Kita adalah umat terakhir di akhir zaman. Namun, Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk menjadi umat pertama yang akan memasuki sorga

Setelah 3 hari absen, akhirnya malam ini aku bisa sholat Tarawih lagi di Masjid Kampus UGM. Hawa dingin Jogja yang sejak tadi siang diguyur tak menyurutkan langkahku, karena ustadz Ridwan Hamidi, Lc., dijadwalkan mengisi ceramah. Tentu aku tak akan melewati mutiara ilmu yang selalu baru dari ustadz lulusan Universitas Madinah yang teramat kukagumi itu.

Suara lembut ustadz Ridwan kembali membuatku tercenung. Uraian Al Qur’an dan Hadist yang beliau bawakan hadirkan nuansa spiritual yang dalam memasuki relung-relung hatiku. Bangkitkan semangat beribadah, mengisi hari-hari terakhir Ramadhan tahun ini.

Kata ustadz, kita adalah umat terakhir yang diutus Allah di akhir zaman dengan berbagai macam fitnah. Umat yang hanya berumur pendek tak sampai 950 tahun seperti umur manusia yang hidup pada zaman nabi Nuh. Namun, Allah memuliakan kita lewat kesempatan memasuki surga lebih awal dibandingkan umat-umat terdahulu. Meski hanya berusia singkat, tapi Allah memberikan peluang-peluang meraih surga lewat pelipatgandaan amal sholeh dan kehadiran malam lailatul qadr yang kemuliannya melebihi 1000 malam.

Tentu kesempatan berharga itu hanya diberikan kepada orang-orang yang mau mengambilnya. Orang-orang yang menjalani hidup dengan semangat fastabiqul khairat.

“Dua tahun yang lalu, pemerintah Saudi Arabia ingin membebaskan 30 hektar lahar di sekitar Masjidil Haram agar dapat menampung jama’ah lebih banyak lagi. Tidak tanggung-tanggung, sebagai kompensasi pembebasan tanah dan bangunan, pemerintah Saudi memberikan ganti rugi sekitar 970 juta – satu miliyar per meter persegi kepada pemilik lahan yang terkena imbas perluasan. Angka yang sangat fantastis.

Bukannya mengambil kesempatan untuk mendapatkan kompensasi yang teramat besar itu, para pemilik lahan merespon dengan cara yang di luar logika. Mereka rela mewakafkan tanah dan bangunannya tanpa meminta ganti satu riyal-pun. Tak sampai di situ, Bin Ladin Cooperation yang menjadi kontraktor proyek perluasan Masjidil Haram itu juga tak mau ketinggalan. Mereka hanya meminta satu riyal per meter atas kerja yang dilakukan.”

Kenapa bisa begitu??? Kalaulah bukan karena semangat fastabiqul khairat, dan harapan mendapatkan balasan lebih baik dari Allah, tentu semua itu tidak akan terjadi.

Malam ini aku gembira sekali. Rasa rindu mendengarkan ceramah ustadz Ridwan telah terobati. Paling tidak memberikan kekuatan spiritual bagiku untuk melewati hari-hari esok yang lebih berat dari hari ini.

Malam ini adalah malam terakhir aku di asrama. Besok, aku harus sudah stay di rumah sakit untuk persiapan operasi mata hari Kamis (2 September 2010). Dilanjutkan masa pemulihan selama 2 atau 3 hari. Mungkin hari Ahad atau hari Senin minggu depan aku bisa pulang lagi ke asrama.

Namun, aku masih binggung dengan tes wawancara kerja yang diundur jadi jam satu siang besok. Apakah dr. Daru mau memberikan izin keluar? Kalau tidak diperbolehkan, ya apa boleh buat. Bagiku saat ini yang terpenting adalah bisa operasi mata. Mudah-mudahan saja Insan Madani masih memberikan kesempatan kepadaku untuk melakoni wawancara minggu depan.

Mulai detik ini, aku takkan melepaskan malam-malam terakhir Ramadhan tanpa membaca Al Qur’an. Mulai detik ini, takkan kubiarkan nafsu mengalahkanku ntuk beribadah. Mulai detik ini, aku akan menyerahkan semua pada Allah. Apapun yang terjadi, aku akan menjalani sekuat hati…