Tiba-tiba handphoneku berbunyi. Saat aku terlelap sehabis sholat Shubuh tadi. Masih terasa capek setelah sehari sebelumnya melewati hari yang melelahkan dan baru bisa tidur larut malam. Suara lembutmu hilangkan lelah nan bersemanyam di tubuh ini. Penawar gundah atas persoalan pelik yang kuhadapi 2 hari ini.

Bermula dari hari Sabtu, ketika pengumaman tes kerja di Neutron tak menerakan namaku. Kecewa hadir karena aku tak tahu lagi dimana letak kesalahan. Soal-soal ujian pengetahuan umum bisa kujawab semua, tes komputerpun kulewati tanpa problem, dan dalam wawancarapun telah kutampilkan performce maksimal untuk menyakinkan interviewer. Tapi tetap saja aku belum melepaskan status sebagai pengangguran.

Pengobat kekecewaanku di hari Sabtu itu hanyalah izin yang diberikan oleh Dr. Arsi  Noviana Sari (dokter spesialis mata di RS. Sardjito) sudah bisa sujud lagi ketika sholat. Karena praktis selama sebulan aku tak bisa sholat seperti biasa. Untuk menghindari fitnah dengan cara sholatku yang aneh, tiada pernah aku jama’ah di masjid kecuali untuk sholat Jum’at. Ah, betapa bahagianya bisa sholat normal lagi. Bisa berjama’ah lagi bersama Bapak-Bapak di Masjid Asrama.

Oh ya, teman-teman pasti bertanya, kok aku ngak diperiksa lagi sama Dr. Daru atau Dr. Ima. Sebenarnya kemarin tu ketemu sih sama beliau berdua. Tapi berhubung dokter-dokter yang ambil spesialist harus masuk semua sub divisi di Polimata, makanya sejak senin kemarin Dr. Daru dan Dr. Ima dipindah di bagian Retina.  So, karena dirawat di Sub Refraks, akhirnya ketemu deh sama Dr. Arsi. Sama dengan Dr. Daru dan Dr. Ima, yang sama-sama masih ambil spesialist, Dr. Arsi juga baik. Pas pemeriksaan juga teliti banget. Bahkan beberapa kali Dr. Arsi bolak-balik dan konsul dengan dokter-dokter senior untuk melihat perkembangan mataku pasca operasi. Baru jam 1-an aku bisa pulang dari rumah sakit dengan membawa tambahan obat baru dan diminta untuk check up seminggu lagi.

Sore hari di hari Sabtu yang melelahkan itu, barulah aku bisa membersamai teman-teman baru asrama untuk kunjungan ke asrama putri Belitong dan asrama putri Riau. Sebenarnya dah malu juga ikut acara-acara anjangsana seperti ini. Tapi, berhubung pingin meramaikan suasana dan membuat anak-anak baru ketawa, akhirnya kuputuskan untuk ikut saja.

Esok harinya, hari Minggu, aktivitasku dimulai lebih pagi. Sehabis sholat shubuh, tugas bersih-bersih asrama sudah menunggu. Karena aku masih belum boleh angkat-angkat yang berat, sama Seksi KLH asrama, aku hanya dapat jatah menyapu dan mengepel ruang baca asrama. Semua sudah bersih, pekerjaanpun beres. Aku langsung mandi, pakai pewangi karena pagi ini ada pengajian rutin Ustadz Ridwan. Mengeber motor Grand tua, akhirnya aku sampai di Masjid Kampus UGM. Pas di gerbang, mau ngambil tiket parkir, petugas Masjid bilang pengajian dipindah di Masjid Mujahidin UNY. Akupun berbalik arah. Di tengah jalan kusempatkan singgah di Palanta, lesehan makanan Padang yang buka setiap hari Minggu di pasar Sunday Morning UGM.

Ustadz Ridwan sudah tampak duduk di depan jama’ah. Wajahnya bersih dan tutur kata rapi dengan suara khas yang menentramkan hati. Kali ini kajian sudah masuk pada bahasan Surat Nuh setelah minggu kemarin Ustadz memberikan prolog atas surat Makkiyah ini. Ustadz bilang, kaum Nabi Nuh adalah satu-satunya umat yang hidup di dunia pada masa itu. Beliau berdakwah kepada umatnya selama 950 tahun. Tapi hanya berhasil mengajak beberapa orang untuk bertauhid kepada Allah. Umat Nabi Nuh terbawa dalam kesyirikan dengan menyembah berhala yang dibuat menyerupai orang-orang sholeh yang pernah hidup di tengah-tengah mereka. Kalau dibandingkan, kesyirikan orang zaman sekarang melebihi pembangkangan yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh.

