Sudah lewat jam satu malam. Tapi mata belum juga mau dipejamkan. Barusan aku pulang dari Asrama Gunung Merah Sulit Aia di Jln. Urip Sumihardjo, depan Cinema XXI Jogja. Menghadiri rapat persiapan Halal Bi Halal Keluarga Besar Minangkabau Yogyakarta yang rencananya akan diadakan di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada hari Sabtu, 9 Oktober 2010 pukul 16.00 – 23.00.

Bukan jalannya rapat yang ingin kuceritakan, tapi pertemuan dengan orang-orang hebat sekaliber Dr. Rahmat Ali (CEO Bank Danagung), Bapak Risman Marah (Fotografer terkenal – Dosen ISI Jogja), Uda Nasrullah (Ketua KPUD Jogja – alumni IIUM Malaysia), dan Uda Syaiful Adnan (Pelukis kawakan) membuatku merasa terhormat bisa duduk bersama orang-orang hebat itu. Meski sibuk dengan profesi dan kegiatan masing-masing, tapi bapak-bapak itu masih sempat-sempatnya meluangkan waktu untuk mengurusi organisasi daerah yang bernama KBMY (Keluarga Besar Minang Yogyakarta). Jam 7 malam mereka sudah stand by, dan ketika rapat resmi ditutup jam 12.20. mereka masih berkutat dengan rapat internal pengurus inti.

Militansi ala orang tua. Padahal mereka bisa saja memilih untuk tidur enak bersama istrinya di rumah. Tapi, kecintaan etnisitaslah  yang begitu dalam membuat mereka mengorbankan waktu dan tenaga demi mengangkat prestise dan eksistensi orang Minang di Jogja.

Rapat tadi terasa spesial dengan kehadiran putra sulung Prof. Amien Rais. Ternyata Mas Ahmad Hanafi Rais adalah urang sumando awak juo. Beliau menikah dengan gadis Minang lulusan Kedokteran Gigi UGM, Astriani Karnaningrum. Tadi merupakan pertemuanku yang ketiga kalinya dengan lulusan National University of Singapore itu. Pertama di Pusat Studi Kebijakan & Kependudukan dalam diskusi terbatas tentang “Ideologi Capres 2009” yang menghadirkan Revrisond Baswir sebagai pembicara. Pertemuan kedua di Aula PP. Muhammadiyah saat pembekalan bagi peserta DAD UGM-UNY. Dan terakhir tadi, dalam rapat besar persiapan Halal Bi Halal Orang Minang.

Banyak dugaan yang mengatakan Prof. Amien Rais berdarah Minang. Aku masih ingat ketika temanku, Qusthan Abqary (Ketua Bidang Seni dan Budaya PB. HMI MPO) bercerita tentang curhatan Ibunda Pak Amien, persis ketika PRRI sedang bergejolak. “Kalau Natsir menang, kita sekeluarga akan pindah ke Sumatera Barat…”. Begitu ungkapan beliau kepada Pak Amien yang saat itu masih berusia belasan tahun. Dugaan Pak Amien punya darah keturunan Minang semakin kuat ketika kita melihat  sikap kerasnya  dan sisi demokratisasinya yang berbeda dengan karakter umum orang Jawa. Bahkan kemarin ketika menghadiri acara syawalan Sulit Aia Sakato di Asrama Gunuang Merah, Pak Amien sempat bercerita bahwa dirinya dulu pernah bercita-cita menjadi Walikota Solok. Impian masa kecil itu tak kesampaian, tapi terealisasi dalam strata yang lebih tinggi menjadi Ketua MPR RI.

Kehadiran Mas Hanafi Rais dalam komunitas Minang Jogjakarta merupakan hal yang menarik bagiku. Selain semakin menguatkan eksistensi sebagai urang sumando, ternyata misi politis juga melatarbelakangi semua ini. Lewat pengakuannya, Mas Hanafi bilang sudah S3. Sungguh Sangat Serius untuk maju dalam Pilkada Kota Jogja tahun 2011 nanti. Road show beliau pada komunitas Minang Jogja tentunya sangat berarti buat penggalangan kekuatan. Pertama, orang Minang di Jogja banyak memegang posisi-posisi penting terutama di sektor bisnis dan pendidikan. Kedua, jumlah orang Minang di Jogjakarta cukup signifikan untuk lumbung suara. Ketiga, orang Minang memiliki prinsip primordial, sehingga kehadiran Mas Hanafi sebagai urang sumando semakin mengukuhkan pameo, “Kalau ado nan dakek, manga maliek nan jauah…” atau pameo, “Iyo dunsanak awak juo”.

Meskipun diterima dengan tangan terbuka oleh beberapa tokoh Minang yang ikut rapat barusan, tapi gejolak penolakan pasti akan dihadapi oleh Mas Hanafi. Karena orang Minang yang egaliter punya pertimbangan dan selera yang berbeda-beda. Mudah-mudahan sumbangan Rp. 30 Juta plus tambahan Rp. 5 Juta tidak untuk penyelenggarakan Halal Bi Halal tanggal 9 Oktober besok, tidak membuat Mas Hanafi merasa yakin 100% akan mendapat dukungan dari semua orang Minang yang ada di Jogja. Tapi melihat keseriusan dan clean track record,  agaknya kans  Mas Hanafi menarik hati para perantau Minang di Jogja, ataupun orang-orang Minang yang sudah menjadi orang Jawa cukup besar.

Kalau aku pribadi sih percaya dengan kapabilitas Mas Hanafi untuk memimpin Jogja 5 tahun ke depan. Tapi minimnya pengalaman dan tak terlalu terkenal sebagai aktivis saat jadi mahasiswa bisa menjadi faktor yang membuat masyarakat ragu untuk memilih.

Ya, mudah-mudahan safari politik Mas Hanafi di Keluarga Besar Minangkabau Yogyakarta bisa terjalin secara baik dengan sebuah niat tulus bersama-sama membangun Jogja. Tapi jika semangat yang melandasi kedekatan ini tak lebih sekedar misi saling memanfaatkan satu sama lain, ataupun diboncengi oleh misi-misi terselubung oleh pengurus KBMY tentu ini akan merusak citra orang Minang Jogja secara keseluruhan.

Cukuplah lengsernya Dr. Rachmat Ali dari Pimpinan Umum Kedaulatan Rakyat yang diindikasikan karena faktor politis menjadi pelajaran bagi pengurus KBMY yang lain untuk tetap menjaga netralitas organisasi primordial ini dari praktek-praktek politik praktis yang sarat dengan aksi tikam-tikaman dan permusuhan. Memakai istilah Pak Amien Rais, seharusnya organisasi daerah sekelas KBMY bisa memainkan peran high politic sehingga tidak banyak kerugian yang akan ditanggung ketika kandidat yang didukung akhirnya gagal dalam pertarungan.

Ya, hari ini aku kembali mendapatkan pelajaran berharga lewat pertemuan dengan orang-orang hebat. Mudah-mudahan bisa menularkan semangat bagiku agar bisa sukses seperti mereka. Karena keberhasilan menjadi tolok ukur orang Minang memperlakukan seseorang. Jangan harap kata-kata anda akan didengar jika hanya orang-orang biasa aja. Apalagi tak punya uang dan jabatan. Alamat badan akan diacuhkan.