“Waspada Curah Hujan di atas normal pada musim hujan 2010/2011 pada daerah rawan banjir dan longsor…” (Himbauan BMKG)

Baru dua minggu melewati hiruk-pikuk dan kegembiraan Lebaran, kita telah disodori oleh berbagai macam polemik bangsa. Mulai dari gertak-gertakan perbatasan dengan Malaysia, kunjungan plesiran anggota DPR ke berbagai negara dalam rangka “Perbaikan Legislasi”, remisi Hari raya buat para narapidana korupsi, pendatang gelap musiman pasca Lebaran di Jakarta, kisruh kandidat Jaksa Agung Karier dan Non Karier, polemik calon Kapolri baru yang diindikasi punya hubungan kekerabatan dengan keluarga Cikeas, sampai kemenangan gugatan Prof. Yusril Ihza Mahendra terhadap legalitas Jaksa Agung Hendarman Supandji.

Seringkali kita larut dengan persoalan politik bangsa hingga menghabiskan banyak waktu dan energi untuk membahasnya. Kemudian, tanpa sadar melupakan sebuah bencana besar yang sebenarnya sedang mengamuk di hadapan kita. Apa itu??? GLOBAL WARMING

Quote yang penulis kutipkan di atas merupakan imbauan terbaru dari Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika yang dilauching pada website resminya. Tak tanggung-tanggung, terkait dengan fenomena hujan ini, BMKG juga merilis publikasi gratis “Prakiraan Musim Hujan 2010/2011 di Indonesia” berkapasitas 15,4 MB. Sebagai panduan buat berbagai pihak untuk mengantisipasi terjadinya fenoemana cuaca ekstrem yang bisa berakibat fatal.

Kecendrungan hujan yang unik sebenarnya sudah terasa sejak hari kedua Lebaran yang lalu. Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta adalah sebagian daerah yang telah merasakan banjir akibat hujan berketerusan sepanjang hari. Entah berapa lagi daerah-daerah di Indonesia yang rata-rata tidak punya sistem drainase dan pengairan yang baik menunggu giliran disabangi banjir?

Dalam sebuah perkuliahan di kampus Geofisika UGM, adik asrama penulis bertanya kepada Dosennya, “Pak, kok sekarang hujan terus ya?” Mendapat pertanyaan seperti itu, Pak Dosen tampak antusias menerangkan.

“Gini dek, hujan di atas kewajaran saat ini karena siklus angin muson yang mempengaruhi iklim dunia berjalan tak normal lagi. Ketika seharusnya bergerak ke selatan, tapi dihambat oleh tekanan udara tinggi akibat pemanasan global. Tak hanya di Indonesia, di Rusia saat ini sedang terjadi kekeringan menyedihkan.

Ya, Sang Dosen menenggarai penyebab anomali iklim dunia saat ini diakibatkan oleh PEMANASAN GLOBAL. Tapi banyak orang yang tak ambil pusing. Suara-suara lantang dari pecinta lingkungan seperti Green Peace ataupun WALHI hanya dianggap suara sunyi. Bahkan perusahaan-perusahaan  kertas, dan kelapa sawit lebih garang menentang mereka karena diback-up dari Pemerintah. Kemampuan perusahaan-perusahaan itu merekrut lulusan-lulusan terbaik dari universitas-universitas terkenal di negeri ini yang sebagian mereka dulu pernah bergelut di MAPALA kampus, telah juga menjadi modal penting untuk meredam suara kritis para aktivis lingkungan. Dengan sebuah cibiran, “Ah, itu hanya orang-orang sok idealis yang belum mendapat jatah saja…”.

Argumentasi mereka semakin jitu ketika menohok kita lewat perkataan, “Kalau memang ngak suka sama perkebunan sawit, ya mulai hari ini anda harus berhenti makan goreng-gorengan. Kalau memang anda protes penebangan hutan untuk pembuatan kertas, silahkan jangan kayu atau daun saja untuk menulis….”.

