Lupakanlah saja diriku… Bila itu bisa membuatmu… Kembali bersinar… Dan berpijar seperti dulu kala… Caci-maki saja diriku… Bila itu bisa membuatmu… Kembali bersinar… Dan berpijar seperti dulukala… (DAN, Sheila On Seven)

Lagu jadul itu mengalun dari ruang TV asrama membangunkanku dari tidur siang bersama hujan. Ternyata ada acara MTV Spesial Sheila On 7 di Global TV. Segera aku beranjak ke kamar mandi, mengambil wudhu ntuk sholat Ashar. Di sela-sela 4 rakaat sholat di kamar, aku larut dengan beberapa tembang Sheila On 7 yang masih mengalun dari luar. Ingat sosok familiar, salah seorang personel grup band yang sudah kondang ketika aku masih SMA itu, yang pas sholat Dzuhur di Masjid Kampus tadi kutemui. Ya, Mas Sakti. Gitaris Sheila yang sekarang sudah pindah haluan menjadi santri. Gamisnya, jenggotnya, wajahnya yang putih bercahaya, apalagi semangatnya menuntut ilmu agama dan mengamalkan syariat membuatku kagum. Ibroh luar biasa yang ditunjukkan Allah buat orang-orang yang mau belajar dari orang-orang di sekitarnya.

Tak ingin larut dalam dilema memikirkan masalah dengan asrama putri, akupun keluar lebih pagi dari asrama. Kebetulan hari ini ada kajian Kamis Pagi di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Masih bersama Prof. Yuhanar Ilyas. Perlahan sakit yang membelit kepalaku mereda. Penjelasan ayat-ayat suci Al Qur’an hadirkan ketenangan dalam jiwaku. Sisipan humor-humor cerdas di tengah uraian seriusnya, membuatku syaraf-syarafku kendor karena ketawa.

Pembahasan tadi pagi masih seputar masalah Faraid atau warisan yang disandarkan pada tafsir Surat An Nisa ayat 11-12. Satu cerita berkesan yang beliau sampaikan adalah akibat kerakusan akan harta warisan.

Alkisah, pada tahun 1988 hiduplah 2 orang suami istri yang kaya raya. Suatu hari, mereka mengadakan tasyakuran menempati 2 rumah baru seharga 700 juta. Dalam perjalanan selepas acara, tiba-tiba sang Suami mendapat serangan jantung. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, saat itulah juga dia meninggal dunia. Harta kekayaan Sang Suami itu ditaksir 6 Miliyar rupiah. Sudah lumrah pasca kematian seseorang, pembagian warisan dilakukan. Tapi acara pewarisan tak berlangsung lancar. Sang Istri yang merasa telah berjasa mendampingi dan mengabdi kepada Sang Suami mengambil alih semua harta warisan yang ditinggalkan. Maka terputuslah harapan ahli waris lain untuk mendapatkan haknya. Termasuk Ayah almarhum yang seharusnya mendapat 1/6 bagian.

Ketika dibicarakan baik-baik, ternyata Sang Istri bersikukuh tak memberi secuilpun. Orang-orangpun menyarankan untuk membawa persoalan ini ke pengadilan agama. Ayah almarhum yang tak mau namanya anaknya tercemar gara-gara gaduh dengan Sang Istri memperebutkan harta warisan, akhirnya memilih mundur dan tak lagi menuntut bagiannya. Berjayalah Sang Istri dengan peninggalan suaminya yang 6 Miliyar itu. Sadar bahwa salah satu hal yang bisa mengerogoti hartanya itu adalah laki-laki, maka iapun memilih menjanda.

Seiring berjalannya waktu, memang ia mampu mempertahankan, meskipun sedikit demi sedikit berkurang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sepuluh tahun kemudian, karena tak kuat lagi hidup sendiri akhirnya Sang Istri menikah lagi dengan seseorang. Pria yang mengaku memiliki sebuah penerbit dan dulu bekerja sebagai wartawan. Mulut manis kucindan murah. Ternyata impian bisa hidup bahagia dengan suami baru, sebentar saja.

Ternyata Pria itu adalah pengangguran kelas tinggi dengan kebiasaan gila berjudi. Saban hari, Sang Istri diteror agar memberikan uang.  Karena sering kalah, satu per satu barang yang ada di rumah raib tanpa berbekas. Ingin menyibukkan diri dengan berniaga, Sang Istri mengambil alih usaha yang dulu dijalankan bersama seseorang oleh Almarhum Suaminya. Mitra Sang Suami yang paham betul bahwa Sang Istri tak punya skill berdagang memberikan alternatif solusi. “Ibuk, bisnis ini berat. Rasanya Ibuk tidak akan sanggup untuk menjalankannya. Biarkanlah saya yang mengurus. Nanti setiap tahun ibuk tinggal menerima keuntungan bersih saja dari saya, 200 juta…”. Sang Istri yang sudah kesetanan bersikeras mengambil alih. Dengan berat hati, sahabat karib Sang Suami itu melepas bisnis yang telah dirintisnya dulu bersama Almarhum.

