Dari Jubair bin Mut’im ra sesungguhnya Rosulullah saw bersabda, ” Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan.”. Sufyan berkata : “yaitu yang memutus hubungan tali silaturahmi” (HR. Bukhari dan Muslim)

Alhamdulillah, alunan adzan Shubuh masih temaniku di kala pagi. Tak terlena oleh rayuan setan untuk meneruskan tidur yang memang mengenakkan. Dalam sepi dan gelappun masih kentara di luar, pikiranku masih saja berkelibat dengan asrama putri. Padahal sudah berkali-kali aku hendak melupakan. Bahkan aku sudah hampir sampai pada keputusan untuk tidak ambil pusing dengan masalah itu. Hampir memutuskan untuk tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di asrama putri. Dan telah kurencanakan untuk melakukan semuanya mulai hari ini, dimana acara bareng MPKS akan dimulai.

Tadi malam setelah bercerita dengan beberapa teman asrama tentang kondisi terakhir asrama putri, aku masih bimbang. Tapi tekad untuk melaksanakan niat “putus hubungan” itu masih kuat bertahta di pikiranku. Saat berjalan mengambil wudhu, entah kenapa aku diingatkan oleh sebuah hadist yang saat Ramadhan lalu pernah disampaikan oleh seorang Ustadz yang berceramah di Masjid Asrama. Aku masih ingat redaksinya, tapi lupa riwayat dan keshahihannya.

Setelah tilawah Qur’an, kembali kuhidupkan komputer. Langsung searching tentang hadist yang teringat barusan. Hingga kutemukan redaksi lengkapnya, sebagaimana yang kuterakan pada bagian awal tulisan ini.

“Tidak akan masuk surga”??? Aku tersentak. Begitu berat ternyata ancaman Allah terhadap orang-orang yang memutuskan silaturahmi. Timbul sebuah tanya kepada nurani, apakah aku akan meneruskan niat untuk tak bertegur sapa, melupakan semua kisah yang pernah ada, dan tak akan menginjakkan kaki lagi di asrama putri dengan sebuah deraan neraka setelah melewati kehidupan dunia yang hanya sementara???

Konflik yang berketerusan dan menemui puncaknya beberapa hari ini memang sangat menyakitkan. Meninggalkan luka mendalam, yang mungkin hanya bisa kuobati dengan pergi dan melupakan semua yang telah terjadi. Tapi, apakah aku harus mengabaikan sabda Rasulullah demi egoisme diri???

Rasanya tak sanggup aku melanggar perkataan Beliau. Bukankah tak ada kusut yang tak diungkai, tak ada masalah yang tak bisa selesai. Ya, aku yakin semua masalah pasti ada jalan keluar sepelik apapun itu. Kalau diniatkan untuk kebaikan, pasti Allah akan menunjukkan jalan keluar.

Mudah-mudahan pagi ini akan ada sinar mengusir kelabu… Amien…