Pagi ini, aku telah duduk lagi di meja komputer. Ditemani nyanyian Kak Siti Nurhaliza, Mandy Moore dan Celine Dion. Di luar sudah terang, meski awan halangi mentari ntuk bersinar terang. Lelah kemarin malam setelah 3 rute panjang Tur Lebaran 1431 H bersama teman-teman asrama dan teman-teman asrama putri yang ditemani gerimis hujan, sudah jua hilang.

Bermula dari Rumah Mami Quddus, sesepuh orang Minang di Jogja yang sudah datang ke Jogjakarta pada tahun 1950 dan turut menjadi founding mothers asrama yang kutempati sampai saat ini. Saat itu, Mami datang ke Jogja bersama suaminya dan sempat kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia yang memang berdiri lebih dulu dari UGM. Tapi sayang Mami tidak sampai menyelesaikan kuliahnya karena memilih fokus untuk mengasuh anak-anaknya yang masih kecil kala itu.

Kunjungan ke rumah Mami saat lebaran adalah wajib a’in bagi setiap anak asrama yang ngak mudik. Selain sebagai pendiri asrama, Mami juga tempat kami berkeluh-kesah dan curhat tentang persoalan asrama. Karena wibawa Mami-lah, orang-orang Minang Jogja yang lain tak berani mengusik asrama. Dan yang pasti, sedih kami terobati karena Mami selalu menyediakan masakan Minang yang bisa kami santap sampai puas. Kemarin, menu spesial yang dipersiapkan Mami adalah LAMANG TAPAI plus Kue Coklat and Es Cream…

Setelah sholat Dzuhur berjama’ah di rumah Mami dengan Imam, Pak Tua Rizal yang lulusan pesantren, tur Lebaran dilanjutkan ke Rumah Da Arsinam Rasyid, dosen Arsitek Akademi Arsitektur YKPN. Da Arsinam datang ke Jogja pada tahun 1961, dua tahun lebih dulu dari Prof. Rusdi Lamsuddin Ketua Yayasan Baringin, Yayasan yang mengelola asrama yang kutempati (Merapi Singgalang dan Bundi Kanduang. Sama dengan Da Rusdi, Da Arsinam juga duduk di kepengurusan Yayasan Baringin. Karena kompetensi beliau di bidang Arsitektur, maka Da Arsinam adalah tempat curhat anak-anak kalau ada fasilitas dan bangunan asrama yang rusak/bermasalah. Lama juga kami di rumah beliau karena harus menunggu hujan reda. Eiiit tunggu dulu, ada yang lupa. Di rumah Arsinam, kami disuguhi bakso telor yang klop dengan suasana hujan deras kala itu.

Di rumah Mami dan Da Arsinam, teman-teman asrama sempat berkilas balik mendengarkan cerita beliau-beliau tentang perjalanan asrama, sejak didirikan pada masa Revolusi mempertahankan kemerdekan sampai hari ini. Paling tidak informasi-informasi dari sesepuh asrama itu bisa menjadi modal awal atas keinginanku bersama teman-teman untuk membuat buku “Sejarah Asrama Sumatera Barat ‘Merapi Singgalang’ dan ‘Bundo Kanduang’ Yogyakarta”.

Selepas hujan reda sekitar jam 14.30, rombongan Tur Lebaran Asrama berlanjut ke arah Barat Jogja. Tepatnya di Pedes Sedayu Bantul. Bertemu dengan Uni Susi, tante-nya Tomi -teman satu angkatanku di asrama yang sekarang sudah kerja di Perkebunan Sawit di Kalimantan. Ni Susi yang riuh sebagaimana tabiat Ibu Guru SD kebanyakan, membuat anak-anak asrama sering terbuat terpingkal-pingkal karena cerita-cerita lucu beliau. Disuguhi rendang dan gulai jariang alias jengkol membuat perjuangan menerobos hujan tanpa mantel sirna seketika… He2.. He2…

