Suara berita TV One terdengar dari ruang TV asrama. Hari masih gelap, jam-pun masih berdentang menuju jam 5 pagi. “Teroris… Teroris… Teroris lagi…” Ada suara Kapolri Bambang Hendarso Danuri yang “mendayu” tapi terdengar sumbringah ketika menyampaikan konfrensi pers bahwa pelaku perampokan Bank CIMB Niaga Cabang Aksara, Medan beberapa waktu lalu terkait dengan jaringan teroris Aceh dan Jawa. Tak tanggung-tanggung, Kapolri langsung mengadakan konfrensi pers dari Medan,  sebagai apresiasi atas “keberhasilan” anak buahnya membekuk “pelaku kriminal istimewa”.

Selain korupsi, terorisme merupakan hot issue yang sangat mudah mengalihkan perhatian masyarakat kita. Serta-merta wacana publik bergeser dari apapun berita yang sedang hangat sebelum itu. Publikasi penangkapan – pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh sebagai teroris diulang-ulang saban waktu, tanpa sebuah analisis lebih jauh kemudian pada titik tertentu terhenti berlalu tanpa kabar.

Anehnya, setiap penelusuran lebih jauh terhadap korban yang diindikasikan sebagai  teroris selalu saja kita mendapati informasi bahwa mereka sehari-hari hanyalah orang-orang kecil, ustadz tak terkenal, guru ngaji biasa yang mewakafkan dirinya mengajar agama. Kadang akal sehat jadi bertanya-tanya, apakah kebringasan tak berperikemanusiaan dalam perampokan Bank CIMB Medan itu dilakukan oleh orang-orang yang sehari-hari dekat dengan agama dan dikenal ramah oleh masyarakat sekitarnya? Apakah mungkin guru ngaji yang sehari-hari bisa bersabar menghadapi para santri tiba-tiba kalap dalam sebuah kejahatan terorganisasi dengan kerja gaya mafia? Ataukah memang sebagian guru ngaji kita terjangkiti penyakit psikopat karena putus asa dalam memperjuangkan Islam lewat cara-cara damai dan menyejukkan?

Densus 88 seolah-olah telah berubah menjadi Malaikat Maut bagi orang-orang yang dianggap sebagai teroris. Menjadi pahlawan penyelamat di tengah kasus-kasus internal yang mengeroposi citra polisi di mata publik. Menaikkan kembali posisi tawar setelah kemarin disemprot sama Bos Besar, sponsor dana (Australia) karena terjerempet pada kasus penyerangan terhadap kelompok separatis di Papua.

Sayang, tak banyak publikasi yang mencerahkan kita pasca tertangkapnya atau terbunuhnya beberapa orang yang dituduh sebagai teroris oleh polisi. Tren mainstream yang digelindingkan adalah kampanye “Keramahan Islam” yang kemudian mereduksi doktrin-doktrin utama syariat. Kemudian tudingan kemiskinan dan kesalahan memahami ayat-ayat agama menjadi tameng bagi ormas-ormas Islam yang memang selama ini mendapatkan keuntungan finansial dari kampanye terorisme global untuk mencela saudara-saudara sendiri yang mungkin dianggap sudah sesat dan salah jalan.

Anehnya lagi, media-media Islam terus saja ketinggalan untuk memberikan informasi kepada publik. Cubalah bandingkan kecepatan Kompas Online dengan Republika Online melaporkan kesuksesan Densus 88 ini? Boro-boro Republika merilisnya dalam topik pilihan, update beritanya aja ngak ada. Apalagi situs-situs media Islam yang grade-nya lebih rendah dari Republika yang masih berkutat dengan insiden HKBP di Bekasi dan pembakaran Al Qur’an di Amerika Serikat.

Di era informasi yang berjalan cepat dan akses online sudah menjadi pilihan utama mendapatkan berita, tentu agak menyedihkan ketika media-media Islam selalu telat mengabarkan berita yang seringkali memojokkan umat. Memang analisis klarifikasi bisa dilakukan belakangan, tapi menjadi penyiar pertama sebuah informasi hangat juga penting dalam psikologis awal mempengaruhi opini masyarakat. Kalau terus ketinggalan, berteriak setelah orang duluan berteriak, ya umat Islam akan tetap menjadi kelompok terbelakang. Hanya menjadi konsumen berita sekaligus korban dari yang diberitakan.