Sebuah comment aneh mampir di blogku. Tak ada angin tak ada hujan. Sang tamu tak diundang mencaci maki diriku tanpa alasan. Memakai inisial tak jelas dan email palsu dengan jitu ia berhasil membakar emosiku. Tapi keberadaannya masih bisa kulacak lewat pencarian IP adress yang ia tinggalkan seiring menuliskan komentar.

Untung saja emosiku tak memuncak. Setelah sholat Magrib, segera kuambil Al Qur’an, karena kuyakin obat segala penyakit, termasuk amarah, akan teredam lewat melantunan kalam Ilahi.

Kusudahi bacaan tartilku setelah 4 halaman. Kemudian ku hidupkan lagi komputer ntuk buka internet. Tentu saja page awal yang kubuka adalah facebook dan yahoomail. Eh, ternyata ada pesan dari Bunda Ursilathariqhaniya, istri da Rizal Yaya (alumni asramaku yang saat ini sedang ambil S3 di Aberdeen University Scotlandia). Sontak saja pesan dari Bunda membuatku gembira. Rasa amarah dari comment orang aneh tadi segera hilang dari pikiranku. Dalam suratnya, Bunda juga menyertakan sebuah nomor HP berharga buatku. Teman Bunda yang suaminya juga kuliah di UK, tepatnya di Leeds University England. Berhubung online, sempat juga aku chatting sama Bunda sekitar 10 menitan, hingga akhirnya Bunda pamit untuk sholat Dzuhur. Sempat juga beliau ajak aku ambil S2 di Scotland aja. Kata Bunda, S2 di sana cuma satu tahun.

Lambat laun, comment orang tak bertanggung jawab itu lenyap. Lagian ngapain pula ladenin orang yang ngak jelas dan hanya punya motivasi hendak merendahkan orang lain. Buang-buang energi aja. Tipelogi paranoid yang ingin membunuh karakter orang. Ya, cukup diabaikan saja. Kata-kata kasarnya menunjukkan dia seorang tak berpendidikan dan mungkin ngak pernah belajar budi pekerti… He2…

Pikiranku semakin melayang ketika Mbak Ribkhi nulis sesuatu di wall facebooknya, “Hehehe… Tadi dr. Ima cerita tentang sms mass Anggun ke dr. Daru… Bilang kata2nya melankolis.. tak bilang aja: ’emang orangnya kayak gitu dok klo berkata2′. hehe…” Ternyata sms-smsku sebelum operasi mata masih dikenang sama dr. Daru. he2.. he2…

Segera kukirimkan sebuah pesan lagi ke dr. Daru. Ucapan terima kasih karena telah membantuku selama pemeriksaan dan perawatan selama di RS. Sardjito dan pengabadian kisah-kisah selama bolak-balik rumah sakit selama satu setengah bulan di blog ini. Terus, dr. Daru minta alamat blogku. Mungkin besok beliau akan berkunjung. Yang tentunya akan menjadi kunjungan spesial dan sebuah kehormatan bagiku.

Pas ngantar Era (adik baru asrama putri yang kuliah di Biologi UGM) pulang ke asrama, aku bertemu dengan seorang Bapak-Bapak yang setelah berkenalan, ternyata baru datang dari Solok. Kebetulan beliau mengantar anak perempuannya yang diterima kuliah di Teknik Informatika STTA Adisutjipto. Sense sesama orang sekampung, membuatku keasyikan ngobrol tentang perkembangan terbaru Kota Solok dengan beliau.

