Selesai menunaikan sholat Magrib, akupun memilih memutar streaming Metro TV di kamar. Sebenarnya lebih enak sih nonton di ruang TV asrama. Tapi berhubung remote sudah dipegang sama anak baru yang memutar siaran lain, akupun mengalah menyingkir ke kamar. Aku bisa saja mengedepankan ego-ku sebagai senior di asrama untuk mengambil alih kondisi di ruang TV. Namun, tindakan represif itu tak kuambil karena bisa terkesan semena-mena.

Fenomena memilih menonton sinetron, film, atau sekedar nonton sandiwara humor daripada menonton acara-acara agak serius di Metro TV atau TV One, tidak lagi jadi barang aneh bagiku. Meskipun sosok-sosok yang kuhadapi adalah teman-teman mahasiswa yang seharusnya punya sedikit interest terhadap kondisi aktual bangsa.

Tak usah terlalu jauh-jauh hendak mengalahkan Tan Malaka yang sudah memikirkan konsep negara Indonesia Merdeka lewat karya fenomenalnya “Naar de Republiek Indonesia” pada usia 20-an tahun. Jangan pula berpikir hendak mengejar pencapaian Bung Hatta lewat pledoi-nya yang berjudul “Indonesia Free” di depan pengadilan Belanda. Sudah bisa mengalihkan kecendrungan dari tontonan hedonistik menuju tontonan agak serius sudah menjadi pencapaian luar biasa bagi mahasiswa-mahasiswi saat ini.

Sebuah kondisi miris yang sudah menjalar secara massif. Sikap apatis pada anak-anak muda terhadap masalah-masalah aktual bangsa semakin kuat dengan doktrin menyesatkan, “Ah, buat apa mikir negara. Mikiran diri sendiri aja ngak bisa...”.

Tak terbiasa dengan dirkursus yang melibat kepentingan orang banyak, telah membuat mahasiswa harapan bangsa tersekat dalam perjuangan memikirkan nasib sendiri. Bisa jadi mereka adalah orang-orang yang cerdas dan berpretasi secara akademis. Bisa menjadi teknokrat hebat di berbagai perusahaan besar dan multinasional dengan salary memuaskan pasca wisuda. Tapi luputnya mereka dari kepedulian terhadap persoalan bangsa menjadikan mereka tak lebih dari robot-robot ekonomi yang bekerja untuk kesuksesan materi.

Pada zaman Tan Malaka dan Bung Hatta, orang-orang Indonesia sudah banyak yang sekolah ke luar negeri. Tapi, apabila tak ada anak-anak muda yang berjiwa bebas dan bervisi jauh seperti mereka, entah apa yang terjadi dengan negeri yang dulu bernama Hindia Belanda ini??? Mungkin tak ada yang namanya negara Indonesia. Yang ada hanya Provinsi Hindia Belanda sebagai bagian dari Negara Belanda yang berada di Benua Biru sana.

Sungguh miris, ketika mahasiswa-mahasiswi sekarang ini lebih senang menikmati sinetron, gosip, musik, ataupun sandiwara humoris daripada sedikit bergerut dahi menyaksikan analisis dan dialog-dialoh para tokoh di televisi. Menonton berita ataupun dialog memang terasa membosankan, apalagi terkesan tak ada masalah yang selesai di negeri ini untuk dibahas.

Namun, begitulah latihan ringan untuk menjadi pemimpin bangsa sebelum terlibat langsung dengan polemik dan kasus-kasus yang ada. Sebagaimana kualitas hidup semakin meningkat dengan keberhasilan memecahkan persoalan, begitu juga kemajuan suatu bangsa semakin meningkat ketika bisa memecahkan problem yang dihadapinya.

Terus siapa yang bertanggung-jawab atas persoalan bangsa? Ya, kita semua – orang-orang yang mengaku sebagai warga negara Indonesia. Apakah tidak terlalu besar diri ketika  menyatakan diri sebagai bagian dari solusi permasalahan bangsa? Sama sekali TIDAK. Malahan itulah sikap para pemenang dan orang-orang besar.

Socrates tidak dikenal karena sekedar berani minum racun saja. Tapi karena komitmen terhadap perbaikan moral dan intelektual kaum muda Yunani-lah ia diabadikan oleh sejarah meskipun orang hanya menemukan nama Socrates pada cerita-cerita Plato. Tan Malaka mungkin hanya menjadi tokoh sunyi, apabila ia sekedar berteriak karena sering mengalami “kasih tak sampai” dalam bercinta. Tapi lewat perjuangan dan karya-karya yang mengobarkan semangat merdeka 100%-kah, orang terus mencari jejaknya meski sekian puluh tahun hilang karena paranoid penguasa Orde Baru.

So, maukah kita mengubah attitude dari sekedar penikmat hiburan menjadi figur utama dari sebuah peran kebangsaan??? Semua terserah padamu kawan…:)