Namanya, juga tak punya pengalaman dan hanya mengandalkan egoisme diri, maka hanya sebentar bertahan. Usaha yang sebenarnya sudah mapan, kemudian jatuh berantakan karena tidak dikelola oleh orang yang tepat. Plek, akhirnya usaha inipun hancur dan tak menyisakan apa-apa. Penyakit judi yang diderita oleh suami barunya tetap saja menggila. Kalah, kalah, dan kalah, hingga rumah, mobil, dan harta benda yang ada ludes tak tersisa. Sampai akhirnya mereka menjadi jatuh miskin tak punya apa-apa. Beruntung anak-anak Sang Suami sudah besar-besar dan hidup mandiri.

Begitulah cara Allah menunjukkan kuasa terhadap orang-orang yang serakah terhadap harta warisan hingga tak memberikan hak kepada para ahli waris. Padahal, kalaulah Sang Istri itu tak gelap mata dengan harta suaminya, dan memberikan hak untuk Ayah Almarhum, 1/6 dari 6 Miliyar harta yang ditinggalkan sebenarnya dia masih mendapatkan 5 miliyar. Sesuatu yang sangat besar untuk ukuran tahun 1988. Apalagi kalau dilihat dari latar belakangnya yang notabene hanya seorang anak gadis miskin penjual sayur.

Ya, begitulah keserakahan dan penyelewengan terhadap warisan menemui balasan kontan dari Allah di dunia ini. Mendapatkan kekuatan spiritual dari Ustadz Yunahar, membuatku langkahku semakin mantap untuk melanjutkan perjalanan.

Ku geber honda Grand Tua-ku ke arah selatan. Tes wawancara di Lembaga Bimbingan Belajar Neutron Jalan Tamansiswa sudah menanti. Berhadapan dengan Interviewer sudah biasa bagiku. Jangankan satu atau dua orang, 7 penguji sekaligus sudah pernah kualami ketika melewati tes Republika beberapa bulan yang lalu. Sekitar 15 menit, tuntas sudah aku menjawab pertanyaan.

Pamitan dengan Mas Budi, teman sesama pelamar yang kemarin bercerita tentang banyak hal inspiratif kepadaku dan teman-teman jobseeker yang lain, akupun segera berbalik menuju utara. Ada janji yang mesti kupenuhi; meminjam buku di perpustakaan fakultas Filsafat UGM buat Bu Dokter-ku yang baik, Bu Daruwati. Jadi ceritanya beliau dapat tugas dari Dosen-nya bikin resume Filsafat Ilmu. Secara diriku pernah kuliah di filsafat, datanglah sebuah sms suprise kemarin siang. Sebagai pasien yang telah dirawat begitu baik sama Dokter Daru, tentu sangat layak aku membalas kebaikan beliau. Lagian meminjam buku di perpus belum seberapa tandingannya dengan medical treatment yang beliau lakukan. Karena sudah langganan perpus saat masih masih aktif kuliah dan lumayan dekat dengan pegawai perpus, aku tak menemui kendala berarti untuk meminjam buku. Tinggal menitipkan identitas, 2 bukupun sudah ada di tangan. Langsung kuhubungi Dr. Daru dan kita ketemuan di Polimata RS. Sardjito.

Ada rasa senang tak terkira bisa balik membantu Bu Dokter Daru. Senang banget meskipun hanya menolong meminjamkan buku. Indah ternyata kalau hubungan antara pasien dan dokter bukan sekedar hubungan kebutuhan pemeriksaan medis belaka. Tapi bisa berlanjut dalam jalinan persahabatan.

Request Dr. Daru ternyata memberikan kesempatan kepadaku untuk bertemu dengan dosen-dosen, teman-teman yang dulu sering kuliah bareng, serta teman-teman satu angkatan wisuda yang ternyata lanjut ambil S2.

Ah, rasanya capek mikirin masalah dengan asrama putri. Terlalu banyak energi yang telah kuhabiskan untuk hal kecil yang selalu terulang karena ketidakmampuan untuk belajar dari kesalahan masa lalu. Kesalahan karena tak mengerti sistem pengkaderan karena memang tak pernah terlibat dalam organisasi di kampus. Aku masih resign dari masalah ini karena lagi-lagi indikasi pembelaan diri sangat kental dalam kasus ini.

Artikel Oce Madril (teman satu angkatan di UGM – Master Student Governance and Law Program Nagoya University, Jepang) untuk kesekian kalinya di koran Kompas hari ini, semakin  melecutku untuk meninggalkan masalah-masalah kecil ulangan yang menghabiskan energi. Orang sudah jauh memikirkan persoalan negara sementara aku masih bergelut dengan persoalan dua bangunan sekian ratus meter persegi yang bernama asrama. Terpaku pada masalah ini hanya membuatku mati. Kalau begitu good bye aja deh buat masalah asrama. Aku masih ada kerjaan lain…

Malam ini aku dah capek banget. Mau tidur dulu… Bye semua…:)