Mataku belum terpejamkan. Mungkin gara-gara tidur siang tadi di tengah hujan badai melanda Jogja. Setelah kecapekan pulang dari check up rutin di Poliklinik Mata RS. Sardjito. Dibandingkan dengan hari Rabu kemarin, kunjungan tadi tidak terlalu lama. Antrian sekitar 45 menit, kemudian diperiksa sama Bu Dokter Ima 15 menit, plus 30 menit karena harus  menunggu pembacaan berkas historis operasiku.

Sebenarnya Dokter Daru juga ada. Tapi beliau sudah sibuk dengan pasien yang lain. Hingga aku diperiksa sama Dokter Ima deh….he2..he2… Kalau Dokter Daru agak lucu-lucu githu, maka Dokter Ima lebih tampak berwibawa. Tapi keduanya sama-sama smart and baik. Sama-sama enak diajak ngobrol, walaupun dengan tema-tema tidak berkaitan dengan pemeriksaan medis.

Mungkin gara-gara itu juga, aku selalu merindukan pertemuan medical check up dengan beliau berdua. Meski harus menunggu antrian panjang yang terkadang memakan waktu 2 jam, tapi tak membuat kesabaranku hilang. Persis namaku dipanggil, saat itu pula lelah menjadi buyar. Apalagi kalau sudah ngobrol dan melihat senyuman beliau berdua…. Ada rasa-rasa gimana githuuuu… He2..  (lebay mode on)…

Pemeriksaan kali ini menunjukan indikasi baik. Tekanan bola mataku yang 3 hari lalu mencapai titik 24, sudah turun menjadi 17. Kata Dokter Ima, tekanan normal mata itu standarnya di bawah angka 20. Saat memberi resep obatpun, beliau sudah menurunkan intensitas dosis dari yang harus kuminum sebelumnya.

Di sela-sela itu, Qusthan, teman baikku yang sekarang lagi stay di Jakarta menelpon setelah sebelumnya kukirimkan sms. Banyak dialog yang kami bicarakan. Mulai dari peluang kerja alumni filsafat, prospek beasiswa S2 ke luar negeri, persiapan IELTS, keluhan professor di AS terhadap kualitas bahasa Inggris akademis mahasiswa Indonesia meskipun memiliki toefl tinggi, pertemuannya dengan Dubes India untuk Indonesia, sampai pertimbangan ambil kursus di Pare Kediri. Setiap kali berbicara dengan Qusthan, aku selalu terkagum-kagum. Wawasannya luas, cara bicaranya terstruktur, dan argumennya dilandasi bukti-bukti konkrit. Di sela-sela kesibukan sebagai Kepala Bidang Seni dan Budaya PB HMI MPO, Qusthan masih sempat bergelut dengan RUU Cagar Budaya yang menurutnya rentan dengan implikasi anarkisme. Ya, tentunya kita masih ingat tradegi makam Mbak Priok yang berakhir dengan kekisruhan berdarah-darah. Kasus ini merupakan wilayah yang tercakup dalam RUU Cagar Budaya yang masih dibahas oleh DPR sampai saat ini.

Kupaksakan diri menulis diary ini, karena aku tak mau kehilangan momen-momen berharga dalam perjalanan hidupku. Bertemu dengan Dokter Ima, Dokter Daru, dan bercerita dengan teman sehebat Qusthan adalah sekuel spesial yang tak mungkin kulewatkan untuk diabadikan dalam tulisan. Sosok-sosok inspiratif itu telah membuatku tetap semangat menjalani hari esok. Membuatku merasa istimewa dengan nuasan luar biasa yang mereka pancarkan dalam cengkrama. Menjadikan hidup lebih hidup sebagaimana iklan Star Mild… He2.. He2… Btw, buat Dokter Ima, Dokter Daru, dan Qusthan terima kasih atas kebersamaan mencerahkan tadi…