Sebenarnya tidak sulit untuk merobohkan pembelaan diri dari pengrusak-pengrusak lingkungan nomor wahid ini. Soal perkebunan sawit, apakah untuk menyediakan konsumsi minyak buat seluruh warga negara Indonesia harus mengundulkan seluruh hutan yang ada di Sumatera dan Kalimantan??? Tidakkah cukup hanya memporsir beberapa persen lahan saja untuk pencapaian produksi??? Apakah penebangan hutan harus merajalela sampai-sampai mengorbankan lahan-lahan konservasi? Apakah kiprah pembabatan hutan yang mereka lakukan sudah seimbang dengan pemenuhan kertas yang semakin hari semakin mahal hingga harga bukupun hampir-hampir tak terjangkau oleh sebagian besar rakyat negeri ini???

Publikasi ilmiah dari para pakar lingkungan sudah banyak memberikan warning akan masa depan suram bumi ketika hutan terus saja ditebang, polusi dibiarkan, dan pengrusakan biosfer terus dilakukan. Tapi, ketamakan dan pementingan keuntungan materi telah melupakan banyak orang untuk peduli dengan bumi. Pemerintah berkolaborasi dengan Konglemerasi berlomba-lomba mengeksploitasi alam sampai-sampai tanpa mengindahkan etika lingkungan. Devisa memang meningkat, orang kaya-orang kaya baru tumbuh pesat, tapi bumi dibiarkan sakit tanpa rasa iba dan pikiran untuk sejenak memberinya rehat.

Memang bumi tak bisa bersuara. Tapi ia bisa merasakan penindasan yang dihujamkan kepada tubuhnya. Kemarau, hujan, angin puting beliung, hanyalah sebagian respon alam atas kesemena-menaan manusia. Dalam tingkat tertentu mungkin manusia masih bisa beraktivitas secara normal tanpa terganggu. Kemajuan teknologi manusia masih kuat mengantisipasi perubahan-perubahan alam itu. Kemudian, manusiapun bersorak, “Kami telah mengalahkan alam.”

Namun, tidakkah kita sadar semakin kuat beban yang diberikan kepada alam maka respon yang akan terjadi juga menjadi besar. Penelitian ilmiah memberikan bukti bahwa alam bisa memusnahkan manusia dengan sedikit saja kemarahannya. Mungkin, kita berpikir ketika bumi sudah tak layak lagi dihuni, manusia bisa bermigrasi ke planet lain. Tapi sadarkah kita, probabilitas adanya planet seperti bumi di angkasa ini sangatlah kecil. Meskipun sudah dilakukan berbagai penelitian oleh para ahli, tapi hasilnya hanya sebatas kegembiraan ilmiah premature karena masih jauh untuk diwujudkan.

Kalau sudah begitu, tidakkah kita insyaf untuk menyadari bahwa bumi inilah satu-satunya tempat kita meneruskan hidup. Tidak hanya untuk kita saja, tapi tempat yang bisa dihuni oleh generasi penerus kita. Apakah kita tak tergerak untuk berpikir lebih visioner, “Mewariskan bumi yang damai untuk umat manusia“???

Sampai kapan lagi kita mengacuhkan bumi. Apakah menunggu bencana kelaparan karena komoditi pertanian gagal panen, mati akibat hujan/kemarau? Apakah menunggu kota-kota lumpuh total karena kebanjiran??? Apakah menunggu alat-alat transportasi tak bisa digunakan disebabkan hujan lebat tak memungkinkannya berpergian??? Apakah mau menunggu berbagai penyakit merajalela hingga rumah sakitpun tak mampu menampung pasien yang sekarat???

Jika tak ada kesadaran itu, maka matilah kemanusiaan. Tapi haruskah kita membiarkan orang-orang egois terus memporakporandakan bumi kita ini? TIDAK. Sedikitpun tidak. Bahkan perjuangan menegakkan kelestarian bumi mungkin sama mulianya perjuangan suci menegakkan agama. Lakukanlah sedikitpun yang bisa lakukan untuk menyelamatkan dunia. Dan lawanlah para pengrusak alam sampai tetes darah terakhir yang kita punya… Ayo Kawan… LAWAN….