Jenuh menunggu antrian selama 2 jam plus perut yang terasa mules buyar seketika saat Bu Dokter Daru memanggil namaku. Masih dengan jilbab pink yang rasanya selalu beliau kenakan setiap bertemu denganku. Meski antrian masih panjang dan haripun telah bergeser dari jam 12.00 tapi beliau masih tampak fresh tanpa menyisakan wajah kelelahan.

Berhubung tidak ada dokter-dokter koas yang membantu, akhirnya Bu Dokter Daru yang langsung membimbingku memulai standarisasi pengecekan di klinik mata. Mulai dari acara tutup-menutup mata seraya bersuara mengatakan ini angka berapa dan warna apa, disenterin, terus dicek dekat hingga mataku dengan mata Bu Dokter Daru hanya dibatasi oleh alat khusus bercahaya yang belum sempat kutanyakan apa namanya.

Setelah itu, langsung menuju alat canggih sejenis microscop khusus mata. Agak lama beliau memperhatikan mata kiriku. Sebentar beliau pindah ke mata kanan, sambil mengajakku ngobrol. Pemeriksaan selanjutnya pindah ke ruangan lain, pengukuran tekanan bola mata. Alatnya lebih aneh lagi. Karena sistem kerjanya kayak tembakan. Ketika sensor alat itu pas di depan mata, maka ia akan mengejutkan mata pasien dengan sebuah tembakan angin. Untuk mata kanan, aku berhasil melewati 3 kali tembakan dengan mulus. Tapi giliran mata kiri, Dokter Daru berkali-kali menepatkan posisi alat pengukur itu biar pas.

Ada peningkatan tekanan bola mata. Dari 20 di minggu sebelumnya menjadi 24. Sedikit tampak kecemasan di muka Dokter Daru. Namun, kecemasan itu segera sirna lewat senyumnya yang khas. Langsung saja beliau mencari rekannya di Sub Glukoma. Sejenak aku diserahin sama Dokter Danang untuk mengecek lebih  jauh kondisi mata kiriku. Pemeriksaan berikutnya kembali kujalani. Setelah meneteskan sejenis obat bius, Dokter Danang memasang alat aneh di mata kiriku. Didampingi oleh Dokter Cut, Dokter Danang bergumam, “Terbuka… Ni yang di bawah tertutup… Coba deh bedain…”. Aku hanya binggung mendengarkan percakapan dua dokter spesialis mata yang pertama kali memeriksaku itu.

Selesai di sub Glukoma, aku diantar kembali oleh Dokter Danang ke ruang Dokter Daru. Aku hanya duduk terdiam, selepas rasa aneh di mata akibat obat yang diberikan barusan. Sementara Dokter Daru masih sibuk dengan pasien lain. Dalam diam itu, aku hanya memperhatikan Dokter Ima yang dengan bahasa Jawa halus menjelaskan mekanisme operasi katarak kepada seorang kakek-kakek. Agak kesulitan juga tampaknya Dokter menjelaskan dengan bahasa sederhana tentang istilah-istilah ilmiah kedokteran kepada Mbah yang sudah berumur 70-an itu. Dalam hati aku hanya tersenyum, “Duh bu dokter, dirimu ramah dan sabar sekali…”

Pasien Dokter Daru-pun undur diri. Kembali aku dipanggil ke mejanya. Kembali beliau membaca catatan pemeriksaanku. Wajah ayunya menampakkan tanda-tanda keseriusan. Tangannya cekatan menuliskan beberapa kalimat yang tak kumengerti artinya.

“Mas, kayaknya obatnya harus ditambah… Mungkin agak mahal… Ngak pa2 kan Mas….. Jadi pas operasi kemarin memang kita memang agak sulit karena katarak yang Mas derita adalah katarak traumatik… Mungkin tekanan yang meningkat karena pengaruh operasi kemarin Mas…. 3 hari lagi cek lagi ya… Ntar ke ruang sebelah… Kalau mereka ngak mau nerima, ntar ke sini aja… he2.. he2… Kalau kita pasti terima Mas Anggun deh..:) he2.. he2..”. Gurauan dari Dokter Daru membuatku tersenyum. Setelah awalnya ngomong serius, ternyata Dokter Daru masih sempat juga bikin perutku menahan geli…

Kemudian Dokter Daru mengorat-oret kertas buat resep obat. Terdengar lagi suara lembutnnya… “Mas, blognya dah saya lihat… Saya jadi tersanjung Mas dah nulis tentang Saya.. Blognya bagus…”… Aku hanya bisa tersenyum, sambil berteriak girang dalam hati, “Akhirnya Dokter Daru berkunjung juga di blogku ini…”

Terus-terang, semangatku beberapa hari ini luluh. Hancur didera pikiran negatif oleh status pengangguran yang belum bisa kulepaskan hingga detik ini. Membuatku lemah dan dikejar perasaan putus asa.

Namun, setelah bertemu dengan Dokter Daru, melihat senyumannya, ngobrol dengannya, saksikan gerak tubuhnya yang tetap energik meski sudah menghadapi puluhan pasien sejak pagi, perlahan pikiran negatif pergi berlalu.

Meski tetap harus berjuang melanjutkan masa depan dengan satu mata, aku tidak akan putus asa. Meskipun aku harus kalah dalam banyak hal, tapi tak mundur ke tepi. Meski aku tak punya apa-apa yang bisa kubanggakan, tapi aku tetap mengelorakan tekad untuk berbuat lebih banyak.

Aku harus tetap optimis dengan masa depanku. Walaupun hanya satu hal yang kumiliki saat ini, SEMANGAT… Tapi kuyakin lewat itulah darah bisa bergejolak, pikiran mengeliat, dan tubuh menjadi kuat demi meraih impian yang telah terpatri di dada ini…

Btw, Buat Dokter Daru, terima kasih buat inspirasinya siang tadi…:)

Iklan