Barusan saja engkau menelponku. Bangunkan aku nan tertidur karena kecapekan selepas Magrib tadi. Suaramu masih lembut, masih ramah, seperti 4 hari yang lalu ketika engkau memberikan keputusan itu.

Hanya aku merasa tak enak hati menganggumu dengan cara seperti ini. Aku selalu ingin menuliskan setiap kisah yang berkesan di hati di blog ini. Menceritakan gelisah dan gembiraku. Setelah keputusanmu kemarin, aku takut engkau akan terdzolimi oleh curhatanku yang bisa saja membuat langkahmu untuk menjalin hubungan dengan pemuda yang lebih baik dariku jadi terhambat.

Kalau diriku, tak usah juga engkau risaukan. Aku sudah terbiasa kecewa karena cinta. Meskipun ketika mencintai seseorang aku membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun agar bisa melupakan. Tapi itu tak masalah. Akupun tak khawatir apakah setelah melabuhkan hati kepadamu masih bisa dicintai gadis lain. Karena aku sudah menyerahkan masa depanku pada Allah. Biarkanlah Allah yang memilihkan sosok terbaik untukku.

Kalaupun cibiran menerpa diri karena perjuangan mengharapkan cinta berakhir dengan kehinaan, akupun rela menerima. Asalkan aku tak menyisakan beban berat di hatimu. Asalkan tiada tersisa sakit atas cinta yang kupintakan beberapa waktu ini kepadamu.

Setelah ini aku akan pergi jauh. Membawa nasibku yang entah kemana akan berlabuh. Aku tak ingin putus asa kecewa karena cinta. Aku ingin terus hidup dengan senyuman seraya berharap engkaupun bisa melanjutkan hari dengan senyuman pula. Karena cinta ini lahir dari nurani. Yang sejak semula telah berbalut dengan keikhlasan. Terangkai dengan kelapangan hati menerima apapun jawaban yang akan engkau diberikan.

Cinta memang tak harus memiliki. Namun, hadirmu akhir-akhir ini telah jadikan hari-hariku begitu indah. Masih banyak cita dan harapan yang akan kita tuju. Tentu kita akan saling mendo’akan untuk maju. Karena persahabatan akan tetap terpatri di hatiku, karena engkau adalah sahabat yang telah menemaniku sejak kita masih belia dulu.

Mudah-mudahan kita akan menemukan cinta sejati kita. Menemukan jalan hidup kita. Meski berbeda, tapi kita masih tetap saling menyapa. Karena aku pergi darimu dengan membawa cinta, membawa semangat untuk berubah lebih baik lagi dari saat ini. Kita berpisah tanpa menyisakan dendam. Karena kita memang berusaha mencari persamaan atas dasar keikhlasan.

Selamat tidur ya Sa. Semoga esok menantimu dengan senyuman mentari pagi. Selamat jalan, dikau yang pernah bertahta di hatiku…