Dakwah semua Rasul adalah mengajak manusia bertauhid kepada Allah dan menjauhkan diri dari syirik. Mestipun kita telah mengikhlaskan peribadahan 9,99 % kepada Allah dan hanya memalingkan hati 0,01% kepada selain Allah, maka amalan kita tidak akan diterima. Karena Allah meminta 100% ketaatan kita kepadaNya. Oleh karena itu, kenapa pembahasan tauhid tetap menjadi prioritas utama untuk dakwah di zaman kontemporer ini meskipun banyak orang sudah asyik dengan tema-tema lain yang aplikatif dan menyentuh problem duniawi umat.

Kesejukan jiwa mendengarkan kata-kata mutiara Ustadz Ridwan hanya bertahan sementara. Beberapa saat kemudian akupun harus bertarung untuk memberikan penjelasan kenapa membuat beberapa tulisan tentang problema terkait asrama putri. Sampai-sampai aku meninggikan nada suara untuk menekankan bahwa persoalan yang sedang kusampaikan adalah persoalan serius. Kemarin adalah puncak dari semua kemarahan, kekesalan kepada asrama putri. Kalaupun mereka sakit hati dan mencibirku, aku sudah ngak peduli lagi. Karena aku tak ingin masalah-masalah kecil yang kemudian menjadi besar karena ketidakmampuan mereka menghandle masalah kembali terulang. Aku sudah ngak tahan melihat anak-anak baru diperlakukan sedemikian rupa hingga menangis berkali-kali oleh tekanan yang mereka berikan. Semua sudah tertumpah kemarin. Dan aku hanya menanti apakah treatment mereka kepada anak-anak baru akan berubah ataupun semakin menjadi gila karena merasa terpojokkan oleh kata-kataku kemarin.

Malam tadi kembali, air mataku terbit. Bukan tanpa sebab, tapi miris dengan kondisi asrama. Teman-teman asrama putra yang ketika di asrama begitu mengebu-gebu untuk bicara hanya diam seribu bahasa. Merekapun hanya mengiyakan apa yang disampaikan oleh teman-teman asrama putri, tanpa sebuah sikap kritis. Hingga tampaklah aksi vokal yang kutampilan bersama Andri dan Irfan menjadi suara sentimen dari angkatan tua yang dituduh sebagai bentuk paranoid angkatan tua asrama. Oleh sebab itulah pulalah aku membuat tulisan “Saatnya Ntuk Pergi“, karena aku merasa sudah menjadi duri dalam daging bagi hubungan teman-teman asrama putra dengan asrama putri. Angkatan-angkatan muda asrama putra tampak lebih enjoy bicara dengan teman-teman asrama putri, ketika tak ada lagi suara generasi tua. Makanya aku berkesimpulan, pergi ke Pare dengan menumpangkan barang di asrama hanya akan menyisakan beban bagi mereka. Tapi komentar Rizal di wall facebook membuatku sedikit lega karena masih ada ruang belas kasihan buat pengangguran tua sepertiku.

E***, teleponmu tadi pagi sungguh hadirkan semangat lagi ketika aku melewati hari-hari berat belakangan ini. Entah bagaimana aku mengekspresikannya. Engkau hadir bagaikan malaikat surga yang berikan ketentraman dalam jiwa ini. “Kalau Gun dah di Pare nanti, kabar-kabari Sa ya Gun...” Sepotong kalimat yang membuatku merasa teramat bahagia.

Do’a-do’a panjang untukmu ketika malam, akan selalu kupanjatkan kepada Tuhan. Kebaikanmu telah dalam menyentuh hati. Engkau bagaikan Bidadari yang membuatku terus kuat dan bisa tersenyum meski berjibun beban dan rintangan kuhadapi. Makasi E*** atas semua keindahan yang telah engkau hadirkan…

Iklan