“Cowok Lebay”, begitulah gelar yang barusan diberikan seorang teman kepadaku. Katanya sih, aku terlalu berlebihan ketika mengekspresikan sesuatu. Tambah lagi, terlalu melankolis dan ekspresif ketika mengalami masalah cinta. Seolah-olah pingin diperhatiin githu…

“Lebay”, kayaknya belum masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru. Bisa dibilang sebagai bahasa gaul yang diekspresikan dalam obrolan santai  sehari-hari. Dengar-dengar sih, istilah ini dipopulerkan oleh duet pembawa acara “Ceriwis” di Trans TV, Indra Bekti ama Indy Barens. Tapi ngak tahu juga sih gimana sejarah kemunculan istilah gaul ini pertama kali. Yang jelas pemakaian kata “Lebay” sudah massif di kalangan anak-anak muda.

Secara terminologis, mungkin “Lebay” bisa diartikan “berlebihan”, “over dalam segala hal”. Dikit-dikit langsung bereaksi  ngak karuan. “Orang Lebay” adalah orang yang selalu membesar-besarkan masalah atau hal kecil. Dalam arti lain “Orang Lebay” juga adalah orang yang terlalu melebih-lebihkan diri maupun pendapatnya tanpa memperdulikan orang lain. Alhasil “Orang Lebay” cenderung untuk bersifat sombong, merasa benar sendiri dan selalu ingin cari perhatian.

Kalau melihat dari definisi ini, kayaknya aku ngak lebay-lebay amat. Lagian aku juga ngak terlalu egois dengan pendapatku sendiri. Ngak juga sombong dan merasa benar sendiri. Aku masih senang berdiskusi dan terbuka terhadap masukan ataupun kritikan dari orang. Memang sih, aku sering curhat tentang apapun yang kurasakan di blog. Baik itu ekspresi kegembiraan ataupun kekecewaan. Tapi menurutku, itu semua masih dalam batas-batas wajar. Masih cukup elegan buat sebuah diary online yang bisa dibaca oleh semua orang. Lagian niatku bukan buat nyari perhatian, ataupun meminta belas kasihan pada orang lain. Aku hanya sekedar menumpahkan perasaanku, yang apabila kupendam bisa bikin migrain-ku kambuh lagi. Ketika semua dilema yang kuhadapi kuceritakan lewat tulisan, serasa beban di pikiran sirna seketika. Terserah apakah ada yang ngasih komen atau tanggapan. Yang penting bagiku adalah menulis. Syukur-syukur ada yang terhibur ataupun yang terinspirasi dari tulisan yang telah ku buat.

Menulis bagiku adalah refreshing atas dinamika hidup yang kuhadapi. Lewat tulisanlah aku menumpahkan kemarahan, kebahagiaan, kelindan pikiran, dan hasil perenungan. Karena memang, aku tidak terlalu pintar mengekspresikan sesuatu lewat lisan. Aku lebih enjoy, memainkan jemari di atas keyboard, sambil memutar-mutar otak sehingga terangkailah kalimat demi kalimat. Aku percaya, sesuatu yang dituliskan akan lebih kekal daripada sesuatu yang diucapkan. Memori manusia terbatas. Tapi ketika ia membaca kembali tulisan akan masa lalu, maka dengan cepat memorinya akan mencari lagi cetak biru cerita tentang tulisan itu dalam deretan file yang berisikan jutaan rekaman kehidupan.

Masa lalu adalah sejarah. Sejarah tak akan berarti apa-apa tanpa bukti otentik tulisan. Bukankah kita telah melihat bagaimana banyak buku-buku sejarah bisa ditulis karena bantuan diary-diary yang dibuat oleh seseorang tentang satu peristiwa. Bahkan diary-diary itu bercerita lebih dalam daripada dokumen-dokumen sejarah yang cendrung kaku dan formal. Lewat penelusuran diary-lah biasanya para sejarawan bisa menangkap aspek psikologis dari sebuah peristiwa sejarah pada masa lalu.

Aku ngak peduli dengan sebutan apapun yang dilekatkan pada diriku. Mau dibilang lebay, melankolis, munafik, ataupun istilah-istilah yang lebih rendah daripada itu, terserahlah. Aku ngak akan marah. Karena aku berproses sesuai dengan pikiran dan perasaanku sendiri. Memang saat ini, aku tak lebih dari pemuda bodoh yang terombang-ombang dalam ketidakpastian. Hanya bisa menerima penolakan demi penolakan dari gadis yang kusuka dengan lapang dada. Karena memang tidak ada yang bisa kubanggakan dan buktikan kepada mereka akan sebuah masa depan yang cerah. Aku hanya bisa minta kepada mereka agar memberikan waktu kepadaku untuk mewujudkan mimpi-mimpiku. Tapi itu semua adalah hal yang abstrak bagi mereka. Hingga akhirnya jawaban yang kudapatkan, Penolakan.

Namun, aku tak kecewa dengan semua itu. Aku tak patah hati karena dicampakkan. Aku terus memperjuangkan cinta suci yang kumiliki. Berusaha terus mencari dan mencari tempat labuhan hati. Meski terkadang luka lama kembali berdarah ketika aku berjalan menyusuri jalan baru nan berbatu. Tapi tak sedikitpun langkahku surut. Meski ada yang mencibir, “Tuh lihat, si Anggun lagi beraksi mencari mangsa baru”.