Ketika hendak pamitan pulang,  dek Welcy Fine (Adik asrama putri yang sudah akrab denganku sejak awal kedatangannya di Jogja bulan April 2009 lalu – kuliah di Sastra Perancis UGM) menyodorkan sebuah buku kepadaku. Kulihat judulnya, lumayan berat. “Gugatan Keadilan Gender atas Poligami“. Terus dek Welcy menimpali, “Uda, pengarang buku ini dosen Filsafat lho…“. Segera saja kubalik ke sampul belakang. Ada sebuah foto dan satu paragraf biografi sang penulis. “Laily Muthmainnah“, ah tak salah lagi sorakku. Benar, pengarang buku yang diperlihatkan Welcy adalah Bu Laily, dosen cantik lagi baik di fakultasku. Bahkan di akhir masa kuliah, aku sempat jadi asisten beliau dalam proyek suksesi peringkat UGM di internet lewat program “Data Web Dosen UGM”. Sekitar 7 bulan aku aktif berinteraksi dengan Buk Laily untuk kepentingan proyek itu. Terakhir, aku bertemu dengan Buk Laily di penghujung bulan Agustus lalu, ketika masih sibuk mengedit disertasi Pak Nusyirwan. Beliau tampak semakin cantik, setelah melahirkan seorang anak perempuan.

Tahu bahwa aku dekat dengan Buk Laily, Welcy pun minta tolong padaku biar buku tadi ditandatangani sama penulisnya, yang tak lain dan tak bukan adalah Buk Laily. Sudah kukirimkan sms ke beliau. Mudah-mudahan besok pagi sudah ada balasan.

Handphoneku berdering. Ada sms dari Mas Jipong (pemain klub Divisi Utama PSIM, Sinar Oetara) untuk memulai kembali latihan sepakbola di Lapangan Karangwaru. Sebenarnya kakiku sudah gatal pingin nendang bola. Tapi pas konsultasi kemarin sama dr. Nurul Ima, aku masih belum diperbolehkan ntuk olahraga. Jangankan ntuk berlari berpacu menendang bola, sujud saat sholat dan ngangkat barang-barang aja juga belum boleh. Namun, berhubung Bapak kemarin SMS, “Turuti nasehat Dokter ya Gun..”, membuatku harus menahan diri absen dari meriahnya sepakbola sampai satu atau dua bulan lagi.

Perasaan gembiraku masih bertambah ketika Lya (adik IMM UGM yang kuliah di Psikologi UGM) nulis sesuatu di wall facebookku. “Uda Anggun minta nasihat cinta ka si Yusro yo?? Wkakakaka...”. Ya, terang aja Lya ketawa besar setelah baca postinganku tentang 5 jurus cinta dari Yusro (adik IMM UGM yang sering buat kegilaan bersamaku saat Mubes atau DAD – kuliah di Teknik Nuklir UGM). Sebenarnya bukan aku yang minta, tapi secara sukarela Yusro ngirimin aku tips dan trik itu… he2..he2.. :)

E***, malam ini kucuba hubungi handphonemu lagi. Lebih 3 kali kucuba, tapi tiada mau engkau mengangkatnya. Mungkin engkau sudah tidur karena keletihan. Tapi aku ngak marah kok.. He2.. He2.. Teramat ingin aku melihatmu damai dalam kunjungan lebaran kali ini di kampung. Sebelum engkau kembali lagi berjuang sendirian di tengah kerasnya Jakarta.

Sebenarnya, aku sudah niat tak akan menghubungi selama 4 hari sebagaimana yang direkomendasi dek Era kepadaku kemarin malam. Tapi tiba-tiba menjelang Dzuhur tadi, engkau menghubungiku lagi setelah sejak hari Senin yang lalu, engkau diam membisu. Tapi teleponmu kali ini hanya sebentar. Terus engkau menjanjikan akan menghubungiku lagi.

Aku paham, agaknya engkau memang butuh waktu untuk merenung dan berdiam diri. Engkau butuh sendiri untuk sementara waktu. Akupun rela menerima sikap membisumu. Karena memang aku tak punya hak untuk memaksakan keinginan dan gejolak di dadaku. Aku harus mengedepankan kesabaran, meski rindu ntuk mendengar suaramu lagi. Ya, mungkin ini adalah bagian dari ujian dari sebuah perjuangan. Perjuangan meraih cintamu. Karena semakin hari aku merasa engkaulah Bidadari yang selama ini kuimpikan dalam jaga dan tidur… Btw, mat malam aja Honey… I Love U…