Satu hal yang paling diinginkan oleh seorang atlet adalah kesempatan kedua… (The Replacement)

Sudah mendekati pukul satu dinihari. Tapi mataku belum mau terpejam. Padahal besok ada jadwal check up khusus di RS. Sardjito sesuai dengan permintaan Bu Dokter Daru yang khawatir dengan keadaan mataku setelah pemeriksaan hari Rabu lalu.

Kucuba hidupkan lagi komputer. Mengetikkan beberapa kalimat sebelum beranjak menuju peraduan ntuk pejamkan mata sejenak seraya berharap tidak telat sholat Shubuh.

Sebuah kalimat inspiratif yang kutuliskan di awal merupakan sebuah quote yang kudapat dalam “The Replacement“, film keluaran tahun 2000 yang barusan kutonton di Indosiar. Bercerita tentang Shane Falco, seorang mantan bintang Quarterback di Ohio State University yang kembali memulai debut bermain football bersama para replacement player pada team  “Washington Sentinels”.

Lama tak berlaga dan sibuk berkecimpung dengan boat-nya membuat Falco kehilangan rasa percaya diri. Pada pertandingan pertama di pre season menuju babak playoff, “Sentinels” mengalami kekalahan karena kesalahan Falco merubah strategi “passing play” menjadi “running play”. Ia kehilangan sentuhan masa mudanya. Kehilangan kepercayaan diri bermain di lapangan. Kekalahan yang membuat sang pelatih, Jimmy Mc Ginty, harus memberikan treatment khusus karena pertandingan selanjutnya sudah menunggu.

Falco bangkit. Umpan-umpan jitunya berhasil mengantarkan “Washington Sentinels” meraih kemenangan demi kemenangan. Tapi semua berubah ketika pemain utama quarterback Washington, Eddie Martel, kembali masuk team tepat menjelang final playoff. Pemilik klub bersikeras agar Martel dimasukan mengantikan Falco. Mc Ginty tak bisa berbuat banyak. Ia terpaksa tak memasukkan Falco dalam team utama. Falco kecewa dan memutuskan tak datang pada pertandingan final yang menentukan itu.

Stadion  terdengar riuh. Washington dengan kehadiran bintang lamanya, Martel, dielu-elukan ketika memasuki lapangan. Wasitpun memulai pertandingan. Penampilan Martel jauh dari predikat bintang yang disandangnya. Banyak kesalahan diperbuat, hingga Washington-pun ketinggalan 17-0 dari Dallas. Pemilik klub panik karena tiket promosi bakal lenyap. Mc Ginty-pun sudah pasrah apapun score akhir yang diperoleh teamnya.

Falco yang terus melihat perjuangan teman satu teamnya di televisi, tersentak dengan wawancara Mc Ginty dengan seorang reporter TV di sela-sela istirahat, “Miles and miles of heart”. Merasa perkataan itu adalah pesan khusus sang pelatih, Falco-pun berkebut menuju stadion. Sempat terjadi keributan kecil di ruang ganti, karena Martel masih bersikeras tetap main. Pemain lain berang. Mc Ginty melerai perkelahian dan menunjuk Falco mengantikan Martel.

Mendapatkan suntikan tenaga baru, “Washington Sentinels” bermain kesetanan. Tak peduli benturan keras ataupun tubuh yang patah. Perlahan mereka bisa mencetak gol meskipun harus kehilangan beberapa pemain akibat cedera dihantam pemain lawan. Sebuah umpan Falco kepada Si Bisu Brian Murphy, berhasil memperoleh touchdown, hingga Washington akhirnya memenangkan pertandingan final 20-17.

Aku seolah menemukan diriku dalam sosok Falco. Setelah berhasil menyelesaikan kuliah lewat perjuangan berat selama 7,5 tahun dengan reward mendapat salaman dari Rektor UGM di gedung megah Grha Sabha Pramana, aku dihinggapi rasa frustasi karena status pengangguran yang sudah lebih 8 bulan kusandang. Telah kucuba berjuang mendapatkan kerja sampai-sampai 3 kali wirawiri Jakarta-Jogja. Tapi nasib belum berpihak padaku. Semua berujung pada tes ketiga dan wawancara.

Hari ini hanya semangat yang kumiliki. Keyakinan bahwa gelap akan segera berlalu. Berikanlah aku kesempatan kedua untuk membuktikan bahwa aku bukanlah seorang pecundang. Setelah ini aku berencana mengurung diri di sebuah kampung kecil di Kediri, Pare. Meningkatkan kemampuan bahasa Inggris demi impian kuliah di luar negeri. Karena aku yakin bisa seperti Falco yang bisa menuntaskan kesempatan keduanya dengan kemenangan.  

Please, give me  second chance to get glory…

Iklan