Rindu Kembali Jadi Orang Normal


Hari ini tak ada trayek kunjungan lebaran. Baju hari raya sudah bertumpuk di kain kotor. Tak terbiasa dengan laundry-laundryan akupun menguatkan diri untuk mencuci satu baskom pakaian meski Dokter Nurul dah ingatin untuk ngak angkat yang berat-berat dulu. Tapi kalau ngak dicuci alamat aku akan kehabisan pakaian untuk dikenakan. Terpaksalah, sistem cuci kilat dan membagi pakaian yang setumpuk itu dalam 2 kali angkat untuk dijemur yang kupakai.

Siang ini terasa sepi selepas Da Gusman, teman satu angkatan asrama yang sekarang kerja di Samsung, meninggalkan asrama.  Ya, jam 10 tadi Da Gus datang ke asrama bersama dengan istrinya yang asli Jogja. Banyak cerita nostagia yang kembali dibuka. Banyak cerita yang mengundang tawa. Semua bercampur dalam kebersamaan dan kekaguman. Da Gusman yang dulu  begitu sederhana dengan mengayuh sepeda ke kampus UGM sampai malam untuk kuliah, sekarang sudah berubah menjadi pria dewasa dengan status yang mentereng. Dapat istri cantik dan kerja mapan di PT. Samsung Cikarang Jakarta.

Hari ini aku tersadarkan oleh komentar Preg (teman satu kelas pas SMA dulu) yang mengingatkan “kegilaanku” membuat sebuah pesan di Wall facebook E*** beberapa waktu yang lalu. “Aduh Gun, sungguh tak disangka lakuin hal kayak gitu… Kan bisa lewat pesan aja, ngak harus di wall dia… Apalagi Gun dikenal sebagai ustadz dulu pas SMA, tambah juga E*** cewek pendiam di SMA…”, begitu komentar Preg tentang sepak terjangku di facebook yang dianggapnya sudah di luar batas.

Tapi begitulah aku kalau lagi jatuh cinta. Ekspos berlebihan kadang kulakukan untuk menunjukkan rasa sayang. Publikasi yang tak semestinya, seringkali kutampilkan sebagai tanda keseriusan untuk menjalin sebuah hubungan. Jika dilihat oleh orang lain, tampaklah “rusaknya tabiat dan akal sehatku”.

Tak hanya itu saja, aku masih teringat-teringat dengan kata-kata yang kuucapkan di hadapan Uda Arsinam kemarin siang dan Mbak Tiar (Istri Da Gusman) barusan. Kata-kata aneh yang seharusnya tak kuucapkan. “Bukankah orang akan dinilai dari caranya berbicara???”, begitu kata Andri (teman satu angkatan juga di asrama) menginggatkanku.

Ah, aku memang semakin jauh dari tata krama dan akhlak yang baik. Aku larut dengan kegilaanku sendiri. Aku terlampau frustasi dengan kegagalan demi kegagalan yang ku temui. Hingga aku terlalu mudah untuk mengekspresikan semua kegundahan jiwa yang seharusnya tak kutulis dan mengucapkan kata-kata tak terhormat lagi menyakitkan hati orang lain.

Ya Tuhan, apakah memang aku sudah gila??? Hingga aku tak punya lagi arah dan rambu-rambu yang bisa menjaga etika??? Ya Tuhan, apakah aku sudah berubah menjadi Bajingan?? Jauh dari stigma agamis yang melekat dalam diriku selama ini??? Aku tak tahu Tuhan…

Namun, jika Engkau melihat diriku sudah jauh dari-Mu, sudah jauh dari aturan-aturan-MU, sudah menganggu hamba-hamba-Mu, aku mohon pada-Mu Ya Tuhan, sadarkanlah diriku. Aku juga tak mengerti kenapa diriku seperti ini. Aku mungkin tersesat dalam pikiran-pikiran liar yang tak terkontrol. Aku mungkin tersesat karena telah jauh dari jalan-Mu. Tapi jangan biarkan aku terus menjadi gila seperti ini. Aku masih ingin hidup normal seperti yang lainnya. Aku masih ingin mendapatkan kasih sayang dari hamba-hamba-Mu yang dinaungi cinta dan kelembutan… Tuhan, aku ingin kembali pada-Mu. Bertaubat untuk hidup di jalan-Mu. Ya Allah, kabulkanlah permintaanku…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s