Setelah Magrib barulah kami memacu motor ke asrama. Sama seperti keberangkatan, hujan masih sedia menemani perjalanan kami. Persis iqomah Isya, aku berlabuh di asrama. Hingga bisa juga sholat jama’ah di Masjid meski dengan cara yang aneh karena Bu Dokter Daru bilang aku ngak boleh sujud. Sebenarnya, sama Bu Dokter yang baik itu aku juga ngak boleh bawa motor. Tapi karena memang yang kondisi memaksa, akhirnya aku nekat juga bawa motor. Maafkan aku ya bu Dokter…:) he2..he2..:) Mudah-mudahan ngak berefek pada fase pemulihan mataku… Amien…

Cerita beranjak pada hari sebelumnya, hari pertama lebaran. Selepas sholat ‘Ied dengan sedikit insiden karena speaker Imam ngak bunyi hingga banyak jama’ah yang binggung melakukan gerakan, Tur Lebaran-pun telah dimulai. Bermula dari Rumah Da Aswir yang persis di depan asrama. Berlanjut ke Asrama Putri di Bintaran. Balik lagi ke Karangwaru untuk menghadiri acara Ramah Tamah warga RW 13 Karangwaru. Terus berputar ke rumah Yono – pensiunan Pertamina Riau – yang memilih menghabiskan masa-masa pensiun di Jogja. Setelah Jum’at yang hanya dihadiri tak sampai 100 orang jama’ah tur dilanjutkan ke Rumah Da Ut -alumni asrama yang 3 anak perempuannya mengiurkan mata anak asrama- he2.. he2.. , terus ke rumah Da Adam  – alumni asrama yang jadi Dosen Sejarah di Unand.  Di rumah Da Adam selain disungguhi makan sore, kamipun membawa oleh-oleh buku karangan Da Adam terbitan Insist Press Jogja. Da Adam memang aktif menulis buku, terutama yang berkaitan dengan tema-tema konflik sosial.

Obrolan dengan Da Adam berlanjut sampai di asrama, karena ketika mau balik ke asrama beliau juga ikut bersama kami. Dari bahasan fenomena orang-orang kaya yang memasukkan anaknya ke fakultas kedokteran dengan biaya ratusan juga. Padahal kemampuan anaknya tak capable buat masuk fakultas favourite itu. Da Adam bercerita, seringkali fakultas Kedokteran Unand dibawakan mobil mewah oleh Wali calon mahasiswa, sebagai “pelicin” agar anaknya bisa masuk fakultas Kedokteran. Tapi untung saja sang Dekan punya idealisme, hingga dengan tegas menerima pemberian “haram” itu.

Sehabis Magrib, Da Adam-pun pulang. Sementara, akupun merancang jadwal makan malam untuk teman-teman asrama. Maka kutelpon-lah Da Arnen. Kebetulan istri beliau mengangkat. Belum sempat menyampaikan maksud hati, eh ternyata Ibu itu dah nawarin, “Gun, pai barayo lah ka rumah”… He2.. He2.. Pucuk dicinta ulampun tiba. Selesai Isya, akupun langsung mengkondisikan anggota untuk siap-siap berjalan ke rumah Da Arnen yang hanya beberapa meter dari asrama. Sebagaimana biasa, makan di rumah Da Arnen pasti tak boleh dilewatkan tanpa pembicaraan mengenai adat. Maklumlah Da Arnen adalah Datuak di kampungnya dan punya koleksi buku adat yang lumayan banyak. Selain itu beliau juga aktif di Gebu Minang, organisasi urang rantau yang dibentuk pada saat zaman Azwar Anas jadi Gubenur Sumbar. Kadang nyerempet-nyerempet juga masalah pemilihan pasangan, mau nikah sama orang Padang atau non Padang?

Ya, begitulah sedikit cerita tentang Tur Lebaran-ku bersama teman-teman asrama pada lebaran keempat tahun di Jogja. Tak ada tangis, karena dari pagi sampai malam sudah padat dengan jadwal kunjungan. Di trip terakhir setiap malam selalu berakhir dengan lelah. Hingga langsung terlelap di kasur tanpa ada waktu bermenung.

Gitu dulu ya cerita dari saya… Melaporkan langsung dari Jogja… Mat Lebaran aja ya semua…:)