Sebenarnya terus bertahan di Jogja dengan status pengangguran seperti ini sangat menyebalkan. Tapi mau apalagi, semua terpaksa kujalani karena perjuangan pencarian kerja belum juga menemukan hasil yang mengembirakan. Tebaran cv dan lamaran semakin jarang kulakukan karena memang tak banyak lowongan yang memuat kualifikasi Filsafat ataupun semua jurusan yang ditebar di media. Ya terpaksalah berlapang dada melalui hari-hari mati gaya di Jogja.

Keseharianku lebih banyak dihabiskan di asrama. Internet, koran, dan tv-lah pengobat sepi. Kadang ada juga teman-teman yang berkunjung atau sekedar menelpon, hingga berkurang juga gelisah di hati. Jadwal check rutin ke RS. Sardjito, menghadiri pengajian  Kamis Pagi di PP. Muhammadiyah dan pengajian Ahad Pagi di Masjid Kampus UGM menjadi pengisi waktu berharga ketika aku merasa bosan di asrama.

Pagi tadi dengan kelindan semangat, selepas menyelesaikan tugas kerja bakti, akupun segera mandi. Langsung kebut Motor Grand kesayangan menuju Masjid Kampus UGM. Aku tak ingin melewatkan kajian Ustadz Ridwan Hamidi, Lc. M.Ag. Apalagi rasa kangen telah berbuncah setelah satu bulan lebih tak bertemu.

Sudah jauh terlambat aku sampai di Masjid Kampus. Ustadz Ridwan sudah tampak asyik menyampaikan materi pengajian. Aku langsung mengambil posisi nyaman di karpet istemewa yang akan dipakai oleh akad nikah. Biasalah, sudah jadi rahasia umum bahwa Masjid Kampus UGM adalah salah satu tempat favorit buat walimahan di Jogja.

Kajian Ahad pagi yang sudah kuikuti sejak tahun 2003 itu, sudah memasuki pembahasan Surat Nuh, surat urutan 71 – juz 29. Ada sebuah pengantar bagus yang disampaikan oleh Ustadz Ridwan tadi.

“Selama 950 tahun Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya. Tanpa mengenal lelah dan putus asa.  Tak peduli siang ataupun malam. Dengan berbagai cara baik kentara ataupun sembunyi-sembunyi. Tapi apa hasil dari perjuangan panjang beliau??? Jangankan menjadi Nabi Sejuta Umat atau Rasul Kharismatik dengan berjibun pengikut, mengaet seratus orang saja tak mampu beliau lakukan. Apakah kita bisa mencibir beliau dengan membandingkan jama’ah yang bisa dikumpulkan seorang da’i sekarang ini? Apakah Nabi Nuh telah gagal mengemban dakwah yang telah diamanahkan oleh Allah?”

“Tidak. Bahkan Allahpun tidak mencela capaian Beliau. Malah Allah mengekalkan perjuangan beliau dalam banyak ayat dalam Al Qur’an sebagai ibrah bagi umat-umat setelahnya bahwa perjuangan itu tidak diukur dengan kuantitas tapi sejauhmana usaha dan upaya yang telah dikerahkan…”

Setiap mendengarkan ceramah Ustadz Ridwan, selalu membuat jiwaku menjadi tenang. Serasa angin sorga berhembus sepoi-sepoi saat berjalan keluar dari pelataran Masjid Kampus.

Suasana langsung berubah. Hiruk-pikuk Sunday Morning jadikan aku kembali menemui dinamika mahasiswa Jogja dengan berbagai macam aneka warnanya. Saat singgah di Palanta, kedai makanan Padang, aku kembali mendapatkan suprise. Bertemu dengan Aai dan Riki, dua adik-adik Forkommi yang satu tahun lalu sama-sama berletih-letih mengumpulkan dana untuk Korban Gempa Sumatera Barat. Wajah tuaku masih familiar ternyata. Malah sama Aai aku dibilang tambah gemuk. He2.. He2.. Mungkin juga lebih ganteng karena mengenakan kacamata.. He2.. He2…

Suara bel asrama sudah mengalun. Rapat MPKS segera dimulai. Aku pamitan dulu ya…:) Happy Sunday aja deh… He2.. H2..:)