukup signifikan sebagai lumbung suara. Diperkirakan ada 10 ribuan orang Minang yang menetap di Jogja. Potensi suara itu semakin besar apabila para saudagar Minang yang memiliki banyak karyawan dan keluarga-keluarga Minang yang sudah berbesanan dengan penduduk asli Jogja ikut terlibat aktif untuk mempromosikan Hanafi. Ketiga, nuasan primordial orang Minang masih sangat kental, sehingga kehadiran Mas Hanafi sebagai “Urang Sumando” bisa menjadi ikatan emosional tersendiri yang bisa digiring pada dukungan politik.

Namun, sebagai politisi muda Hanafi juga harus melihat sisi lain dari orang Minang. Meskipun telah diterima dengan tangan terbuka oleh beberapa tokoh Minang, sangat bisa dipastikan gejolak penolakan  pasti akan dihadapi. Karena orang Minang yang egaliter punya pertimbangan dan selera yang berbeda-beda. Sehingga jangan terlalu berharap terlalu besar dengan upaya pembujukan lewat sumbangan Rp. 35 Juta untuk penyelenggaraaan Halal Bi Halal Orang Minang Se-Jogja yang akan dilaksanakan tanggal 9 Oktober besok. Pengalaman Pak Jusuf Kalla pada Pilpres 2009 kemarin bisa bukti nyata bahwa kehadiran sebagai “Urang Sumando” dan “sumbangan materiil” tidak menjadi jaminan diperolehnya dukungan dari orang Minang. Pak Jusuf Kalla kalah telak di kampung istrinya sendiri. Pasangan JK-Win hanya meraih 22,6 persen atau 38.795 suara. Sangat jauh dibanding perolehan pasangan SBY-Boediono yang mencapai 127.769 suara atau 74,3 persen. Padahal sewaktu menjabat sebagai Wakil Presiden banyak jalan-jalan dan infrastruktur yang dibangun di Tanah Datar atas lobi-lobi Pak JK di pemerintahan. Tapi jasa Pak JK terlupakan begitu saja, menguap seiring pesona dan senyum manis SBY.

Satu hal lagi yang mesti diketahui oleh Mas Hanafi adalah pendekatan yang dilakukan terhadap beberapa pengurus Keluarga Besar Minang Yogyakarta (KBMY)bisa menjadi blunder melihat sepakterjang tokoh-tokoh itu. Beberapa sumber menyebutkan lengsernya Dr. Rachmat Ali (yang saat ini menjabat Ketua Umum KBMY) dari kursi Direksi Utama Koran Kebanggaan masyarakat Jogja KEDAULATAN RAKYAT, sangat erat kaitan dengan aksi tampang diri berlebihan (hampir setiap hari foto beliau atau keluarga beliau selalu menghiasi halaman koran Kedaulatan Rakyat) dan penyerahan dana bantuan Gempa Sumbar 2009 yang berjumlah sekian miliyar diindikasi bermuatan politis karena diserahkan kepada salah seorang kandidat yang akan maju dalam Pilgub Sumbar kala itu, sehingga membuat petinggi-petinggi Kedaulatan Rakyat yang lain termasuk Pak Idham Samawi (Mantan Bupati Bantul) kebakaran jenggot hingga memutuskan melengserkan Pak Rachmat Ali dari kursi Direksi Utama yang baru didudukinya beberapa bulan. Perlu Mas Hanafi ketahui, tokoh-tokoh yang Mas Hanafi temui dalam pertemuan tadi malam adalah orang-orang yang terlibat dalam penyaluran bantuan pembaca Kedaulatan Rakyat yang dicurigai bernuansa politis itu. Artinya, upaya merapat kepada bapak-bapak yang terhormat itu bisa menjadi bumerang tersendiri karena konflik terjadi di Kedaulatan Rakyat bisa membuat apatis tokoh-tokoh lokal Jogjakarta yang pada akhirnya membuat Mas Hanafi kehilangan suara yang signifikan.

Sebenarnya saya pribadi sih percaya dengan kapabilitas Mas Hanafi untuk memimpin Jogja 5 tahun ke depan. Tapi minimnya pengalaman, tak terlalu terkenal sebagai aktivis saat jadi mahasiswa, dan safari-safari yang tidak melihat situasi lebih mendalam bisa menjadi bumerang yang berakibat pada kekalahan.

Btw, sukses untuk Mas Hanafi. Kalau KTP Jogja saya yang akan habis tahun 2012 tidak berubah sampai pencoblosan, insya Allah saya akan memilih Mas Hanafi ketika pemungutan suara dilakukan.