Kupaksakan menggerakkan jemari menekan tut keyboard meski mata kiriku belum sepenuhnya sembuh dan tangan kiriku masih nyeri karena bekas tusukkan  infus selama 4 hari. Tadi siang setelah diperiksa sama Prof. Suhardjo, Guru Besar Penyakit Mata Universitas Gadjah Mada yang memimpin operasi katarak traumatikku hari Kamis (2 September 2010) yang lalu, akhirnya aku diizinkan pulang. Kondisi organ mataku normal, meski masih menyisakan bekas merah bekas suntikkan bius saat operasi. Selaput putih yang menutupi lensa mataku telah hilang, walaupun fungsi penglihatan memang tak bisa dipulihkan lagi. Tapi aku tetap bersyukur, karena operasi-ku lancar-lancar saja dan mata kananku masih berfungsi normal tanpa harus memakai kacamata minus.

Aku baru masuk rumah sakit baru jam 17.00 (1 September 2010) karena harus mengejar tes wawancara terakhir di PT. Insan Madani sebagai Redaktur Media Online. Padahal jadwal sebenarnya jam 13.00. Untung saja dokter sama perawat di Bangsal Dahlia RS. Sardjito berbaik hati mengizinkanku untuk izin melewati wawancara kerja yang baru selesai jam 15.30. Selepas wawancara, sempat juga aku menelpon Qusthan, adik kelas di Filsafat UGM yang sekarang mengadu nasib di Jakarta. Banyak cerita yang kami obrolkan dari masalah kerja hingga rencana migrasi dari blog ke website berbayar.

Lewat tulisan ini aku ingin mengucapkan ribuan terima kepada dr. Daruwati dan dr. Nurul, seluruh dokter mata Rs. Sardjito, para perawat bangsal mata, 2 dokter muda asal Malaysia (Chen and Nurul) yang telah menerimaku begitu ramah sejak pemeriksaan awal di Poliklinik Mata Rs. Sardjito sampai kepulangan tadi siang. Terima kasih tak terkira kepada teman-teman asrama Mersi specially teman-teman angkatan 2002 (Andri, Irfan, dan Ilwan) yang telah menjagaku siang-malam terutama saat kondisi kritisku tak bisa melihat selama sehari sehingga harus dibimbing saat makan dan ke kamar mandi. Terima kasih juga kusampaikan kepada adik-adik Asrama Bundo Kanduang  dan adik-adik IMM (Mas Zulfi dan Irfa’) yang telah menjenggukku ketika dirawat di rumah sakit. Kepada Da Iqbal, Pak Nusyirwan, Luluk, Gitra dan seluruh teman-teman yang telah mendo’akan kelancaran operasiku. Semua kebaikan teman-teman, Bapak/Ibu sekalian diberikan pahala terbaik dari Allah subhanuwata’ala… Amien…

Terima kasih tak terhingga kuucapkan kepada Bapak dan Ibu yang telah mendo’akan kesembuhanku dari kampung halaman, hingga telah bersusah payah mencari dana buat biaya operasiku yang memakan biaya Rp. 7.000.000 jutaan. Terima kasih juga buat Elsa Fitria, sahabat baik yang menjadi penyemangatku sebelum dan pasca operasi. Lewat suara indahnyalah aku bisa menahan sakit karena nyeri mata yang luka dan suntikkan obat yang  terasa perih. Makasi buat teleponnya ya Sa…:)

Ya Allah, terima kasih atas semua kasih sayang-Mu kepadaku. Terima kasih atas sahabat-sabahat terbaik yang begitu sayang kepadaku. Terima atas orang-orang baik yang telah memberikan aku semangat menjalani hidup. Terima kasih atas atas semua-nya Ya Allah… Hanya airmata yang mampu kutumpahkan atas sebagai syukur atas semua ini… Astaghfirullah… Alhamdulillah….:)

Kuputar lagu sendu dari Pak Gamawan Fauzi “Sibunian Bukik Sambuang”, sebuah lagu pilu yang terinspirasi setelah melihat tersesat di hutan Kabupaten Solok saat napak tilas perjuangan pahlawan sewaktu beliau masih menjabat Bupati Solok. Paling tidak bisa sedikit mengobati rasa rinduku pada kampung halaman dan kesunyian di kamarku ini… Selamat malam buat semua…..