Mungkin tak jarang kita menemukan status yang mencibir status para facebookers bernada curhatan. Lucunya mereka juga pemakai facebook dan sering juga mengupdate status-status ringan tak bermanfaat. Tapi ketika giliran membaca wall orang lain yang mungkin masuk dalam list daftar temannya, timbul justifikasi sedikit merendahkan yang kemudian mereka ketikan di wall sendiri.

“Ah, malas buka facebook. Orang-orang pada ngeluh semua. Ngak mutu banget…”

“Status orang-orang hari ini pada cenggeng semua… Gitu dikit aja disampaiin juga di facebook… Lebay ah…”

“Cuba nulis status yang agak mutu dikit, bisa ngak sih??…”

Tiga status di atas hanya sekedar contoh dari protes dari orang-orang yang pingin facebook digunakan “lebih elegant” dan “lebih konstruktif”. Tidak hanya sekedar tempat marah-marah kalau lagi disemprot Bos di kantor – lagi berantem sama pacar, keluh kesah ketika tugas kantor – tugas kuliah menumpuk, sekedar show up lagi stay dimana sampai-sampai lagi di wc-pun ditulisin juga.

Alergi terhadap “status alay (Anak Lebay)” ini terkadang digiring menuju stratafikasi kecerdasan emosional. Seolah-olah orang-orang membuat “status lebay lagi cemen” dipandang berjiwa kanak-kanak, belum dewasa dan belum bisa memanage emosi.

Terus kita tentu akan bertanya, kira-kira apa sih jenis “status berkelas” di facebook? Apakah status mengkritisi anggota dewan yang menghabiskan uang negara lewat plesiran tak bermutu ke Belanda, Afrika Selatan, Jepang, dan Korea dengan dalih penguatan kualitas pembuat legislasi di Parlemen? Apakah status yang menyertakan tulisan berat ala filsafat hingga orang lainpun ngak mudenk dengan link kita berikan?  Ataukah status yang disertakan cuplikan koran berbahasa Inggris tentang polemik rencana pembangunan Masjid di Zero Ground?

Jika memang status jenis inilah yang bisa dikategorikan sebagai “status berkualitas”, maka pertanyaan rentetan yang muncul adalah apa parameternya? Apakah “status ekspresikan perasaan” menempati posisi lebih rendah dari “status aktual persoalan politik-ekonomi-sosial-budaya”?

Beranjak kepada motivasi awal pembuatan facebook oleh sang pendiri, Mark Zurkerberg, yang ingin membuat sebuah media interaksi di antara mahasiswa-mahasiswi dari berbagai jurusan di Harvard University, menurut penulis semangat yang melandasi Mark adalah aspek berbagi dan berinteraksi.

Berbagi tidak hanya sekedar penyampaian opini, kritik, ataupun memberikan barang-barang konkrit. Berbagi dalam arti luas juga dapat dimanifestasikan dalam bentuk ungkapan perasaan. Interaksi sosial manusia juga tak bisa direduksi sekedar respon terhadap informasi-informasi yang dipublish oleh media mainstream. Banyak ruang-ruang “orang-orang biasa” yang tak terekam dalam batasan durasi tayang media.

Lepas dari kaidah ilmiah terminologis, penulis melihat pemilihan nama “Facebook” telah mengindikasikan bahwa jejaring sosial ini membuka ruang kepada siapun-dimanapun untuk mengungkapakan apapun yang dia berkelindan di hati dan pikirannya. “Face” berarti “wajah”. Wajah merupakan perwujudan hati. Perubahan warna wajah menunjukkan perubahan hati dalam diri seseorang. “Book” adalah “buku”. Buku adalah sarana publikasi untuk memberikan informasi dari penulis kepada khalayak. Jadi facebook secara “terminologis ringan” berarti sarana bagi seseorang untuk mempublikasi perasaannya hingga orang lainpun bisa memahami keadaan yang bersangkutan meskipun tidak bertemu secara langsung.

Artinya,  tindakan membawa facebook pada segmentasi tema-tema tertentu sama saja mereduksi makna facebook itu sendiri. Menggiring manusia pada kebisuan psikologis, menjadi manusia-manusia kaku karena tak mau bergaul dengan keluh-kesah alamiah manusia yang sangat banyak kita temui di status-status facebookers. Karena lewat interaksi dengan hal-hal lebay itulah kita bisa memahami kompleksitas “manusia sebagai manusia”.

Mencibir orang-orang yang membuat status lebay adalah enemies demokrasi ala facebook. Karena, menurut hemat penulis demokrasi bukan sekedar persoalan legislatif, eksekutif dan yudikatif. Tapi ekspresi orang untuk menyampaikan suasana hatinya meskipun itu bernada melankolis atau emosional itulah yang lebih mendasar secara kemanusiaan daripada persoalan elite-elite negara.

Sungguh tulisan ini bukan hendak menganjurkan orang-orang berlebay-lebay ria di facebook. Tapi hendak meredam suara-suara miring dan stigma-stigma yang membuat interaksi kita berfacebookan jadi terganggu karena sebuah pola pikir simplikitis. Tentunya, melauching “status lebay dibarengi “status serius” menjadi strategi yang bisa dipilih untuk menyeimbangkan eksistensi kita di facebook…. Tak dicibir mellow ataupun  dicap sok jaim. He2..he2..