Hujan masih belum bosan basahi Jogja. Dalam suasana sepi di asrama, ketika sebagian teman-teman pergi jalan-jalan ke Dataran Tinggi Dieng. Sebenarnya, aku pingin ikut, tapi berhubung hari ini ada jadwal check up rutin pasca operasi di RS. Sardjito, akhirnya aku memilih untuk stay di Jogja aja.

Pemeriksaan kali ini terasa spesial. Saat duduk di kursi antrian, dr. Daruwati yang baru datang, berikan sebuah senyuman padaku. Selang beberapa menit, akupun dipanggil masuk ke dalam ruangan. Seperti prosedur biasa, aku langsung ditanyain keluhan sama dokter muda yang lagi koas. Masih sama seperti minggu kemarin, dengan dokter muda asal Malaysia.

Kali ini namanya FARHANA Binti ABDUL AZIZ. Memakai kerudung merah jambu dan baju kurung Melayu berwarna putih dengan hiasan merah muda, Miss Farhana mengingatkanku pada Nurul Izzah, anak tertua Anwar Ibrahim. Baru setelah uji tes penglihatan dari jarak jauh, gadis Malaysia itu memberikan catatan klinisku kepada dokter spesialis. Berhubung dr. Daru lagi ada pasien, aku diserahin sama dr. Nurul Ima, yang memang sejak awal kedatangan sebelum operasi dulu, juga telah memeriksa mataku.

Di sela-sela pemeriksaan, aku dikejutkan oleh sosok yang rasanya kukenal…. Ah, aku ketemu sama Mbak Ribkhi lagi. He2… Aku hanya bisa senyum-senyum aja, agak sulit ngomong karena dr. Nurul Imawati masih sibuk menyenteri mataku. Ketika diminta pindah ruangan untuk memeriksa tekanan mata, eh ternyata Mbak Ribkhi juga ikut. Saat antrian masuk ruangan, barulah aku bisa ngobrol sama Mbak Ribkhi. “Mas, lebaran di Jogja ngapain Jogja, ngak sepi apa?”… Aku hanya ketawa-ketawa saja mendengar pertanyaan teman yang dulu sama-sama aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM itu. “Ya ngak lah Mbak. Asyik lebaran di sini. Makan sampai lima kali sehari. Malah Mas makan gratis 2 hari berturut-turut…” Ribkhi yang mendengar cerita konyolku hanya menimpali, “Dasar Mas Anggun…”. Dokter Nurul yang mendengar pembicaraanku dengan Ribkhi tampak ikutan tersenyum.

Sempat juga sih aku cerita tentang keinginan kuliah S2 di luar negeri. Ceritain tentang Mas Gonda (yang juga sama-sama aktif bareng dengan kami di IMM UGM tahun 2006 – beliau saat ini lagi kuliah di Jamia Millia Islamia University India) yang kemarin jadi khatib pas sholat Idul Fitri di KBRI di New Delhi India. “Memang Mas, tu anak benar-benar pinter…”, timbal Ribkhi.

Pemeriksaan tadi semakin spesial karena Prof. Suharjo yang kemarin memimpin operasi mataku, menyempatkan diri untuk memeriksa perkembangan mataku pasca operasi. Prof bilang, hanya tinggal penyembuhan aja. Hingga dr. Nurul pun mengurangi obat tetesku menjadi  satu macam, setelah sebelumnya ada 3 obat tetes. Tapi obat minum masih tetap 3 dengan formula yang agak berbeda dari yang diberikan oleh dr. Daru minggu yang lalu. Check up rutinpun untuk bulan kedua sudah berkurang menjadi sekali dua minggu dan satu kali sebulan pada bulan ketiga. Semakin melancarkan rencanaku untuk terbang ke Pare Kediri untuk kursus Bahasa Inggris awal Oktober ini.

Waktu sudah semakin mepet. Pembukaan beasiswa luar negeri untuk Inggris dan India dimulai akhir tahun ini dan ditutup bulan Januari besok. Praktis aku cuma punya 2 atau 3 bulan untuk mengejar TOEFL 550, plus dengan speaking yang apik.

