Memulai Hari Baru


Pagi ini berawal ketika aku terjaga pukul 3.15 saat hujan menguyur Jogja. Suara siaran TV yang lagi menyiarkan siaran langsung Liga Champion antara Real Madril versus Ajax Amsterdam bertarung dengan rintik-rintik hujan. Ada Usman, adik asrama yang barusan pulang KKN dari ujung barat Indonesia (Pulau Weh Aceh) dan Uyung, teman asrama yang jago komputer.

Aku mencoba berdamai dengan pagi. Biarkan dinginnya sejukkan hatiku yang sejak tadi malam terganjal oleh sesuatu yang teramat menyakitkan. Mungkin gara-gara ini dia tidak membalas sms dan tidak mengangkat teleponku sejak 4 hari terakhir. Kehadiran pemuda baru, yang lain dan tak lain bukan juga teman satu SMA-ku.

Ada sakit, ada marah. Apakah memang aku kalah darinya? Apakah aku kalah ganteng atau kalah pintar dari teman itu? Kelibat emosional yang membuatku kalap dalam gerusan rendah diri yang menghujam. Hingga aku tersadar, ini bukan masalah ganteng atau pintar. Tapi masalah hati dan perhatian. Sama seperti psikotest yang diadakan oleh Perusahaan. Kandidat yang tereliminasi bukan karena tak cerdas ataupun tak memenuhi kualifikasi, tapi lebih karena ketidakcocokan kompetensi dengan yang dibutuhkan perusahaan.

Kucuba lebur rasa marahku. Karena memang tak sepantasnya aku marah. Lagian, semua berjalan setelah dia memberikan jawaban, jauh sebelum “pdkt” itu terjadi. Mungkin cuma aku saja yang masih menaruh harapan agar diberikan kesempatan lagi olehnya.

Tak ingin terbuai dengan hal-hal melankolis kayak gini, sejak Shubuh tadi kuputar radio BBC biar sense Bahasa Inggrisku yang tumpul selama Ramadhan bisa terasah kembali. Seiring reporter BBC mengudara, akupun mulai berselancar mencari bahan bacaan serius biar otakku kembali terbiasa dengan tema-tema berat yang membutuhkan fokus pikiran.

Mulai hari ini, aku tak ingin hari-hariku terbuang begitu saja, gara-gara lamunan merana karena cinta. Aku akan cuba tekan sisi-sisi romantisku sementara waktu, sebagaimana  telah berhasil kulakukan ketika merampung skripsi dulu. Jika aku masih main-main atau masih terjerat dalam kisah percintaan yang tak berkesudahan, alamat cita-cita yang telah kugantungkan, hanya tinggal impian semu belaka.

Memang berat kembali berpikir serius dan kembali bergulat dengan bacaan serius. Perjalanan awalku hari ini dimulai lewat note yang ditulis oleh Mas Arif (seniorku di IMM UGM – Pentolan Redaksi Website Muhammadiyah) tentang film yang lagi booming saat ini, “Sang Pencerah”.  Film karya Hanung Bramantyo yang berceritakan perjuangan KH. Ahmad Dahlan dalam mendirikan Muhammadiyah. Sebuah link yang diberikan Mas Arif di ulasan yang dibuat oleh Haqqi (Adik angkatan di IMM UGM yang membantuku membuat cover buku “Messianik Yahudi“) mengantarkanku pada sebuah blog keren, “Pejalan Jauh“. Padat, berisi, dan analisis tajam. Mengambarkan keluasan wawasan sang pemiliknya.

Ya, Pejalan Jauh telah membangkitkan kembali semangatku untuk memulai pengembaraan intelektual. Sebagai persiapan untuk mengejar kuliah di luar negeri. Selain score TOEFL yang tinggi, tentu harus juga dilengkapi dengan skill lain. Berapa banyak buku yang dibaca, analisis persoalan, dan kemampuan komunikasi menyakinkan orang. Ngak mungkinlah kan, mau sekolah di luar negeri tapi persiapannya cuma baca koran. Harus baca buku-buku masterpiece dari para filsuf. Harus baca essai-essai filsafat berbobot dari New York Times. Seperti yang dikatakan oleh Mbak Rona (adik angkatan di Filsafat UGM yang baru masuk Universitas Nancy Perancis), “Semster ni bahas buku Hobbes dan Pascal.. Dulu pernah baca leviathan, tp gk smpe kelar..ahh..bodohnya.. Hehe..“.

Man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapatkan. Itulah spirit yang cuba kuhunjamkan ke hati. Kalau memang serius mau kuliah di luar negeri, maka harus serius juga menjalani persiapan mewujudkannya. Mbak Rona aja konon mempersiapkan diri satu tahun pasca wisuda hingga bisa kuliah di Perancis. Belum lagi dihitung dengan masa kursusnya di LIP Jogja semasa kuliah dulu. Mas Gonda (teman di IMM UGM) butuh waktu 3 tahun untuk mewujudkan kuliah di India. Jadi sekolah ke luar negeri ngak bisa diraih dengan persiapan asal-asalan.

E***, aku tak marah padamu. Aku masih menguatkan hati untukmu. Karena aku masih berharap engkaulah labuhan terakhir cintaku. Meski begitu berat dilema yang terjadi saat ini, kuharap semua akan berlalu dengan baik. Berikanlah aku kesempatan satu kali lagi. Berikanlah aku waktu untuk merubah diri agar benar-benar pantas untukmu… I Love U Honey…

Iklan

One thought on “Memulai Hari Baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s