Seringkali orang mencibir keberadaan “mahasiswa-mahasiswi tua” yang masih bergulat di kampus, padahal sudah melewati batas normal kuliah (4 tahun 8 semester). Berbagai suara negatif melekat di pundak mereka. Apalagi berstatus sebagai mahasiswa rantau yang selalu diperbincangkan oleh orang-orang di kampung. “Kok anak si anu yang kuliah di Jogja alun wisuda juo lai??? Padahal kawan-kawan SMA-nyo alah lulus, alah karajo….”

Saat ini, memang banyak orang tua berpikir berkali-kali sebelum memutuskan menyekolahkan anaknya ke Jogjakarta. Tidak hanya jarak yang terlalu dari Sumatera Barat, biaya pendidikan yang melangit, dan ekspos media terkait  pergaulan bebas mahasiswa Jogja yang memprihatinkan, tapi juga kecendrungan lamanya masa studi para mahasiswa di Jogjakarta.

Fenomena “mahasiswa-mahasiswa tua”  di Jogja memang menjadi stigma negatif terkait sejauh manakah keberhasilan universitas-universitas di Jogja mendidik para mahasiswa sehingga bisa lulus tepat waktu. Tak jarang situasi ini diarahkan kepada bentuk degradasi kualitas oleh “kelompok matematis” yang beranggapkan keberhasilan di perguruan tinggi disandarkan pada parameter lama kuliah dan tingginya indeks prestasi kumulatif (IPK).

Tapi, apakah betul kuliah melebihi batas normal menjadi indikasi “kegagalan” seorang mahasiswa? Apakah orang yang baru bisa menyelesaikan kuliah 5 tahun, 6 tahun, 7 tahun atau bahkan 8 tahun boleh dicibir begitu saja tanpa melihat sisi lain dari proses yang mereka jalani?

Untuk pertanyaan di atas, tentu tak bisa dijawab secara retoris. Tapi butuh bukti-bukti konkrit yang ditampilkan oleh para mahasiswa tua itu.

Dendi Pratama, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada Jogjakarta angkatan 2004, menjadi salah satu pelebur stigma negatif terhadap tudingan “mahasiswa tua” = “mahasiswa mada” lewat keberhasilannya menjadi Premiere Eagle Awards 2010. Dendi bersama rekannya Danang Cahyo Nugroho asal Sleman Yogyakarta mengangkat cerita “Habibie Dari Selokan Mataram” yang mengisahkan kehidupan seseorang bernama M Toha, seorang pekerja percetakan yang dikenal karena keahliannya dibidang aeromodeling dan robotic.

Dalam pengumuman yang disampaikan oleh Project Officer Eagle Awards 2010, Kioen Moe, di Jakarta, Jumat 27 Agustus 2010 yang lalu, hanya 5 Finalis yang terpilih dari ribuan proposal yang masuk ke meja panitia. Dari kelima film dokumenter tersebut akan dipilih satu pemenang yang akan diumumkan pada 9 Oktober 2010 mendatang.

Dendi merupakan alumnus SMU Negeri 2 Payakumbuh. Bergulat dengan ide-ide kreatif ala Jogja memang telah membuatnya “agak” telat menyelesaikan kuliah. Tapi semua itu dibayar kontan dengan sebuah prestasi membanggakan tingkat nasional lewat pergulatan mengembangkan potensi di bidang sinematografi. Yang belum tentu bisa diraih oleh mahasiswa-mahasiswa rajin yang bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu.

Kuliah bukanlah sekedar pencapaian IPK tinggi dengan masa waktu studi tertentu. Menjadi mahasiswa adalah proses menuju kematangan intelektual, karakter, dan kreatifitas. Terkadang ada yang memerlukan waktu lebih untuk menemukan “jati diri” sebelum memutuskan untuk menyandang gelar sarjana. So, apakah kita masih mencibir para “mahasiswa tua”???