Kayaknya aku memang lebih memilih mau lanjutin kuliah dulu, daripada nyari kerja. Setelah perjuangan memasukkan lamaran ke sana ke mari dan tes kerja selama 6 bulan, yang berakhir dengan kegagalan demi kegagalan, agaknya pilihan realistis memang lanjutin kuliah S2 aja. Seraya berharap setelah mendapatkan gelar Master di bidang Filsafat aku bisa lamar jadi dosen di UGM. Lagian aku juga terpacu dengan pencapaian Mbak Rona Utami, adik kelas di Filsafat UGM, yang berhasil menembus Universitas Nancy Perancis.

Hari ini aku bahagia, meskipun E*** tak balas sms ataupun mengangkat teleponku. Ngak pa-pa, mungkin dia butuh waktu untuk memulihkan perasaan. Akupun juga tak ingin memaksakan diri terus mengusiknya. Aku sudah ikhlas menerima penolakkannya beberapa hari yang lalu. Kalaupun tadi pagi aku sempat menulis sebuah “postingan istimewa” tentangnya, itu hanyalah sebagai tanda terima kasihku, karena lewat lintasan senyuman dan wajahnya, aku berhasil menundukkan godaan gila yang menyerang pikiranku. Entah kenapa, ketika menyebut namanya, gejolak dalam jiwa tiba-tiba hilang dan menjadi normal. Aku merasa fenomena itu sungguh luar biasa.

Meski kadang masih terasa kecewa atas penolakkan E***, tapi aku tak mau larut dalam kegelisahan tak menentu. Apalagi, kemarin adik IMM UGM, Muhammad Yusro, ngirimin aku tips and trik kalau lagi suka sama seorang cewek.

  • Peraturan pertama: jangan minta nasehat cinta sama orang jomblo (terkesan sederhana tp fundamental).
  • Peraturan kedua: Kesalahan pria baik seperti Uda Anggun adalah TERLALU BAIK.. Jadi jangan terlalu baik tarik ulur aja gitu.
  • Peraturan ketiga: Selogis-logisnya wanita dalam penentuannya tuh tetep pakai hati.. Jadi dalam meyakinkan wanita jangan pakai otak tapi pakai hati… Sentuhlah dia tepat di hatinya dia kan jadi milikmu selamanya (Ari Lasso).
  • Peraturan keempat: Yang paling penting IKHLAS… Faidza azzamta fatawakkal alAllah… Pria yg baik untuk wanita yg baik, begitu pula sebaliknya..
  • Peraturan kelima: Jika belum jodoh yakinlah akan dapat yg lebih cocok.. Dan berbhagialah untuknya… Cinta adalah ikut merasakan jika yang kita cintai bahagia, walaupun dengan orang lain…

Ya, aku mencoba menikmati hari-hariku di asrama. Mencoba menjadi orang baik yang selalu hadirkan suasana gembira. Menyebarkan senyum dan lelucon cerdas hingga orang-orang yang bertemu denganku bisa juga mengembangkan senyum. The power of smile. Aku ingin jadikan hal ringan itu menjadi semangat yang bisa menghidupkan keakraban. Karena setelah kupikir-pikir percuma saja memasang muka masam dan cemberut. Aura negatif akan membuat pertemuan terasa gersang. Tapi kalau semua dimulai dengan senyuman, maka secara tak sadar gelombang positif akan hadirkan kehangatan…

Tak ada masalah yang tak terpecahkan. Kita hidup di dunia tak bisa sendirian ataupun memikirkan diri sendiri saja. Lewat kebersamaan dan pertolongan kepada orang lainlah kita bisa membuat dunia lebih berwarna. Karena kita bisa menjadi spesial bagi orang lain ketika kita bisa berbuat sesuatu. Kita bisa menjadi sosok inspiratif ketika kita mau sedikit berbagi dan memberikan perhatian. Karena Tuhan menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, maka jadikanlah itu sebagai spirit untuk menjalin ukhuwah demi kemajuan peradaban manusia.

Ya Allah, terima kasih atas segala nikmat-Mu ini. Terima kasih atas perkenan-Mu mengenalkan aku dengan sosok-sosok spesial dari hamba-hamba-Mu nan terpilih… Terima kasih Ya Rabb…:)