Aku menghargai kesetiaan. Aku menghargai keteguhan hati untuk memelihara satu cinta. Tapi apakah aku harus bertahan pada satu sosok wanita yang tak punya rasa kepadaku? Apakah aku harus mengemis untuk mendapatkan seteguk air cinta demi menghapus dahaga di hatiku? Apakah aku harus tetap bertahan tanpa kepastian dan terus menunggu sampai orang yang kucintai itu kemudian dengan senyuman memberikan undangan pernikahannya dengan pemuda lain? TIDAK…

Cukuplah penantian sejak kelas 2 SMP sampai wisuda kemarin akan seorang gadis bernama Greaty, menjadi ujian terakhir kesetiaanku menunggu seorang wanita. Sudah cukup airmata mengalir karena terus terabaikan. Sudah cukup bujukan hati, bahwa masih ada harapan untuk bersatu dengannya. Karena semua telah berakhir dengan kabar, Greaty akan menikah.

Setelah Greaty pergi, aku terkapar tak berdaya. Tangisku pecah, hatiku hancur seketika. Tapi aku tak ingin bunuh diri. Tuhan masih sayang padaku, sehingga masih memberikanku kekuatan ntuk meneruskan hidup. Hirupan nafas yang Dia berikan, membuatku tersadar untuk memberikan pengabdian sebagai kesyukuran atas nikmat yang telah Ia berikan. Aku terus melanjutkan perjuangan cintaku. Aku mencoba mendekat gadis lain. Dengan cara baik-baik kuungkapkan maksud hati. Bukan sembarang orang aku menyampaikan rasa suka. Kupilih dari sekian dari kenalanku yang benar-benar baik dan punya pesona akhlak yang menentramkan hati. Yang kuterima sampai saat ini hanyalah penolakan.

Dari satu penolakan, akupun pindah ke yang lain. Bukan karena aku hendak menjadi playboy dan ingin mempermainkan hati wanita sebagai pelampiasan sakit hatiku. Sama sekali tidak ada niat untuk itu. Tapi apakah mungkin aku terus bertahan pada satu sosok yang telah menolakku? Dengan asumsi,

“Cewek tu harus didekati terus. Ngak cuma cukup menyatakan cinta satu kali saja. Cewek punya cara pikir sendiri untuk menerima cowok. Dan biasanya butuh proses dan waktu yang panjang. Maka cobalah bersabar.”

Aku sudah cuba cara itu. Bertahan satu bulan, dua bulan, tiga bulan, setengah tahun, satu tahun, dua tahun, tiga tahun. Secara berkala menyampaikan kesetiaan dan perasaan cinta. Tapi yang kuterima tetap saja, PENOLAKAN. Bahkan aku dianggap Paranoid akut plus Autis, yang kemudian mereka tinggalkan begitu saja. Takut tertular dengan “penyakit kronis” yang kuderita sampai-sampai menerima sms dan telponku saja mereka tak mau.

Aku pun juga tak mau seseorang mencintaiku karena “kasihan”. Karena penghibaanku, kemudian mereka menerimaku dengan “terpaksa” karena tak ingin menyakiti. Benar-benar aku tak ingin diterima dengan cara itu. Aku ingin dicintai apa adanya. Dicintai sepenuh hatinya, karena mereka melihatku sebagai laki-laki dewasa yang bisa menjadi Imam. Bukan karena rasa iba karena aku memohon agar bisa menjadi seseorang spesial di hatinya.

Penolakan memang membuatku sakit. Tapi aku aku tak marah. Akupun tak dendam pada mereka. Akupun tak marah pada Tuhan atas jalan hidup yang seperti ini. Aku tetap bersyukur karena Tuhan masih memberikan aku hidup dan terus mengenalkanku dengan sosok-sosok istimewa yang membuatku tetap bersemangat berinteraksi dengan dunia.

Aku hanya bisa menulis. Hanya menuliskan kisah-kisah hidup pribadi, aku mengungkap semua isi hati ini. Kalaupun ada yang mencibir tulisanku, aku rela menerima. Jika ada yang tersakiti karena tulisanku, dengan segera aku akan meminta maaf atas kesalahan itu. Aku hanyalah manusia biasa, yang terlahir dengan hobi yang agak aneh. Menuliskan diary privasi untuk dibaca khalayak ramai. Niatku bukan untuk bernarsis ria ataupun hendak lebay dengan suasana hati sendiri. Tapi, jauh dari itu, aku ingin orang lain bisa mengambil pelajaran atas etape hidup yang kujalani. Karena “menjadi manusia” adalah proses, yang mesti melewati rintangan demi rintangan. Kadang terjatuh, kadang terluka, kadang meringis kesakitan dan tergelepar tak bisa meneruskan langkah. Itulah dinamika. Meski ku tak tahu, akhir dari semua ending semua ini, Burukkah atau Baikkah, aku yakin semua bisa menjadi pelajaran hidup bagi orang lain.

Btw, aku akan terus menulis sekuat dan semampuku merangkai kata. Karena aku yakin terlahir untuk menjadi penulis. Darahku adalah deretan kata-kata yang mengalir lewat ketikan di atas keyboard yang kemudian dapat Bapak/Ibu, Saudara/i baca di blog ini. Energiku hanya cinta yang telah Tuhan anugerahkan dalam jiwaku. Buat semuanya, terima kasih telah menjadi pembaca tulisan-tulisanku… Makasi banyak… Hiks….:(