Sejarah bisa menjadi kompas pengarah yang akan membimbing langkah kita menuju masa depan. Tapi tak jarang sejarah mengekalkan luka lama dan dendam yang tak berkesudahan… (Anggun Gunawan)

Lagi-lagi mataku belum bisa dipejamkan. Setelah melakukan investigasi lagi untuk memperluas kajianku terhadap tulisan “Dilema Asrama Putri” ternyata memang masalah ini complicated. Berkelindan antara irasionalitas, psikologis dan goresan masa lalu. Semua terjalin begitu kuat. Membuat emosi mengambil alih posisi mengalahkan akal sehat. Tak ada standarisasi yang bisa diberlakukan untuk menghukumi ini salah atau benar. Masing-masing pihak merasa benar. Masih-masing pihak memberikan argumentasi sejauh kemampuan pemikiran. Semua faksi memberikan justifikasi.

Polemik ini membawaku pada sebuah kesadaran, SUDAH SAATNYA UNTUK PERGI. Karena yang terjadi hanyalah sebuah letupan kecil yang kemudian terbakar membesar oleh ingatan akan masa silam. Menggores kembali luka lama yang mungkin tidak dipahami oleh teman-teman baru.

Mereka hanyalah korban dari peristiwa sejarah yang tidak mereka alami. Atau tergerus oleh suara mainstream yang berkuasa saat mereka masih belum tahu apa-apa tentang kondisi asrama. Harus memilih satu warna agar tak dikucilkan dan menjadi asing di tengah komunitas. Keluguan dan masih kurangnya pengalaman membuat mereka terjebak dalam pilihan-pilihan berat yang ditumpahkan tiba-tiba oleh senior mereka. Pilihan-pilihan yang mengaduk emosi, menyita pikiran, hingga tak jarang  kuliah jadi terabaikan. Sebuah proses kasat mata sangat mematikan yang misterius. Berjalan bertahun-tahun tanpa pernah berhenti. Kecuali berkurang kadar dan intensitasnya seiring perubahan dan kesadaran massif yang datang karena hidayah dari Tuhan.

Ketika generasi baru hidup dalam beban masa lalu, maka revolusi tidak akan pernah terjadi. Aku jadi teringat dengan salah satu masterpiece Erich Fromm yang suntuk kubaca saat mengerjakan skripsi dulu, “You Shall Be As Gods“. Dalam buku itu diceritakan, kenapa Musa yang telah berhasil melepas bangsa Israil dari jeratan perbudakan Fir’aun hanya berputar-putar di Semenanjung Sinai tanpa pernah bisa menapaki kaki di “Promise Land” ??? Bukan karena Musa tak berwibawa. Bukan pula Musa tak punya kuasa. Tapi ada sebuah hukum alam yang tak mungkin dilanggar. Bahwa perubahan harus dibawa oleh orang-orang baru yang tak terkontaminasi oleh luka masa lalu. Tuhan hanya memperkenankan Musa mengantarkan ke gerbang. Tapi sejak memasuki tanah baru, maka saat itu misi perjuangan berakhir.

Setelah mengurai semua masalah secara komprehensif, mengabungkan analisis dari berbagai perspektif, mengurut data historis dari berbagai premis, akhirnya penelusuranku selama beberapa hari ini berujung pada konklusi, REVOLUSI HANYA BISA DIGERAKKAN OLEH ORANG-ORANG BARU.

Saatnya generasi baru asrama yang menentukan arah masa depan asrama. Tanpa dikte dan arahan generasi tua. Meskipun mereka merasa lebih berpengalaman ataupun lebih menguasai persoalan. Karena nasehat mereka seringkali berubah menjadi intervensi. Membuat generasi baru tak lagi mandiri untuk berkreasi dan berpikir mandiri akan masa depannya sendiri. Pendampingan lewat kehadiran langsung hanya membuat generasi baru terlena dan berpangku tangan. Mendapatkan argumen ketika disalahkan, “Masih ada generasi tua yang akan menyelesaikan semua ini.”

Kondisi kronis ini semakin sempurna ketika generasi tua melihat generasi baru adalah orang-orang culun yang belagu. Masih bau kencur sehingga setiap saat perlu untuk diingatkan. Yang kemudian tercipta adalah komunitas sakit. Generasi  tua menjadi stagnan dan membatu, karena terus memikirkan masalah-masalah yang seharusnya sudah mereka tinggalkan. Sementara generasi muda kehilangan inisiatif dan kreatifitas karena terus merasa belum saatnya untuk terlibat dalam persoalan.

Sudah saatnya generasi tua memberikan kepercayaan kepada generasi baru untuk menggerakkan asrama. Biarkan mereka berkreatifitas dan berpikir sejauh kemampuan mereka. Meskipun seringkali terjatuh ketika memulai sesuatu yang baru. Semua itu lebih konstruktif daripada tetap berada di dalam perasaan bahwa mereka masih butuh bimbingan.

Dimana aku??? Dengan jujur dan besar hati aku akan berkata dengan lantang, AKU BAGIAN DARI GENERASI TUA ITU. Dengan sadar aku berujar, REVOLUSI ASRAMA TIDAK DI TANGANKU. Dan dengan insyaf kutetapkan,  AKU HARUS PERGI